HUBUNGAN INDONESIA – VANUATU DALAM PERMASALAHAN PAPUA BARAT (OPM) 2011-2014
HUBUNGAN
INDONESIA – VANUATU DALAM PERMASALAHAN PAPUA BARAT (OPM)
2011-2014
Abstrak
Hubungan
bilateral hanya melibatkan dua negara, karena bi artinya adalah dua maka bilateral hanya melibatkan dua negara. Hubungan
bilateraladalah suatu hubungan politik, budaya dan ekonomi di antara 2 Negara
Kebanyakan
hubungan internasional dilakukan secara bilateral. Misalnya perjanjian
politik-ekonomi, pertukaran tumpang, dan kunjungan antar negara. Alternatif
dari hubungan bilateral adalah hubungan multilateral; yang melibatkan banyak
negara, dan unilateral; ketika satu negara berlaku semaunya sendiri.
Hubungan Indonesia dan Vanuatu
Dalam beberapa tahun terakhir,
hubungan antara Indonesia-Vanuatu tidak bisa dikatakan benar-benar baik.
Beberapa kali Vanuatu mencampuri urusan dalam negeri Indonesia terutama
permasalahan Papua. Para politikus Vanuatu seringkali menggunakan isu Papua,
dengan mendukung salah satu kelompok faksi politik OPM, yaitu WPNCL (West Papua
National Council Liberation) untuk mendapat dukungan politik lokal. Hal ini
sebenarnya diakui sendiri oleh mantan PM Vanuatu, yang saat ini menjabat
sebagai Menteri Luar Negeri Vanuatu, Sato Kilman. Ia mengatakan, seperti yang
dilansir oleh Vanuatu Daily Post pada 22 Mei 2012 yang antara lain menyebutkan:
“Di Vanutu, masalah Papua telah dipolitisir dan digunakan oleh berbagai partai
politik dan gerakan politik bukan untuk kepentingan orang Papua tetapi lebih
untuk pemilu dan propaganda politik”.
Terhitung
sejak PM Sato Kilman mundur, para politisi Vanuatu secara konsisten mendukung
pergerakan WPNCL dalam isu Papua. Moana Carcasses Kalosil, mantan PM Vanuatu
yang menggantikan Sato Kilman mendukung pemisahan diri Papua dari Indonesia.
Moana, yang juga seorang keturunan Polinesia, ras minoritas di Vanuatu,
menggunakan isu Papua untuk mendapatkan dukungan rakyatnya yang mayoritas satu
ras dengan penduduk asli Papua, ras Melanesia. Sampai akhirnya Moana
dilengserkan dan digantikan oleh PM Vanuatu saat ini, Joe Natuman. Sebagai
anggota dari Partai Vanuaku Pati, Joe Natuman secara tradisional mendukung
pemisahan Papua dari Indonesia. Ideologi Vanuaku Pati yang cenderung
berkonsep Melanesia Socialism, yaitu penyatuan negara-negara Ras
Melanisia dengan Vanuatu sebagai pemimpinnya merupakan alasan utama Joe Natuman
mendukung pemisahan Papua dari Indonesia.
Hal
yang menarik adalah, PM Joe Natuman
menempatkan Sato Kilman sebagai Menteri Luar Negeri dalam kabinetnya. Hal ini
menarik karena Sato Kilman, ketika menjadi Perdana Menteri Vanuatu, sangat
tidak mendukng politisasi masalah Papua di negaranya. Sedangan Joe Natuman,
dengan partainya Vanuaku Pati, sering menggemborkan konsep pemersatuan Ras
Melanesia, dengan menggunakan isu Papua dan Kaledonia Baru. Menarik untuk
melihat, kemana kebijakan pemerintahan Vanautu terkait hubungan dengan
Indonesia di masa Joe Natuman ini. Dan arah kebijakan pun mulai terlihat,
ketika Sato Kilman, beberapa hari lalu mengatakan bahwa pemerintah Vanuatu
berencana membuka kantor Kedutaan Besar di Jakarta.
Pemerintah
Vanuatu merencanakan pembatalan persetujuan pertahanan dengan Indonesia dan
mendukung kemerdekaan bagi provinsi Papua. Langkah ini adalah satu dari rencana
lainnya yang dinyatakan dalam rencana 100 hari pemerintahan baru yang dipimpin
oleh perdana menteri Moana Carcasses.
Pemerintah
Vanuatu sebelumnya memiliki hubungan hangat dengan Indonesia, dengan bantuan
pelatihan dan pemberian perlengkapan bagi paramiliter dan polisi yang didapat
dari Indonesia. Hubungan tersebut menyebabkan protes di Vanuatu, yang telah
sejak lama merupakan tempat berlindung dari pengungsi dari Papua.
Moana
Carcasses juga telah menjanjikan dukungan bagi Organisasi Papua Merdeka (OPM)
untuk menjadi anggota penuh organisasi antar pemerintah Melanesian Spearhead
Group. Beberapa rencana 100 hari lainnya termasuk pembentukan kementerian
khusus untuk Perubahan Iklim, penanganan penyalahgunaan dana negara oleh
pemimpin politik, dan audit atas skema yang membuka jalan bagi penanam saham
dari Cina untuk memegang kewarga negaraan Vanuatu. Moana Carcasses menggantikan
Sato Kilman, yang mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada bulan Mei
lalu. Dirinya adalah warga negara naturalisasi pertama yang menjadi perdana
menteri sejak kemerdekaan Vanuatu 32 tahun yang lalu dan juga ketua Partai
Hijau Vanuatu.
Beberapa
media juga mengabarkan bagaimana keretakan hubungan Indonesia dengan Vanuatu,
beberapa media tersebut mengungkapkan bahwa Vanuatu bukan hanya menuntut kemerdekaan
Papua Barat, namun semua negara di Dunia.
Dalam
dalam Viva news dunia misalkan, yang berjudul “Vanuatu Akui Otoritas RI di Papua, Tapi..”. Bertanggal Selasa, 20
Desember 2011, 16:05:
Pada
2010, Vanuatu mendukung resolusi mendukung kemerdekaan Papua dari Indonesia.
VIVAnews - Negara kepulauan Vanuatu di Samudera Pasifik telah sejak lama vokal
mendukung gerakan Organisasi Papua Merdeka di Papua Barat. Kendati demikian,
pemerintah Vanuatu menyatakan menghargai kedaulatan NKRI di Papua.
Hal
ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Vanuatu Alfred Carlot saat bertemu
dengan Menlu RI Marty Natalegawa di Jakarta, Selasa 20 Desember 2011.
Menurutnya, Vanuatu tidak hanya mendukung kemerdekaan di kawasan, tapi juga
kemerdekaan di seluruh dunia.
Untuk
masalah Papua, Carlot menegaskan, Vanuatu mengakui kedaulatan Indonesia. Carlot
juga memuji otonomi khusus yang diberlakukan pemerintah Indonesia pada Papua
dan Papua Barat sejak tahun 2007 lalu. Namun, Vanuatu akan membantu mendorong
pelaksanaan otonomi yang lebih baik di tersebut.
"Kami
mengakui otoritas Indonesia di Papua. Tapi, kami mendukung adanya kesepakatan
otonomi yang lebih luas dari pemerintah Indonesia," kata Carlot.
Dukungan
Vanuatu atas kemerdekaan Papua sebenarnya didasarkan pada solidaritas masyarakat
Melanesia di kawasan itu. Dukungan ini diwujudkan dalam dukungan Vanuatu
terhadap resolusi mendukung kemerdekaan Papua di KTT Melanesian Spearhead Group
(MSG), 2010 silam. MSG adalah organisasi antar pemerintah yang terdiri dari
empat negara Melanesia, yaitu Fiji, Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan
Vanuatu.
Dalam
resolusi tersebut, Vanuatu mendukung kemerdekaan Papua Barat, mendukung gugus
tugas baru urusan Papua Barat di MSG dan meratifikasi konvensi PBB soal status
pengungsi di Papua Barat.
Namun
pemerintah Vanuatu dianggap memiliki standar ganda oleh Vanuatu Free West Papua
Association. Dalam sidang Dewan Umum PBB 2011, isu Papua Barat sama sekali
tidak diangkat oleh Perdana Menteri Sato Kilman. Dalam pidatonya, Kilman hanya
menyatakan tidak mengakui French Polynesia dan Kaledonia Baru sebagai bagian
dari Perancis.
Kendati
mendukung kemerdekaan Papua Barat, tapi Carlot mengatakan hal ini tidak akan
mengganggu hubungan kerja sama dengan Indonesia yang baru saja dirintis.
"Kami memang vokal terkait Papua, tapi kami (Indonesia-Vanuatu) akan tetap
menjadi sahabat," kata Carlot.
Pada
2012, dalam media itoday, menyebutkan, Kondisi Papua yang tidak kondusif
mendapat perhatian secara serius dari para politisi Australia, negara kawasan
Pasifik dan Amerika Serikat.
Berdasarkan radioaustralia.net menyebutkan, anggota Parlemen Australia dan
negara-negara kawasan Pasifik mendukung kemerdekaan Papua. Beberapa perwakilan
negara di antaranya Vanuatu, Selandia Baru, Papua New Guinea dan
Australia telah diundang bergabung dalam International
Parliamentarians for West Papua.
Sementara
itu, Senator Partai Hijau Australia Richard Di Natale mengatakan pihaknya
mengundang menteri-menteri di Australia dan seluruh Pasifik untuk ikut
bergabung dalam forumt tersebut.
Ia
mengatakan, lebih menginginkan banyak orang ikut bergabung dan berikrar bahwa
rakyat Papua Barat berhak untuk menentukan nasib sendiri.
Vanuatu
(Vanuatu posting harian, 5 Desember 2012)– pemerintah Vanuatu berikutnya, jika
mosi tidak percaya terhadap PM Sato Kilman berhasil di parlemen, akan bekerja
lebih dengan orang-orang Papua Barat dan Vanuatu bisa memotong hubungan
diplomatik dengan Indonesia.
Itu
adalah pesan pejabat dan simpatisan Papua Barat dikatakan ketika bendera
bintang kejora dikibarkan di Vete's markas di Port Vila untuk
memperingati kemerdekaan Papua Barat sejak 1961.
Mantan
kepala negara Mr Kalkot Matas Kelekele, Presiden Melanesia partai
progresif (MPP) dan mantan Perdana Menteri Vanuatu, Barak
Sope, Presidendari Graon dan Jastis Partai (GJP) MP Ralph Regenvanu,
mantan Menteri luar negeri MP Joe Natuman, MPP Malekula MP Sai Esmon, Dr John
Ondawame, Papua Barat blak-blakan pemimpin Andy Ayamiseba, dan anggota dari
hirarki Vete hadir semua pada tanggal 1 Desember.
Mantan Presiden Matas
Kelekele yang dilaporkan mengatakan kepada Presiden Indonesia ia
masih berdoa untuk orang Melanesia di Papua Barat mengatakan "kolonisasi
oleh orang Indonesia kepada Papua Barat dosa."
Pada
tahun 2013, hubunngan Indonesia dengan Vanuatu semakin tegang, menyusul pernyataan
mantan PM Vanuatu yang menolak hadiah dari Indonesia. Seperti yang disebutkan
dalam media Suara Pembaharuan. Mantan Perdana Menteri dan anggota parlemen
Vanuatu, Barack Sope, menuntut pemerintah negara tersebut untuk menolak hadiah
seribu seragam polisi dari pemerintah Indonesia.
Hadiah
tersebut diberikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Vanuatu, Nadjib Riphat
Kesoema, dalam pertemuan pertamanya dengan Presiden Lolu Johnson
Abil. Vanuatu selama ini sering menjadi tempat mengungsi oleh banyak warga
Provinsi Papua Barat. Barack Sope mengatakan kepada program Radio bahwa hadiah
ini adalah usaha pemerintah Indonesia untuk mempengaruhi warga Vanuatu, yang
disebut Ni-Van, dalam pendapat mereka mengenai provinsi
tersebut. "Banyak darah sudah ditumpahkan di Papua Barat yang
ditumpahkan oleh militer Indonesia," katanya. "Bagaimana
Indonesia bisa menolong warga Melanesia di Vanuatu dan tempat-tempat lainnya,
kalau mereka juga membunuh warga Melanesia di Papua Barat. Kami tidak bisa
terima hal itu,” katanya.
"Mereka
harus memperbaiki situasi Hak Asasi Manusia, mereka harus memperbaiki situasi
kolonialisasi di Papua Barat, yang mereka belum lakukan, dan tolak untuk
lakukan. Yang kami lakukan di Vanuatu adalah kemunafikan. Kami bilang satu hal,
tapi bertindak yang lain," lanjutnya.
Hal
tersebut juga diberitakan oleh media Okezone.com, pada hari Rabu 27 Februari
2013. PORT VILA - Mantan Perdana Menteri Vanuatu Barack Sope mendesak
Pemerintah Vanuatu agar menolak hadiah berupa seragam polisi yang diberikan
oleh Pemerintah Indonesia. Hadiah itu diberikan oleh Duta Besar RI Riphat
Kesoema yang baru ditunjuk untuk menjadi utusan Indonesia untuk
Vanuatu. Dubes Riphat yang juga bertugas sebagai Dubes RI untuk Australia,
menyerahkan surat kepercayaannya ke Presiden Vanuatu Lolu Johnson
Abil kemarin. Dubes Riphat juga memberikan Pemerintah Vanuatu sebuah hadiah
berupa seragam polisi. Sope langsung meminta Pemerintah Vanuatu menolak
pemberian hadiah itu. Sope justru menyinggung, hadiah itu simbol yang berkaitan
dengan tragedi berdarah di Papua Barat. "Banyak darah yang sudah
ditumpahkan di Papua Barat dan militer Indonesiabertanggung jawab atas hal
itu," ujar Sope dalam Radio Pasific Beat, Rabu (27/2/2013).
"Bagaimana
bisa Indonesia membantu warga Melanesia di Vanuatu dan wilayah
lainnya, bila mereka juga membunuh warga Melanesia di Papua Barat. Kami tidak
bisa menerima hal itu," tegasnya. Sope menyebut tragedi di Papua Barat
sebagai tragedi pelanggaran HAM. Mantan kepala pemerintahan Vanuatu itu juga
mengatakan bahwa Indonesiaharus menyelesaikan masalah-masalah HAM di Papua
Barat. Secara tidak langsung, Sope menyebut kasus Papua Barat itu sebagai kasus
kolonialisme. Dan Indonesia dinilai enggan mengatasi hal itu.
Babak Baru Hubungan
Indonesia-Vanuatu
Sato
Kilman diundang dalam pertemuan Bali Democracy Forum (BDF) 2014 di Nusa Dua
Bali, yang diadakan tanggal 10-11 Oktober 2014 lalu, dalam kapasitasnya sebagai
Menteri Luar Negeri Vanuatu. Pertemuan tersebut adalah pertama kalinya delegasi
Vanuatu diundang, selama BDF sudah berlangsung sebanyak 7 kali dan meninggalkan
kesan yang mendalam bagi Sato Kilman.
Dalam
pertemuan yang mengusung tema “Evolving Regional Democratic Architecture:
The Challenges of Political Development, Public Participation, and
Socio-Economic Progress in the 21st Century” itu, Sato Kilman menyampaikan
kesannya bahwa ia terkesima dengan pertemuan ini, karena BDF berbicara mengenai
masalah utama di wilayah Pasifik dan Asia serta isu global. Selain itu, para
pemimipin negara yang datang membagikan pengalaman dan perkembangan demokrasi
di negaranya masing-masing. Sato Kilman berpendapat bahwa negaranya, Vanuatu,
akan terus mendukung forum ini karena ingin terus berkontribusi bagi keadaan
sosial ekonomi di Pasifik. Di sela-sela pertemuan BDF tersebut, Sato Kilman juga
mengatakan bahwa pihaknya berencana membuka kantor Kedutaan Besar Republik
Vanuatu di Indonesia, untuk lebih mempererat hubungan diplomatic kedua negara.
Sato mengatakan bahwa Indonesia adalah patner strategis bagi Vanuatu karena
kedua negara berada pada kawasan Asia-Pasifik. Selain itu, Indonesia tengah
mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, maka pemerintah Vanuatu merasa
negara itu harus terlibat dalam sejumlah kerja sama dengan Indonesia.
Keinginan
Sato Kilman untuk membuka Kantor Kedutaan Besar Vanuatu di Indonesia ini, bisa
jadi merupakan sinyal baik perkembangan hubungan Indonesia-Vanuatu menuju ke
arah yang lebih positif, dimana kedua pihak saling menjaga kedaulatan negara
masing-masing.
Implikasinya Terhadap Permasalahan
Papua
Vanuatu,
yang merupakan satu-satunya negara yang terang-terangan mendukung OPM,
khususnya faksi politik kelompok WPNCL memiliki posisi yang sangat unik.
Kondisi perpolitikan di negara ini, mempengaruhi pandangannya terhadap isu
Papua. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa Joe Natuman, PM Vanuatu saat
ini, secara tradisional mendukung pemisahan Papua dari Indonesia karena
ideologi partainya, Vanuaku Pati, yang cenderung mengusung
konsep Melanesia Socialism. Pertanyaannya adalah, mengapa Joe Natuman
memilih Sato Kilman sebagai Menteri Luar Negeri dalam kabinetnya, sedangkan
Sato Kilman sangat berbeda pandangan dengannya? Hal ini sangat terkait dengan
sistem perpolitikan Vanuatu yang sangat rentan.
Vanuatu
adalah negara dengan sistem pemerintahan yang bersifat Demokrasi Parlementer
dengan Perdana Menteri dipilih oleh mayoritas electoral college,
pemerintah Vanuatu dapat dijatuhkan bila mendapat mosi tidak percaya bila
mengeluarkan kebijakan yang tidak populis di mata rakyatnya yang
direpresntatifkan dalam perwakilan di Parlementer. Hal itu terjadi ketika pada
pertengahan 2014 lalu, PM Vanuatu Moana Carcasses Kalosil lengser dari
jabatannya setelah memimpin hanya selama 13 bulan. Sebagai seorang pemimpin
yang berasal dari minoritas (Polinesia) dibandingkan mayoritas rakyat Vanuatu
yang keturunan Malenesia, Moana telah melakukan banyak hal untuk memikat
rakyatnya dalam usaha untuk melanggengkan kekuasaannya, salah satunya adalah
dengan menggunakan isu Papua sebagai salah satu kebijakan luar negerinya.
Setelah dilengserkan, dan digantikan oleh Joe Natuman sebagai Perdana Menteri,
Moana Carcasses mengorganisir kelompok oposisi terhadap pemerintahan Joe
Natuman. Beberapa minggu lalu, atau sekitar hanya 2 bulan setelah pemerintahan
Joe Natuman, Moana Caracasses menghimpun suara untuk menggulingkan Joe Natuman.
Usaha tersebut gagal, karena Moana yang sebelumnya mengklaim sudah mendapat 29
suara dari 52 anggota parlemen ternyata hanya mendapat 21 suara.
Jadi,
bisa disimpulkan bahwa keberhasilan pemerintah Vanuatu menghindari pelengseran
oleh parlemen lewat mosi tidak percaya, sedikit banyak dipengaruhi oleh
pengaruh pemerintah Vanuatu terhadap anggota parlemen. Saya melihat,
keberhasilan kabinet Joe Natuman menghindari upaya pelengseran dari parlemen
sedikit banyak dipengaruhi keberadaan Sato Kilman dalam kabinet mereka.
Pengaruh Sato Kilman terhadap parlemen Vanuatu terlihat ketika masa Sato Kilman
menjadi PM Vanuatu. Ia berhasil mempertahankan pemerintahannya dari upaya
pelengseran selama 2 tahun. Besar kecilnya pengaruh Sato Kilman dalam kabinet
yang dipimpin oleh Joe Natuman saat ini akan terlihat pada komitmen Pemerintah
Vanuatu kepada Indonesia terkait permasalahan Papua. Rencana pertemuan 3
kelompok dari faksi politik OPM, yaitu WPNCL, KNPB (Komite Nasional Papua
Barat) dan NRFPB (Negara Republik Federal Papua Barat) yang disponsori oleh
pemerintah Vanuatu Desember nanti bisa menjadi tolak ukur komitmen pemerintah
Vanuatu untuk menjalin hubungan baik dengan Indonesia seperti yang dikatakan
Sato Kilman. Bila pemerintah Vanuatu tetap mengadakan pertemuan tersebut, maka
komitmen pemerintah Vanuatu tidak layak untuk dipercaya.
Daftar Rujukan
Vanuatu adalah neg lalat, tabok aja lalat itu biar gak ganggu2! Vanuatu uda lama kurang ajar sm RI, neg kecil miskin nan rewel dan sok jago, apa gunanya jalin hub dgn neg lalat. Vanuatu musuh NKRI, tdk perlu kita baik2in mrk! Tolak kedubes mrk di NKRI!
BalasHapus