Piala dunia 2010 dan kebangkitan Afrika
Sejarah
Afrika
Piala dunia 2010 dan kebangkitan Afrika
Sepak
bola adalah salah satu cabang olah raga yang mendunia pasa saat ini. Popularitas
olah raga sepak bola dapat mengalahkan cabang-cabang olah raga lainya.
Penggemar dan peminat dari olah raga sepak bola sendiri terbilang paling besar,
hal ini membuat dunia sepak bola di bumi membentuk suatu organisasi yang di
bernama FIFA.
Kejuaraan
sepak bola internasional terbesar ialah Piala
Dunia yang diselenggarakan oleh Fédération
Internationale de Football Association (FIFA). Piala
Dunia diadakan setiap empat tahun sekali dan dimulai di Uruguay pada
tahun 1930.
Pencetus ide tersebut adalah Jules
Rimet, seorang pengacara dan pengusaha Perancis yang
terinspirasi setelah menonton Olimpiade Paris tahun 1924.
Kompetisi
international tertua di dunia adalah Copa
America yang mempertandingkan tim-tim dalam
wilayah Amerika Selatan setiap dua tahun sekali. Copa
America pertama kali diadakan tahun 1916 dan diikuti oleh 10 negara yang
akhirnya membentuk The SouthAmerica Football Confederation (conmebol). Untuk
wilayah Amerika Utara, The Confederation of North,
Central American and Caribbean Association Football (CONCACAF)
menyelenggarakan kompetisi internasional setiap empat tahun sekali yang
disebut Piala Emas CONCACAF. Di kawasan Asia,
termasuk Australia dan Timor Leste negara-negara yang tergabung dalam Asian Football Confederation (AFC),
mengadakan kompetisi internasional pertama tingkat Asia pada tahun 1956 di Hongkong yang
disebut Piala Asia. Pada tahun 1960, kompetisi tingkat
regional Eropa diadakan
untuk pertama kalinya dengan nama European Nations' Cup yang kemudian
disebut sebagai UEFA European Championship (Piala Eropa atau
EURO). Di wilayah Oseania (meliputi Selandia
Baru, dan berbagai Kepulauan
Pasifik), kompetisi international setiap dua tahun dimulai sejak tahun 1996
disebut Piala Oseania. Untuk wilayah Afrika, kompetisi Piala
Afrika mulai diadakan sejak 1957 di Khartoum.
Tahukah
anda bahwa hak untuk mengadakan World Cup (Piala dunia olah raga sepak bola)
menjadi rebutan negara-negara di dunia, termasuk Indonesia? Dari sisi ekonomi,
pergelaran World Cup menjadi salahsatu event yang paling banyak meraup
keuntungan bagi negara dan masyarakat secara instan.Buktinya, Pemerintah Afrika
Selatan yang menggelar World Cup 2010 mengklaim bahwahampir dari 3,2 milyar
penonton menyaksikan pergelaran akbar ini. Sehingga, pemerintah AfrikaSelatan
berusaha membuat negaranya atraktif dengan segala infrastruktur. Dalam
pembangunanuntuk World Cup 2010, Pemerintah Afrika Selatan
menyediakan 400,000 lapangan pekerjaan.Dalam hal ini termasuk pembangunan
kereta api cepat, sistem transportasi bus, infrastuctureteknologi komunikasi
dan informasi. Selain itu. Revenue sector wisata dan retail mengalami
peningkatanyangsignifikan diperkirakan 350,000 supporters berkunjung ke Afrika Selatan
selama bulan Juni - Juli 2010 dan menggelontorkan 405 juta US Dollar selama
rentang periodeini. Selama periode ini pula, brand produk Afrika Selatan
meraup keuntungan sekitar 223 jutadollar US. Pembangunan stadion-stadion megah
pula, menarik minat para promotor dan musisidunia untuk menggelar konser di
Afrika Selatan {(Wilson dalam BBC.co.uk/12/7/2010) dalam Koran harian Aceh 26
Juni 2014}. Pembangunan ekonomi World
Cup ini pula yang melandasi undangan untuk bergabung dengangrup Ekonomi BRIC
antara Brazil, Russia, India dan China pada bulan desember 2010
{(Cherian, Roubini, & Ziemba dalam Forbes.com/17/6/2010)dalam Koran
harian Aceh 26 Juni 2014}.
Editorial Jawa Pos pada 14 Juni 2010
menggaris bawahi manfaat piala dunia ini:
”….Jika
semua tiket di seluruh permainan terjual, total pendapatan dari tiket mencapai
USD 717 juta…
Di
luar pendapatan langsung itu, Afsel akan mengantongi USD 2 miliar dari industri
pariwisata dan USD 1,1 miliar dari penjualan ritel. Selain uang cash, dampak
tidak langsung adalah terciptanya stimulus ekonomi baru. Dari even itu, 695
ribu pekerjaan tersedia, sekitar 5 miliar orang seluruh dunia akan menonton,
dengan lebih dari 18 ribu perusahaan media dan 50 ribu wartawan asing
melaporkan peristiwa tersebut selama 30 hari terus-menerus. Bisa dipastikan,
citra Afsel akan terangkat di mata dunia.
…juga
mengangkat nilai ekspor produk tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia
hingga 15 persen menjadi USS 11 miliar. Asosiasi Pertekstilan Indonesia
(API) menyebutkan, Piala Dunia 2010 mendongkrak order perlengkapan sepak bola,
terutama kaus dan sepatu.
….Piala
Dunia juga menggeliatkan penjualan elektronik, omzet kafe, produk makanan
ringan seperti kacang dan snack, termasuk BUMN penjual setrum PLN. Khusus di
wilayah Jawa-Bali, konsumsi listrik selama piala dunia naik hingga 2.000
megawatt…”
Fakta yang menarik justru hadir dalam jangka panjang. Berdasarkan
penelitian empiris dari even piala dunia dan olahraga pada umumnya, ternyata
menjadi tuan rumah Piala Dunia dalam jangka panjang sangat jarang berdampak
signifikan terhadap ekonomi (kompasiana
2010/06/20).
Dalam sebuah studi pendapatan dan pengangguran setelah Piala Dunia
Amerika Serikat 1994, Baade dan Matheson (2004) mencoba meneliti “manfaat”
penyelenggaraan piala dunia bagi perekonomian daerah tuan rumah. Hasilnya
pertumbuhan ekonomi dimayoritas kota tuan rumah jatuh. Sembilan dari 13 kota
mengalami penurunan ekonomi, setara 9 milyar dollar AS.
Hagn dan Maennig (2007) menemukan fakta bahwa
Piala Dunia 2006 tidak berdampak signifikan terhadap pengangguran dalam jangka
pendek. Meskipun bandara Frankfurt melaporkan kenaikan 1.7% penumpang pada July
2006 dibanding tahun lalu. Tingkat hunian hotel justru turun 2,7%
dibandingkan Juni 2005. Bahkan di Berlin dan Munich, turun sampai 11,1% dan
14,3 %.
Hasil ini semakin
diperkuat oleh penelitian yang dilakukan Szymanski. Szymanski (2002)
mengumpulkan data 20 negara dengan GDP terbesar yang pernah menyelenggarakan
olimpiade atau piala dunia. Menggunakan regresi sederhana, ternyata pertumbuhan
ekonomi Negara tersebut justru turun ditahun penyelenggaraan even!!!.
Penyelenggaraan even kurang/tidak berdampak
signifikan terhadap pendapatan regional atau pengangguran juga diamini oleh
banyak penelitian lain. Seperti Baade, 1987. 1994; Baade and Dye, 1988;
Baade dan Matheson, 2002; Baade dan Sanderson, 1997. Penelitian oleh Coates and
Humphreys (1999, 2000, 2002,2003) dan Teigland (1999), bahkan menunjukkan
penyelenggaraan even-even olahraga justru berdampak negatif terhadap perekonomian
(kompasiana 2010/06/20).
Hal ini
tentu berbanding terbalik dengan manfaat jang pendek. Namun meskipun dalam
jangka panjang sangat jarang berdampak signifikan, ada hal sepele yang dapat
dijadikan investasi jangka panjang. Hal yang di magsud adalah politik
pencitraan, dimana dalam sama pagelaran piala dunia, Negara sebagain tuan rumah
akan memanfaatkan para pengunjung yang datang untuk membuat pencitraan bahwa
negaranya adalah negara yang baik untuk kembali dikunjungi. Afrika selatan pun
melakukan hal demikian. Sehingga para pengunjung dari seluruh penjuru dunia
menyematkan citra yang baik bagi Afrika selatan.
Sepakbola sebagai Soft-power
Sepakbola sebagai cabang olahraga, juga dipercaya menjadi
bagian dari soft-power sebuah negara.
Soft power sendiri dianggap sebagai kemampuan persuasi suatu pihak dengan cara
damai meyakinkan pihak lain untuk melakukan apa yang diinginkannya. Memang
dalam era globalisasi sekarang ini, tidak normatif tampaknya apabila
mengedepankan penggunaan hard-power
(militer) dalam relasi hubungan antar negara. Oleh karena itu, tingkat
kecermelangan sebuah negara dalam bidang olahraga juga dipercaya dapat
meningkatkan level soft-powernya,
yang mengedepankan ide-ide normatif, citra positif suatu negara dan pada
akhirnya negara lain tertarik melakukan kerja sama atau mampu melakukan
persuasi kepada negara lain (Harian rakyat Aceh 26 Juni 2014).
Kesimpulannya,
sepakbola bukan lagi sekedar cabang olah raga dan hiburan. Namun juga sebagai
pendongkrak popularitas suatu organisasi (club maupun negara), sebagai pasar
yang menjajikan, sebagai suatu tingkatan gengsi, sebagai tunggangan politik dan
lain-lain. Sebagai tuan rumah FIFA Word cup 2010, Afrika selatan telan
menunjukkan bahwa mereka bukanlah negara dunia ke 3, mereka sanggup menjadi
tuan rumah pagelaran akbar yang levelnya sama dengan olipeade dunia. Hal ini
juga menunjukkan bahwa eksitensi negara Afrika masih terjaga di dunia.
Referensi.
Florek, Magdalena, Tim Breitbarth &
Francisco Conejo. Mega Event? Mega Impact? Travelling Fans’
Experience and
Perceptions of the 2006
FIFA World Cup Host Nation.
Journal of Sport & Tourism Vol. 13, No. 3, August
2008, pp. 199–219
Jawa Pos 14 Juni 2010.
Kaplanski, Guy and Haim Levy. Exploitable
Predictable Irrationality: The FIFA World Cup Effect on the U.S. Stock
Market. Journal of Financial and Quantitative
Analysis vol 45 no 2 April 2010. 535-553
Maennig, Wolfgang dan Stan du Plessis. World
Cup 2010: South African Economic Perspectives and Policy
Challanges Informed by
the Experience of Germany 2006. Contemporary Economic Policy Vol 25 no 4
October 2007. 578-590
Harian rakyat Aceh, 26 Juni 2014
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2010/06/20/ekonomika-piala-dunia-dan-viagra-ekonomi-172452.html
Komentar
Posting Komentar