Makalah Geohistori kota Malang
MALANG DITINJAU DARI SEGI GEOHISTORI PADA TAHUN 1914-2001
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Geohistori
yang dibina oleh Bapak Drs. Slamet
Sujud Purnawan Jati, M.Hum
Oleh:

UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
PRODI
PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN
SEJARAH
Maret
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
Malang
adalah sebuah wilayah yang terletak di sebelah selatan Kota Surabaya. malang
merupakan temppat berdirinya kerajaan Kanjuruhan sekitar abad ke-6 M. Malang
adalah sebuah kota yang berjarak sekitar 90 km arah selatan Surabaya, terletak
pada ketinggian antara 429 - 667 meter diatas permukaan air laut. Berada pada
posisi, garis Bujur Timur (BT) 112O 36’ 14” Sampai dengan 112O
40’ 42” dan Garis Lintang Selatan (LS) 07O 36’ 38” sampai dengan 08O
01’ 57” (Hadi, 1997:10). Malang yang dikelilingi banyak gunung seperti Gunung Arjuno di
sebelah Utara, Gunung Semeru di sebelah Timur,
Gunung Kawi dan
Panderman di sebelah Barat, Gunung Kelud di
sebelah Selatan menjadikan Kota malang sebagai salah satu kota yang sangat
penting bagi peradaban di Indonesia.
Kota
Malang memiliki sejarah panjang tentang peradaban-peradaban yang pernah
dimiliki oleh bangsa Indonesia. Kota Malang yang terletak di wilayah cekungan
telah ada sejak masa purbakala
dan menjadi kawasan pemukiman.
Banyaknya sungai yang
mengalir di sekitar tempat ini membuatnya cocok sebagai kawasan pemukiman.
Wilayah Dinoyo dan Tlogomas diketahui merupakan kawasan pemukiman prasejarah.
Selanjutnya, berbagai prasasti
(misalnya Prasasti Dinoyo),
bangunan percandian dan arca-arca,
bekas-bekas fondasi batu bata,
bekas salurandrainase,
serta berbagai gerabah ditemukan
dari periode akhir Kerajaan Kanjuruhan (abad ke-8 dan
ke-9) juga ditemukan di tempat yang berdekatan.
Lahirnya Kerajaan Kanjuruhan tersebut, oleh para
ahli sejarah dipandang sebagai awal pertumbuhan pusat pemerintahan yang sampai
saat ini, setelah 12 abad berselang, telah berkembang menjadi Kota Malang.
Setelah kerajaan Kanjuruhan, Kerajaan Singasari (
sekitar 1000 tahun setelah Masehi) di daerah Malang, ditemukan satu kerajaan
yang makmur, banyak penduduknya serta tanah-tanah pertanian yang amat subur.
Ketika Islam
menaklukkan Kerajaan Majapahit sekitar
tahun 1400,
Patih Majapahit melarikan diri ke daerah Malang. Ia kemudian mendirikan sebuah
kerajaan Hindu yang merdeka, yang oleh putranya diperjuangkan menjadi satu
kerajaan yang maju. Pusat kerajaan yang terletak di kota Malang sampai saat ini
masih terlihat sisa-sisa bangunan bentengnya yang kokoh bernama Kutobedah di
desa Kutobedah. Adalah Sultan Mataram dari Jawa Tengah yang akhirnya datang
menaklukkan daerah ini pada tahun 1614 setelah mendapat perlawanan yang tangguh
dari penduduk daerah ini.
Seperti halnya kebanyakan kota-kota
lain di Indonesia pada umumnya, Kota Malang
tumbuh dan berkembang setelah adanya administrasi kolonial Hindia Belanda.
Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga
Belanda. Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang, misalnya ''Ijen Boullevard'' dan
kawasan sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda
dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat
tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai. Kawasan
perumahan itu sekarang menjadi monumen hidup dan seringkali dikunjungi oleh
keturunan keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim di sana.
Kota
malang mulai tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial
Belanda, terutama ketika mulai di operasikannya jalur kereta api pada
tahun 1879.
Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin meningkat terutama akan ruang gerak
melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah,
daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan
mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi
perumahan dan industri. Pengembangan
ruang Kota Malang memiliki perbedaan dengan kota-kota lain di pulau
jawa. Perbedaan itu terletak pada keberadaan elemen utama kota tradisional
(Hudiyanto, 2011:88). dari ulasan diatas, maka penulis mengambil judul “Malang
Ditinjau Dari Segi Geohistori Pada Tahun 1914 hingga reformasi”
2. Rumusan
Masalah
Dari
latar belakang penulisan yang telah dikemukakan, maka didapatkan rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana
peran pemerintah kolonial Belanda dalam perencanaan Kota Malang tahun 1914-1942?
2. Bagaimanakah
perkembangan lingkungan geografis Kota Malang tahun 1914 hingga reformasi?
3. Bagaimanakah
lingkungan mempengaruhi identitas Kota Malang?
3. Tujuan
1. Mendeskripsikan peran pemerintah kolonial Belanda dalam
perencanaan Kota Malang tahun 1914-1942
2. Mendeskripsikan perkembangan lingkungan geografis Kota Malang
tahun 1914 hingga reformasi.
3. Mendeskripsikan
lingkungan mempengaruhi identitas Kota Malang.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Peran pemeritah kolonial Belanda dalam
perencanaan Kota Malang tahun 1914-1942
Dalam
perkembangan suatu kota tidak lepas dari peran pemerintahan didalamnya. Seperti
yang telah dikemukakan dalam latar belakang bahwa Malang pada tahun 1914 telah
menjadi Kota Praja, yaitu sebuah kota yang dianggap telah mampu memerintah
kotanya sendiri. Tetapi pada kala itu, Malang belum memiliki walikota dimana
yang seharusnya dimiliki oleh sebuah kota praja. Malang pada tahun 1914 jabatan
walikota untuk sementara dirangkap oleh seorang Asisten Residen (FL. Broekvelt,
kemudian digantikan oleh JJ. Coert). Baru pada tahun 1919 Malang mempunyai
walikota pertama yang bernama HI. Bussemaker yang memerintah tahun 1919-1929.
Setelah terjadinya undang-undang Desentralisasi Kota Malang terus mengalami
perkembangan dan perluasan wilayah. Seperti yang telah disebutkan dalam
Handinoto & Soehargo (1996:41) keadaan Kotamadya (Gemeente) Malang pada
tanggal 1 April 1914 (setelah undang-undang Desentralisasi) sebenarnya cukup
teratur dan baik. Keadaan seperti ini merupakan modal yang bagus bagi
perkembangan kota selanjutnya.
Sarana
dan prasarana Kota Malang pada tahun 1914 bisa masih dibilang sangat minim.
Luas wilayah Malang tahun 1914 adalah 7842 HA dan terus mengalami perluasan
wilayah hingga pada tahun 2001 luas Malang menjadi…… usaha yang dilakukan oleh pihak Kotamadya
dalam melakukan perluasan wilayah dengan membeli tanah-tanah sawah yang
dimiliki secara komunal yang berada ditengah kota, karena untuk melakukan
pengendalian pertumbuhan kota agar Kotamadya dengan mudah dapat mengontrol
perkembangan kota. perencanaan perluasan kota dibantu oleh Ir. Herman Thomas
Karsten. Pihak kotamadya dalam mengatur perluasan kota melakukan suatu rencana
yang disebut dengan Bowplan (rencana perluasan pembangunan kota) yang dilakukan
hingga delapan bagian. Bagian-bagian tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Rencana
Perluasan Pembangunan Kota I (Bowplan I)
Dalam
bowplan I terencana pada tahun 1916 dan terlaksana pada tahun 1917 dengan
perluasan wilayah sebesar 12. 939 M2. Pada bowplan I ini,
direncanakan untuk membangun pemukiman orang Eropa. Kepentingan orang Eropalah
yang dinomor satukan karena pada waktu itu Malang diperintah oleh orang Eropa.
Seperti yang disebutkan oleh Handinoto & Soehargo (1996:65) perluasan
wilayah berlokasi di daerah yang terletak antara Jl. Tjelaket dengan Jl. Rampal
dan berbatasan dengan rel kereta api yang berbatasan dengan rel kereta api yang
memasuki Kota Malang. wilayah tersebut dipenuhi oleh orang Eropa secara cepat
karena memang wilayah yang strategis.
2. Rencana
Perluasan Pembangunan Kota II (Bowplan II)
Bowplan
II yaitu rencana untuk membentuk daerah pusat pemerintahan yang baru, yang
terjadi pada tahun yang terencana pada 26 April 1920 dan terealisasikan pada
tahun 1922 dengan perluasan 15.547 M2 (Handinoto & Soehargo,
1996:65). Pusat kota yang terletak di alun-alun kota dan sekaligus sebagai
pusat pemerintahan yang merupakan ciri dari kota di jawa. Dari pihak Belanda
menginginkan kota yang bercorak barat, sehingga memindahkan pusat pemerintahan
ke alun-alun bunder. Disekitar alun-alun bunder didirikan berbagai bangunan
resmi dan monumental, seperti gedung Kotamadya Malang, Hotel Spleendid, sekolah
HBS/AMS (sekarang SMA Negeri Malang). Alun-alun bunder tersebut berlokasi di
sebelah timur sungai Brantas, dengan demikian sungai brantas terletak di tengah
kota Malang yang dulu sungai brantas menjadi batas Malang dan dijadikan sebagai
landscape Malang.
3. Rencana
Perluasan Pembangunan Kota III (Bowplan III)
Pada
bowplan III dilakukan perencanaan untuk membuat kompleks pemakaman bagi orang Eropa.
Rencana ini dilakukan pada tahun 1920. Perluasan yang dilakukan hingga 3.740 M2.
Lokasi yang dipilih untuk pemakaman ini adalah di daerah Soekoen yang berada di
sebelah tenggara Malang. sebelum dipilihnya soekoen, pernah memilik Bareng
dengan luas 25 HA, kemudian dibatalkan kemudian dipilihnya daerah Lowokwaroe,
tetapi mendapat protes dari masyarakat sekitarnya. Akhirnya dipilihlah daerah
Soekon, karena dipandang cukup luas dan belum terdapat banyak perumahan pada
saat itu. Kompleks pemakaman ini juga digunakan untuk menampung pindahan
kuburan orang Eropa yang berada di Klojenlor yang akibat perluasan kota menjadi
tidak layak lagi digunakan sebagai pemakaman.
4. Rencana
Perluasan Pembangunan Kota IV (Bowplan IV)
Pembangunan
Bowplan ini digunakan difokuskan untuk pembangunan perumahan bagi kelas
menengah kebawah. Perluasan yang dilakukan hingga mencapai 41.401 M2.
Perencanaan ini direncanakan akan
dilakukan antara sungai Brantas dan jalan ke Surabaya yang pada awalnya
merupakan daerah kampung kecil antara daerah Kampung Tjelaket dan Lowokwaru
(Handinoto & Soehargo, 1996:69). Hanya saja pembangunan ini tidak begitu
menonjol sehingga pembangunan hanya terlaksana sebagian.
5. Rencana
Perluasan Pembangunan Kota V (Bowplan V)
Perkembangan
orang Eropa yang cukup pesat mengakibatkan perluasan pada Bowplan I sudah tidak
mencukupi lagi, sehingga dikhawatirkan akan terjadi pembangunan disepanjang
jalan Tjelaket-Lowokwaru. Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah melakukan
pengembangan ke arah barat, dikarenakan letak geografis yang lebih tinggi
sehingga lebih disukai untuk pembangunan perumahan, tapi karena pengembangan
kota ke arah yang lain sudah tertutup. Pada tahun 1924 Belanda merencanakan
untuk memecah keramaian dengan membangun jalan arah Timur-Barat, dimulai dari
stasiun kereta api, Daendels Bouleverd (Kertanegara), memotong kayutangan,
jalan semeru dan berakhir di Smeroe Park (taman ijen) yang sebagian tanahnya sudah
dikuasai oleh swasta NV. Bouwmaatschappij (Cahyono, 2007:136).
6. Rencana
Perluasan Pembangunan Kota VI (Bowplan VI)
Pada
pembangunan bowplan yang ke VI ini dengan luas 220.901 M2 pada tahun 1914-1917
untuk membahas pentingnya pasar dalam perkembangan kota. sejak menjadi kotapradja tahun 1914, Malang
belum memiliki pasar. Hanya terdapat pasar yang dimiliki secara perseorangan
oleh orang Cina. Karsten mengusulkan untuk membangun pasar didaerah tikungan
brantas yang sekarang menjadi pasar bunga. Tetapi hal tersebut gagal diwujudkan
karena letaknya yang sulit dijangkau dan harus melewati jembatan kecil.
Sehingga dari pihak pemerintah mengusulkan untuk mengembangkan pasar didaerah
pecinan. Usulan tersebut ditanggapi baik oleh orang-orang Cina dan Arab dan mereka
memberikan sumbangan sebesar f 20.000 untuk pembangunan pasar. Akhirnya pasar
pecinan tersebut diserahkan kepada kotamadya dan dibangun pada tahun 1920-1924.
Cahyono (2007:108) pada tahun 1930 pasar pecinan sudah tidak lagi dapat
menampung pedagang, untuk itu dipuruskan untuk membuat pasar-pasar kampung.
Pada tahun 1932 dan 1934 dibangun pasar bunulrejo, kebalen, oro-oro dowo,
embong brantas dan lowokwaru sedangkan pasar blimbing dan dinoyo dibangun bulan
janusri 1940.
7. Rencana
Perluasan Pembangunan Kota VII (Bowplan VII)
Pembangunan
yang ke VII ini dimaksudkan untuk lanjutan dari Bowplan V yaitu di daerah Jl.
Ijen dan Jl. Semeru dengan penambahan perluasan hingga 252.948 M2. Menurut
Handinoto & Soehargo (1996:94) selain untuk pemukiman elite, daerah tersebut
didirikan sebuah arena pacuan kuda. Perumahan didaerah ini terutama disediakan
untuk jenis vila, yaitu jenis perumahan dengan kavling ukuran besar.
8. Rencana
Perluasan Pembangunan Kota VIII (Bowplan VIII)
Perkembangan
selanjutnya yang merupakan bagian ke delapan dari bowplan adalah dengan
mengembangan untuk area zonning industri yang diperuntukkan untuk perusahaan
besar. Perluasan wilayahnya sebesar 179.820 M2.
Oleh karena itu diperlukan pembangunan jalan-jalan kereta api untuk
menunjang kegiatan tersebut. Perencanaan pembangunan ditempatkan dekat
emplassemen kereta api dan trem uap diselatan kota. dan perluasan juga
dilakukan didaerah utara, yaitu didekat Blimbing.

Gambar: Peta letak – letak perluasan daerah kota
malang (Bouwplan I – VIII)
(Hadinoto, 1996 :90)
2.2.
Perkembangan lingkungan geografis Kota Malang tahun 1914-2001
·
Perkembangan kota Malang pada masa
pendudukan Jepang
·
Perkembangan kota Malang pada masa
kemerdekaan
Pada masa sesudah Proklamasi
Kemerdekaan, di Malang didirikan Pemerintah Daerah Sementara. Pada masa Perang
Kemerdekaan (Agresi Belanda I 1947 dan Agresi Belanda II 1949) daerah Malang
menjadi basis perjuangan baik politis maupun gerilya. Pada masa awal Perang
Kemerdekaan, kota Malang berfungsi sebagai daerah garis berlakang atau daerah
pertahanan terakhir dari pertempuran-pertempuran yang terjadi
antara pihak Republik dengan pihak sekutu. Tidak ada catatan pertempuran dalam
skala besar di kota ini antara 1945 hingga terjadinya Agresi I yang dilakukan
Belanda pada 21 Juli 1947. Kota ini praktis tidak mengalami kerusakan
yang besar selama hampir dua tahun itu.
Pertempuran dalam skala besar, yang
menimbulkan korban jiwa dan kerusakan bangunan yang sifatnya masif di kota
Malang baru terjadi pada 31 Juli 1947. Sepuluh hari setelah terjadinya
agresi. Pada periode Agustus 1945-Juli 1947 Malang adalah
sebuah kota tempat terjadinya aksi-aksi kemanusiaan yang tak kalah heroiknya
dari mereka yang pergi ke medan tempur bahkan melibatkan berbagai etnis.
(http://sejarah.kompasiana.com/2012/08/14/kota-malang-pada-masa-awal-perang-kemerdekaan-1945-1947-1-aksi-kemanusiaan-di-garis-belakang-479414.html
, Diases pada 2 Maret 2014 pukul 21:15)
·
Perkembangan kota Malang pada masa Orde
lama
Pergolakan politis pada akhir masa
Orde Lama juga terjadi di Malang karena aktifitas PKI / Komunis cukup banyak
mempengaruhi masyarakat terutama golongan pemuda. Terjadi rapat2 umum,
demonstrasi, kerusuhan dan bentrokan fisik antara pendukung Komunis dengan
pendukung Pancasila, salah satunya yang terkenal adalah penyerbuan Gedung
Sarinah sekarang. Akhirnya kelompok Komunis dapat dikalahkan dan melarikan diri
ke daerah Blitar sehingga dilakukan operasi militer Sandhi Yudha yang
mengakhiri petualangan Komunis di Indonesia.
·
Perkembangan kota Malang pada masa Orde
Baru
Kota Malang berkembang pesat pada masa Orde Baru
berkat perkembangan perekonomian yang semakin baik dan semangat masyarakat yang
kuat untuk meraih hari depan yang lebih baik. Berbagai kegiatan pembangunan di
segala bidang terus dilakukan dan memberikan hasil yang memuaskan.
(http://menujuhijau.blogspot.com/2011/12/sejarah-panjang-kota-malang-sejak-zaman.html
, Diases pada tanggal 2 Maret 2014 pukul 18:39)
·
Perkembangan kota Malang pada masa
reformasi
Malang sebagai kota Pendidikan juga menjadi salah
satu barometer aksi yang menggulirkan reformasi. Ribuan pelajar dan Mahasiswa
turun ke jalan unyuk memperjuangkan hak rakyat dan prinsip demokrasi hingga
berhasil. Perjuangan teru dilanjutkan dengan mengupayakan pemilihan pimpinan
daerah secara demokratis.
2.3.
pengaruh lingkungan terhadap identitas Kota Malang
Dalam satu sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah gotong royong kotapradja Malang tahun 1962 telah ditetapkan malang
sebagai kota pendidikan, kota pariwisata, dan kota industri yang dikenal
sebagai Tri Bina Cita Kota Malang (Cahyono, 2007:80). Tri bina cita kota malang
merupakan suatu cita-cita yang dimiliki oleh Kota Malang untuk dikembangkan.
Selain tiga potensi tersebut, Malang memiliki beberapa potensi lainnya, seperti
malang kota militer, bunga, apel, susu, olahraga, dingin, kuliner, pelajar dan
paris van east java.
·
Malang Kota Pendidikan
Malang juga dikenal
sebagai Kota Pendidikan,
karena memiliki sejumlah perguruan tinggi ternama, Sebagai kota pendidikan,
banyak mahasiswa berasal dari luar Malang yang kemudian menetap di Malang,
terutama dari wilayah Indonesia Timur seperti Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi,
Kalimantan, Maluku, dan Papua, bahkan dari luar negeri sekalipun. Kegiatan
pendidikan banyak berpusat dan berkembang kea rah sebelah barat, khususnya
pendidikan tinggi, yaitu di wilayah sekitar Sumbersari, Dinoyo, Telogomas, dan
Tegalgondo (Hadi, 1997 : 9)
·
Malang Kota Pariwisata
Selain dikenal sebagai kota Pendidikan, Malang juga
dikenal sebagai kota pariwisata hal ini ditunjukkan dengan berbagai objek
wisata yang tersebar di wilayah kota Malang antara lain, festival Malang
Kembali atau Malang Tempoe doeloe yang merupakan even taunan yang sangat
diminati oleh masyarakat khususnya kota Malang, selain itu juga adanya Car free
day dan pasar minggu yang juga menjadi even mingguan yang memilki daya tarik
tersendiri sebagai salah satu pilihan tujuan wisata.
·
Malang Kota Industri
Banyak Industri di Kotamadia Malang yang berkembang
di Blimbing, Ciptomulyo, Mergosono, Arjowinangun, dan Kebonsari (BAPPEDA Kodia
Malang, 1990 dalam Hadi, 1997 :9). Selain itu ada stidaknya 36 Pusat
perbelanjaan di kota Malang yang semakin menegaskan bahwa Malang adalah kota
Industri.
·
Malang Kota Militer
Menurut Cahyono (2007:10) bahwa kata malang pada
tahun 1900an justru bertolak belakang dari arti sesungguhnya, sial atau kurang
beruntung, pemerintah Hindia Belanda sangat mengakui ‘kemalangan’ kota Malang
dengan memutuskan mendirikan benteng disini dengan pertimbangan garnizun
(pertahanan) wilayah yang sangat aman karena dikelilingi oleh empat gunung
berapi, gunung semeru, tengger, arjuno dan kawi serta dibelah tiga sungai besar
brantas, bango dan amprong. Faktor militer
strategis yaitu, cukup mempunyai jalan keluar bila mendapat serangan, mempunyai
kota-kota kecil disekitarnya yang strategis untuk menghambat gerakan penyerang
dan daerah yang makmur untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kota
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
2. Saran
Daftar Rujukan
Hadi, Nur. 1997. Perjuangan Total Brigade IV (Pada Perang Kemerdekaan di Karesienan kota
Malang). Malang : Ikip Malang
Handinoto & Soehargo, Paulus H.
1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur
Kolonial Belanda di Malang. Surabaya: Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Kepada Masyarakat Universitas Kristen PETRA.
Hudiyanto, R. Reza. 2011. Menciptakan Masyarakat Kota (Malang di bawah
tiga penguasa). Yogyakarta : Lilin
Cahyono, Dwi. 2007. Malang Telusuri dengan Hati. Malang: Inggil Documentary
http://sejarah.kompasiana.com/2012/08/14/kota-malang-pada-masa-awal-perang-kemerdekaan-1945-1947-1-aksi-kemanusiaan-di-garis-belakang-479414.html
, Diases pada 2 Maret 2014 pukul 21:15
http://menujuhijau.blogspot.com/2011/12/sejarah-panjang-kota-malang-sejak-zaman.html
, Diases pada tanggal 2 Maret 2014 pukul 18:39
Komentar
Posting Komentar