Resensi buku MOJOKUTO
Resensi buku MOJOKUTO
Filsafat
Sejarah
Judul : MOJOKUTO, Dinamika Sosial Sebuah
Kota di Jawa
Pengarang : Clifford Geertz
Tahun
Terbit : 1986 (Cetakan Pertama dalam
bahasa Indonesia)
Penerbit : PT. Temprint, Jakarta
1.
Latar Belakang Penulis
Clifford
Geertz, seorang anrtopolog terkemuka Amerika yang ahli mengenai Indonesia.
Cliffoed Geerts lahir di San Francisco pada 23 Agustus 1926. Pada awal tahun
50ania turut mengambil bagian dalam proyek penelitian Mojokuto.sebagian hasil
penelitiannya dijadikan bahan bagi penulisan disertasinya mengebai agama orang
Jawa yang kemudian dikenal dengan trikotomi santri, abangan, priayi. Beliau
meraih gelar doctor dari Universitas Harvard 1956.
Guru
besar, yang juga direktur pada Institute for Advanced Studies, Universitas
Pricenton ini, sangat produktif menulis. Disamping Religion of Java (1960)yang
dianggkat dari disertasinya, karya karyanya meliputi antara lain Peddles and
Princes (1963), Islam Observed (1968), The Interpretation of Cultures (1973),
Kindship in Bali(1975), Dan Negara: The Theatre State in Nineteenth Century
Bali (1980) dan sebagian diantaranya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia.
2.
Latar Belakang Buku
Buku
ini adalah terjemahan salah satu buku Geertz yang masih bersumber dari hasil
penelitiannya di Pare alias Mojokuto. Di sisni ia memotret sejarah sosial kota
kecil ini, dengan segala dinamikannya, yang bagi Geertz merupakan sebuah mota
yang “terdampar” dan karenannya kacau, anomis dan tanpa tujuan
3.
Filsafat Sejarah Spekulatif
Filsafat sejarah spekulatif adalah
bagian dari filsafat sejarah yang mengkaji sejarah sebagai suatu proses.
Seorang filsuf sejarah spekulatif memandang arus atau proses sejarah factual
dalam keseluruhannya dan berusaha untuk menemukan suatu struktur dasar di dalam
proses sejarah itu. Filsafat sejarah spekulatif mencari suatu struktur dalam
yang tersembunyi tetapi ada di dalam proses historis yang menjelaskan mengapa
sejarah berlangsung demikian. R.Z Leirrisa (1996) mengidentifikasikan filsafat
sejarah spekulatif dengan istilah teori sejarah.
Gerak sejarah Mojokuto dipengaruhi
oleh masyarakat yang tinggal di Mojokuto. Masyarakat yang dimagsud oleh penulis
adalah masyarakat yang digolongkan varian agamaya yaitu :
1) Varian
abangan, yang menekankan aspek-aspek animism sinkretisme jawa secara
keseluruhan dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsure petani desa penduduk.
2) Varian
santri, yang menekankan aspek-aspek islam sinkretisme itu dan pada umumnya
diasosiasikan dengan unsure pedagang (dan juga unsure-unsur tertentu pada kaum
tani).
3) Varian
priyai, yang menekankan aspek-aspek hindu dan diasosiasikan dengan unsure
birokrasi. (Geertz 1986: 6)
Menurut
Geertz pembagian ini merupakan pembagian yang dibuat oleh orang-orang jawa
sendiri. Namun demikian, meskipun memang
benar dalam masyarakat mojokuto sebagian dari penduduk dianggap sebagai
abangan, sntri dan priyai, hanya saja ini tidak berarti bahwa ketiga golongan
itu merupakan kategori-kategori dari satu tipe klasifikasi.
Tujuan peneliti sudah dijelaskan
dengan sangat lengkap pada Bab IV, yaitu tentang perkembangan kota. Dalam bab
IV, merupkan satu uraian tentang proses urbanisasi Mojokuto, proses perubahan
yang terjadi pada sektor birokrasi, sektor pasar, sektor kampong kota, satu
proses pencarian struktur sosial dan kulturalm yang mapan dan lestari. (Geertz
1986: XI)
4. Filsafat sejarah kritis,
Filsafat Sejarah Kritis adalah salah satu unsur filsafat
sejarah yang didasarkan kepada obyek penelitian bagaimana masa silam itu
dijelaskan. Seorang filsuf sejarah meneliti sarana-sarana (sepeerti metodologi,
pendekatan, metode, prosedur, aturan, kaidah, dan sebagainya) yang digunakan
oleh ahli sejarah di dalam menjelaskan masa silam dengan cara yang dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Filsafat sejarah kritis sering pula
dinamakan filsafat sejarah analitis. R.Z Leirissa (1996) mengidentifikasikan
filsafat kritis dengan istilah metodologi sejarah.
Pendekatan yang digunakan oleh
peneliti adalah pendekatan Narativisme. Hal ini dapat dibuktikan dalam
penelitian untuk menulis buku ini Geertz membuat teori trikotomi yang
menjelaskan tentang golongan masyarakat di Mojokuto. Yaitu :
1. Varian
Agama Abangan
Tradisi agama abangan yang
pada pokoknya terdiri dari pesta ritual yang dinamakan selametan, satu kompleks
kepercayaan yang luas dan rumit tentang roh-roh, dan seperangkat teori dan
praktek penyembuhan, ilmu tenung, dan ilmu gaib Diasosiasikan dengan cara yang
luas dan umum dengan desa jawa (Geertz 1986: 5)
Varian abangan menurut Geertz adalah masyarakat kaum tani di jawa.
Yang abangan itu adalah kaum tani jawa. Agama abangan menggambarkan sintesa petani antara hal-hal yang berasal dari kota dan warisan kesukuan, satu sinkretisme sisa-sisa lama daris elusin sumber yang tersusun menjadi satu konglomerat untuk memenuhi kebutuhan rakyat yang berjiwa sederhana. Yang menanam pad di teras-teras yang diairi (Geertz 1986: 229).
Varian abangan menurut Geertz adalah masyarakat kaum tani di jawa.
Yang abangan itu adalah kaum tani jawa. Agama abangan menggambarkan sintesa petani antara hal-hal yang berasal dari kota dan warisan kesukuan, satu sinkretisme sisa-sisa lama daris elusin sumber yang tersusun menjadi satu konglomerat untuk memenuhi kebutuhan rakyat yang berjiwa sederhana. Yang menanam pad di teras-teras yang diairi (Geertz 1986: 229).
2. Varian
Agama Santri
Deskripsi yang terperinci
mengenai varian sanrti menurut Geertz adalah sebagai berikut:
Ia dimanifestaikan dalam pelaksanaan yang cermat dan teratur, ritual-ritual pokok agama islam, seperti kewajiban shalat lima kali sehari, shalat jumat di mesjid, berpuasa selama bulan ramadhan, dan menunaikan haji ke mekah. Ia dimanifestasikan dalam satu kompleks organisasi-organsisasi sosial, amal, dan politik seperti Muhammadiyah, Msyumi, dan Nahdlatul Ulama. Nilai-nilainya bersifat antibirokratik, bebas dan egaliter. Orang-orang santri sendiri hidup berkelompok-kelompok, sekarang hal itu sudah berkurang dibandingkan dengan sebelum perang, namun masih Nampak juga pengelompokan-pengelompokan mereka. Dan akhirnya ketaatan melakukan ibadah salatlah yang pada tingkat tertentu merupakan ukuran santri. Priyai dan abangan hampir tidak pernah melakukannya. (Geertz 1986: 215)
Ia dimanifestaikan dalam pelaksanaan yang cermat dan teratur, ritual-ritual pokok agama islam, seperti kewajiban shalat lima kali sehari, shalat jumat di mesjid, berpuasa selama bulan ramadhan, dan menunaikan haji ke mekah. Ia dimanifestasikan dalam satu kompleks organisasi-organsisasi sosial, amal, dan politik seperti Muhammadiyah, Msyumi, dan Nahdlatul Ulama. Nilai-nilainya bersifat antibirokratik, bebas dan egaliter. Orang-orang santri sendiri hidup berkelompok-kelompok, sekarang hal itu sudah berkurang dibandingkan dengan sebelum perang, namun masih Nampak juga pengelompokan-pengelompokan mereka. Dan akhirnya ketaatan melakukan ibadah salatlah yang pada tingkat tertentu merupakan ukuran santri. Priyai dan abangan hampir tidak pernah melakukannya. (Geertz 1986: 215)
Varian santri ini
dimanifestasikan sebagai pedagang. Di desa terdapat unsure santri yang kuat,
yang seringkali dipimpin oleh petani-petani kaya yang telah naik haji ke mekah
dan setelah kembali mendirikan pesantren-pesantern (Geertz 1986: 5)
Kemudian, menurt geertz untuk santri di kota diidentifikasikan sebagai berikut:
Di kota kebanyakan santri adalah pedagang atau tukang, terutama penjahit (Geertz 1986: 222)
Kemudian, menurt geertz untuk santri di kota diidentifikasikan sebagai berikut:
Di kota kebanyakan santri adalah pedagang atau tukang, terutama penjahit (Geertz 1986: 222)
3. Varian
Agama Priyai
Geertz berasumsi nahwa kaum
priyai kaum elit yang sah memanifestasikan satu tradisi agama yang disebut sebagai
varian agama priyai daris istem keagamaan pada umumnya di jawa.
Geertz melukiskan mereka sebagai satu golongan pegawai birokrasi yang menurut tempat tinggal mereka, merupakan penduduk kota. Mereka memiliki gelar-gelar kehormatan yang merupakan bagian dari birokrasi aristokrasi kraton.
Geertz melukiskan mereka sebagai satu golongan pegawai birokrasi yang menurut tempat tinggal mereka, merupakan penduduk kota. Mereka memiliki gelar-gelar kehormatan yang merupakan bagian dari birokrasi aristokrasi kraton.
Komentar
Posting Komentar