Resensi buku Afrika Gila Bola

Resensi buku Afrika Gila Bola

PERJUANGAN antirasial menjadi tema untuk membuka mata dunia tentang politik kuasa, diskursus, dan permainan bisnis dalam dunia sepak bola. Rasialisme sepak bola, masih jadi tembok tebal, untuk memantabkan humanisme dan demokrasi sebagai pertaruhan sistem politik global. Ungkapan dan ekspresi rasis jadi ancaman bagi masa depan sepak bola.
Sepak bola membuka ruang kreasi yang luas bagi tiap pemain untuk melakukan lompatan-lompatan prestasi maupun menghadirkan momentum tak tergantikan dalam ingatan historis manusia di dunia.
Connie M Anderson, dkk, melalui buku Afrika Gila Bola ini, hadir untuk menelisik misi Afrika di balik Piala Dunia 2010. Afrika Selatan sebagai tuan rumah, telah berjuang selama bertahun-tahun untuk memenangi kompetisi tuan rumah Piala Dunia, dengan melobi FIFA, dan otoritas sepak bola di berbagai negara. Nelson Mandela merupakan tokoh Afrika yang punya kontribusi penting untuk memperjuangkan Afrika sebagai penyelenggara Piala Dunia.
Momentum Piala Dunia 2010, menghadirkan misi menghapus sentimen rasial, mengangkat ekonomi-budaya dan politik Afrika, serta membuka mata dunia tentang citra “benua hitam”. Buku ini, menjelaskan secara gamblang, kompetisi dan misi-misi tersembunyi di balik penyelenggaraan Piala Dunia 2010.
Politik Antirasial sepak bola, bisa memberi kesadaran baru bagi warga di belahan bumi ini, untuk menampik sentimen rasial. Sepak bola memberi peluang kehadiran perasaan senasib, dan saling memberi pengertian akan persamaan derajat. Bahwa, setiap manusia punya fitrahnya masing-masing. Namun, perjuangan menghapus sentimen rasial lewat medan lapangan hijau memang belum sepenuhnya sempurna.
Tampaknya, sampai detik ini, rasialisme sepak bola belum tamat riwayatnya. Beberapa pemain dengan pelbagai latar belakang menjadi sasaran hujatan rasis, sebagai bentuk teror maupun perang urat syaraf (psy war). Politik rasial masih menjadi awan gelap sepak bola dunia.
Connie M Anderson, menulis hasil risetnya tentang rasialisme sepak bola dan misteri di balik keterpilihan Afrika Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010. Dalam catatan Connie, Afrika Selatan telah berjuang selama beberapa tahun agar terpilih sebagai penyelenggara Piala Dunia. Upaya Afrika lewat proposal Piala Dunia 2006, kalah dari tawaran Jerman. Nelson Mandela melakukan lobi meyakinkan lewat pengaruh politiknya, dan melakukan kampanye “Kini Giliran Afrika”. FIFA kemudian menggunakan sistem giliran, sehingga Afrika Selatan tak usah berhadapan dengan negara-negara Eropa dan Amerika Latin, yang berhasrat menjadi tuan rumah.
Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan merupakan titik pertaruhan untuk menatap masa depan sepak bola yang antirasial, antietnis, dengan mengukuhan standar prestasi dan komitmen fair play. Afrika Selatan dengan segudang problem Benua Hitam, jadi simbol untuk melakukan perlawanan terhadap konsep sepak bola modern, dengan pesona selebrasi pemain bintang, daya ledak bisnis transfer pemain, hingga letupan nasionalisme antarpemain tim nasional. Tiga puluh dua tim yang berlaga di Afrika Selatan jadi bukti tentang identitas yang menembus batas etnisitas dalam jagad sepak bola.
Rasialisme mungkin akan jadi bumbu pertandingan Piala Dunia 2010. Namun, komitmen FIFA atas keterpilihan Afrika Selatan sebagai tuan rumah hajatan sepak bola paling akbar, tentu membuka pintu baru untuk menatap “kulit hitam” sebagai bagian dari “Kita”. Tampilan memukau tim-tim sepak bola benua Afrika, semisal Ghana, Kamerun, Pantai Gading, Tunisia, Algeria, South Africa, jadi penanda betapa tradisi sepak bola Afrika menjadi bagian dari kultur sepak bola dunia. Potensi dahsyat pemain-pemain bola dari Afrika yang bermain di klub-klub Eropa, semisal Didier Drogba, Kolo-Yaya Toure, Samuel Eto’o, Salomon Kalou, Essien, dan beberapa pemain lain, menjadi alasan untuk tak meremehkan Afrika, dan kulit hitam dalam kasta rendah sepak bola dunia.
Kampanye anti rasial, dan kebencian antaretnis ini tentu tak hanya menjadi atmosfer di Afrika Selatan dan sekitarnya. Momentum ini menjadi pintu masuk bagi warga dunia untuk melihat dengan mata jernih tentang pentingnya toleransi lintas golongan. Warga Indonesia punya kenangan buruk berupa ketegangan etnis Jawa-Tionghoa, dengan ledakan konflik di Jakarta pada Mei 1998, konflik kuasa berbasis agama di Ambon, sengketa ekonomi berbingkai tradisi di Papua, maupun luka lama perseteruan ideologi dengan komando politik militer di Aceh. Semua itu akan terkenang dalam ingatan dan dilupakan, namun menjadi pelajaran penting menatap masa depan.
Sepak bola telah menebar hikmah penting bagi semuanya. Identitas subjek dengan basis etnis, warna kulit, agama maupun struktur sosial, sebaiknya tak saling bertabrakan. Justru, warna-warna berbeda akan menjadi pelangi jika saling melengkapi bukan? Jika peran sastra dalam pikiran Milan Kundera untuk “melawan lupa”, maka sepak bola sejatinya berpeluang menebarkan misi humanisme.


Judul     : Afrika Gila Bola
Penulis  : Connie M Anderson, dkk
Penerbit: Kepik Ungu, Jakarta
Cetakan:  Perta,a, 2010
Tebal     : 168 halaman

Komentar

Postingan Populer