Sejarah singkat filsafat timur

Makalah
SEJARAH SINGKAT FILSAFAT TIMUR

BAB I
Pendahuluan
A.     Latar Belakang
Filsafat adalah sebagai “ibu dari semua seni “ the mother of all the arts (Cicero). Dari sejak manusia ada, filsafat ada. Filsafat hadir ketika manusia berfikir. Hal inilah yang membuat manusia dengan manusia yang lain berbeda, kemampuan berfikir. Filsafat bisa dibagi menjadi filsafat Barat maupun filsafat Timur. Filsafat Barat adalah filsafat yang digagas oleh filsuf – filsuf Barat (Yunani). Sedangkan filsuf Timur adalah pemikiran yang berasal dari filsuf – filsuf Timur, yakni filsuf – filsuf dari Cina, India maupun Islam.
Filsafat dapat didalami dengan mengutarakan masalah secara kompleks, mencari solusi atas masalah-masalah yang ada, dan kemudian memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Filsuf yang dikenal masyarakat adalah Plato, Socrates, maupun Aristoteles. Padahal, ada banyak filsuf terkenal di dunia. Masyarakat dunia harus mulai sadar bahwa tidak hanya filsafat Yunani dan Romawi yang mendunia, tetapi filsafat India, filsafat Cina, filsafat Islam dan filsafat Barat juga tidak kalah pamornya. Filsafat India mengusung keyakinan akan kesatuan fundamental antara manusia (individu) dengan alam (kosmos). Sedangkan filsafat Cina merupakan salah satu filsafat tertua dan dipercaya menjadi salah satu filsafat dasar dari tiga filsafat dasar yang mempengaruhi sejarah filsafat dunia.
Cina merupakan sebuah negara maju sejak ribuan tahun lalu. Dalam kurun waktu tersebut, terdapat banyak filsuf – filsuf yang lahir dari Cina. Filsafat Cina adalah filsafat yang ditulis dalam tradisi pemikiranCina. Sejarah pemikiran Cina telah berlangsung selama beberapa ribu tahun; sering dianggap bermula dari I Ching (Buku Perubahan), suatu bunga rampai peramalan kuno yang menggunakan suatu sistem 64 heksagram untuk menuntun tindakan. Sistem ini diciptakan oleh Raja Wen sekitar 1000 SM dan karya tersebut menggambarkan karakteristik konsep dan pendekatan filsafat Cina. Buku Perubahan berkembang sedikit demi sedikit selama delapan abad berikutnya, tapi referensi tercatat pertamanya adalah pada 627 SM (Ian McGreal Harper Collins, 1995: 67) Cina juga telah melahirkan berbagai tokoh – tokoh filsuf Dunia seperti Confusiusdan Lao Tze. Dari berbagai hal menarik itulah, maka kami mengangkat judul “Filsafat Sejarah Cina” dalam makalah kami.
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan diangkat dalam makalah ini adalah :
1.      Bagaimana konsep filsafat Timur ?
2.      Bagaimana konsep filsafat Timur di Cina ?
3.      Bagaimana filsafat sejarah menurut pandangan tokoh filsuf Cina?

C.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan Makalah ini adalah :
1.      Mendiskripsikan konsep filsafat Timur
2.      Mendiskripsikan konsep filsafat Timur di Cina
3.      Mendiskripsikan filsafat sejarah menurut pandangan tokoh filsuf Cina

BAB II
Pembahasan
A.     Konsep Filsafat Sejarah Timur
Filsafat Timur merupakan sebutan bagi pemikiran-pemikiran yang berasal dari dunia timur (Asia), seperti Filsafat Cina, Filsafat India, Filsafat Jepang, Filsafat Islam, Filsafat Buddhisme dan sebagainya. Filsafat Timur memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan filsafat Barat. Pemikiran Timur, sering dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional, tidak sistematis dan tidak kritis (Bagus Takwin, 2009:13). Filsafat timur lebih dianggap sebagai kepercayaan religius atau agama dari pada filsafat, karena dianggap tidak rasional, tidak sistematis dan tidak kritis. Akan tetapi, sebenarnya hal itu tidak bisa menjadi kriteria untuk menentukan pemikiran Timur digolongkan sebagai filsafat atau tidak, sebab seringkali kategorisasi 'filsafat' dan bukan 'filsafat' ditentukan oleh 'Barat' yang memaksakan kriteria-kriterianya terhadap 'Timur'.
Definisi menurut asal kata filsafat adalah cinta kepada kebenaran (Bagus Takwin, 2009:19). Dilihat dari definisi filsafat, sebenarnya pemikiran Timur dapat dikategorikan sebagai filsafat, sejauh filsafat Timur merupakan usaha manusia untuk memperoleh kebenaran, yang didasarkan pada rasa cinta akan kebenaran itu sendiri. Pengetahuan akan kebenaran selalu berkaitan dengan kebijaksanaan dan mengandung dua unsur, yakni pengetahuan akan kebaikan tertinggi dan tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi. Kedua hal ini ada di dalam pemikiran sejumlah pemikir Timur seperti Lao Tzu, Konfusius, Siddharta Gautama dan para filsuf Islam, sehingga pemikiran mereka dapat disebut filsafat Timur.
1.      Perbedaan Filsafat Timur dan Barat
Berbeda dengan filsafat Barat, pemikiran Timur tidak menampilkan sistematika yang biasa dipakai dalam filsafat Barat, seperti pembagian bidang kajian filsafat menjadi epistimologi, metafisika dan ontologi. Selain itu pemikiran Timur sering kali diterima begitu saja oleh penganutnya tanpa satu kajian kritis terlebih dahulu, sehingga sering disebut filsafat agama.
Pemikiran Timur merupakan suatu bentuk filsafat. Dari buku Bagus Takwin dalam pendapat Fung Yu Lan, dikemukakan Socrates yang kemudian dikutip oleh Plato dalam Phaedrus: 270BC “ ... Orang-orang yang gagasan dan pemikirannya didasari oleh pengetahuan tentang kebenaran dan dapat mempertahankannya dengan argumentasi yang kuat patut disebut filsuf. Mereka adalah pecinta kebijaksanaan”.
Dari pernyataan tersebut, maka pemikiran – pemikiran Timur seperti Confucius, Lao Tze, dan Sidharta Gautama layak disebut filusuf. Dengan demikian buah pemikirannya dapat digolongkan sebagai pemikiran sebagai pemikiran filosofis. Belakangan pengkajian pemikiran Timur menyertakan juga pemenuhan kriteria-kriteria yang umumnya diterapkan pada filsafat. Perkembangan pemikiran filsafat membutuhkan adanya dialog, diskusi adu argumentasi dan membuka diri terhadap berbagai pemikiran.
Dengan mendasarkan pengertian-pengertian itu, pemikiran Timur seperti Hinduisme, Budhisme, Taoisme, Budhisme Chan,  Tao Tze, Confucius dan pemikiran Islam dapat disebut sebagai Filsafat dan menjadi bagian dari Filsafat Timur. Sebuah ciri khas dari filsafat Timur adalah kedekatannya hubungan filsafat dengan agama. Filsafat Timur ini sebenarnya tidak hanya di pandang filsafat agama juga, tetapi termasuk falsafah hidup.
B.     Konsep Filsafat Sejarah Cina
Filsafat Cina adalah salah satu dari filsafat tertua di dunia dan dipercaya menjadi salah satu filsafat dasar dari tiga filsafat dasar yang mempengaruhi sejarah perkembangan filsafat dunia, disamping filsafat India dan filsafat Barat. Filsafat Cina sebagaimana filsafat lainnya dipengaruhi oleh kebudayaan yang berkembang dari masa ke masa.
Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat cina
a)      Harmoni
Keseimbangan. Suatu jalan tengah antara dua ekstrem yaitu antara manusia dan sesama, antara manusia dan alam, antara manusia dan surga.
b)      Toleransi
Keterbukaan untuk pendapat-pendapat yang berbeda dari pendapat-pendapat pribadi.
c)      Perikemanusiaan
Antroposentris. Manusia  yang selalu merupakan pusat filsafat Cina. Ketika kebudayaan Yunani masih berpendapat bahwa manusia dan dewa-dewa semua dikuasai oleh suatu nasib buta yang sering disebut Moira, dan ketika kebudayaan India masih mengajar bahwa kita di dunia ini tertahan dalam roda reinkarnasi yang terus-menerus, maka di Cina sudah diajarkan bahwa manusia sendiri dapat menentukan nasib dan tujuannya.
Para ahli sejarah pemikiran, mengemukaan beberapa karakteristik filsafat Cina, antara lain :
a)      Dalam pemikiran, kebanyakan orang Cina antara teori dan pelaksanaannya tidak dapat di pisahkan.
b)      Secara umum filsafat Cina bertolak dari semacam humanisme atau kemanusiaan yaitu manusia dan perilakunya dalam masyarakat dan peristiwa-peristiwa kemanusiaan menjadi perhatian utama.
c)      Dalam pemikiran filosof Cina, etika dan spiritualitas atau kerohanian menyatu secara terpadu. Artinya etika dianggap sebagai intipati kehidupan manusia dan sekaligus tujuan hidupnya. Di hal lain konsep kerohanian diungkapkan melalui perkembangan jiwa seseorang. Etika spiritulitas seseorang melalui moral dan etikanya dalam kehidupan sosial, kenegaraan dan politik. Sedangkan untuk etika dan kehidupan sosial adalah kesalehan dan kearifannya.
d)      Meskipun menekankan pada persoalan manusia sebagai makhluk sosial, persoalan yang bersangkut paut dengan pribadi atau individu tidak dikesampingkan, artinya kesetaraan, persamaan dan kesederajatan manusia dapat perhatian besar.
e)      Mengajarkan sikap optimis dan demokratis. Artinya bahwa manusia dapat mengatasi persoalan-persoalan hidupnya dengan menata dirinya melalui berbagai kebijakan praktis serta menghargai kemanusiaan. Sikap demokratis membuat bangsa Cina toleran terhadap pemikiran yang beranekaragam dan tidak cenderung memandang sesuatu secara hitam atau putih.
f)        Agama dipandang tidak terlalu penting dibanding kebijakan berfilsafat. Artinya masyarakat di anjurkan mengurangi pemborosan dalam penyelenggaraan upacara keagamaan atau penghormatan pada leluhur.
g)      Penghormatan terhadap kemanusiaan dan individu tampak dalam filsafat hokum dan politik. Artinya pribadi dianggap lebih tinggi nilainya disbanding aturan-aturan formal yang absrtak dari hokum, undang-undang dan etika. Dalam memandang sesuatu tidak berdasarkan mutlak benar dan mutlak salah.
h)      Dilihat dari sudut pandang intelektual, para filosof Cina berhasil membangun etos masyarakat Cina seperti mencintai, belajar dan mendorong orang gemar melakukan penelitian mendalam atas segala sesuatu yang belum terpecahkan.

2.      Periodisasi Filsafat Cina
a.       Zaman Klasik
Konfusius atau Kong Hu-Cu (551 SM – 479 SM) lahir ke dunia dan membawa ajaran cinta, keramahtamahan dan sopan santun. Ajaran Konfusius pada dasarnya lebih menekankan pada masalah manusia dan kehidupan di dunia ini. Ajaran-ajarannya lebih banyak membahas masalah pendidikan moral.
b.      Zaman Neo-Taoisme dan Buddhisme (200 S.M1000M)
           Budhisme memasuki Tiongkok pada permulaan abad ke-1. Pengaruhnya besar sampai pada akhir abad ke-10. Beberapa nama yang terkenal adalah Chi-Tsang (549-632 M), Chih-K’ai (538-597 M), Shen Hsiu (600-700 M) dan lain-lain (Burhanuddin Salam).
c.       Zaman Neo-Konfusianisme (1000 M-1900 M)
           Buddhisme ternyata memuat unsur-unsur yang bertentangan dengan corak berpikir Cina. Hal – hal yang dilalaikanadalah kepentingan dunia, kepentingan hidup berkeluarga dan kemakmuran material, yang merupakan nilai-nilai tradisional di Cina. Sehingga, pada tahun 1000 M, Konfusianisme klasik kembali menjadi ajaran filsafat terpenting.
d.      Zaman Modern (setelah 1900)
            Era modern mulai di Cina sekitar tahun 1900. Pada permulaaan abad  kedua puluh pengaruh filsafat Barat cukup besar. Banyak tulisan pemikir-pemikir Barat diterjemahkan ke dalam bahasa Cina. Aliran filsafat yang terpopuler adalah pragmatisme, jenis filsafat yang lahir di Amerika Serikat. Sejak 1950, filsafat Cina dikuasai pemikiran Marx, Lenin dan Mao Tse Tung.
C.     Filsafat Sejarah Timur berdasarkan pemikiran tokoh Cina
Filsafat Sejarah Cina dikemukakan dengan jelas oleh Confusius. Berikut beberapa filsafat sejarah menurut filsuf – filsuf Cina:
1.   Confusius
Confusius menekankan kaitan erat antara jalan langit dan jalan bumi dengan jalan kemanusiaan. Ia mencanangkan dunia tindakan dalam hubungan sosial sebagai pusatnya.Kaum Konfusian menunjuk kehidupan sehari-hari sebagai fokus meditasi untuk mendapatkan penerangan (Simpkins & Simpkins, 2006:16).
Confusius lahir ketika negaranya sedang mengalami kekacauan. Terjadi berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintah, disintegrasi negara, pemberontakan dan terjadi begitu banyak kejahatan, serta banyak orang hidup tanpa aturan yang jelas (Takwin, 2003: 85). Oleh karena itu, Confusius memiliki suatu pemikiran yang terfokus untuk memecahkan masalah yang terjadi dinegaranya tersebut.
Dalam diri manusia terdapat dua unsur penting yaitu spiritual dan material atau dengan kata lain disebut sebagai jasmani dan rohani.  Unsur dari spiritualitas atau rohani terdapat beberapa aspek, yaitu meliputi Jen (Perikemanusiaan), Yi (perkeadilan/pelurusan), Li (Etika/ Sopan santun), Chih (Kebijaksanaan).
Manusia dan Sejarah Manusia membentuk serta menghasilkan sejarah dan bersamaan dengan itu ia dibentuk dan dipengaruhi oleh sejarah (Bertens, 1987; 200). Oleh sebab itu pada hakikatnya semua permasalahan berkisar sekitar faktor manusiawi, tidak hanya sebagai unsur objektif, lebih dari itu juga selaku unsur objektif (Kartodirdjo, 1990: 252). Dengan demikian jelas bahwa manusia merupakan faktor utama dalam pembahasan sejarah. Menurut Confucius semua tindakan yang menyangkut unsur materialitas atau keragaan manusia akan sia-sia jika tidak didasari oleh unsur spiritualitas.
  Unsur spiritualitas ini diantaranya adalah Jen . Jen dapat diartikan sebagai perikemanusiaan. Perikemanusiaan ini mengandung dua segi, yaitu Chung (segi positif) dan Shu (segi negatif). Chung terlihat dalam ungkapan “Apa yang engkau senangi dilakukan orang terhadapamu, lakukanlah terhadap orang lain”. Segi Shu mengajarkan “Apa yang tidak kau sukai dilakukan orang terhadapamu, jangan kau lakukan terhadap orang lain” (Creel, 1951; 34). Unsur spiritualitas yang lain dalam diri manusia selain Jen yang harus diwujudkan dalam tindakan yang mempertahankan unsur materialitas adalah: Yi (kelayakan), Li (etiket atau sopan santun). Chih (kebijaksanaan). Manusia dalam menghayati historisitas atau kesejarahannya tidak hanya mementingkan aspek materialitasnya saja, akan tetapi selalu diimbangi dengan perkembangan spiritualitasnya. Aspek materialitas yang terlihat nyata dalam berbagai tindakan manusia haruslah selalu mencerminkan perkembangan berbagai aspek spiritualitas manusia tersebut (Budisutrisna, 1998: 26-27).
Perbuatan manusia sebagai aspek materialitas harus selalu mendasarkan diri pada aspek spiritualitas. Dalam perkembangan kebudayaan manusia diarahkan kepada Chun Tzu (manusia unggul), sejarah tidak pernah dibuat oleh manusia secara sendirian, akan tetapi selalu dalam kebersamaan kelompok. Dalam mewujudkan manusia-manusia Chun Tzu yang akan membuat tingginya kebudayaan manusia, peranan individu tetap diakui tetapi tidak dapat dilepaskan dari peranan kebersamaan kelompok tersebut. Hanya manusia-manusia yang berhasil membuat keterkaitan harmonis aspek materialitas dan spiritualitas dalam kebersamaan kelompoklah yang akan mencapai Chun Tzu, yang pada akhirnya akan memajukan kebudayaan manusia. Sejarah digerakkan oleh manusianya. Namun demikian Confucius mengakui bahwa keberhasilan usaha manusia tidak terlepas dari Ming , keputusan alam ketuhanan. Usaha manusia tidak terlepas dari peranan Tuhan (Budisutrisna, 1998: 27-28)
a.       Pandangan Confucius tentang Hubungan Sejarah dengan Waktu.
Eksistensi manusia menurut kodratnya mempunyai struktur temporal. Sejarah perkembangan manusia selalu terkait dengan tiga dimensi kesejarahan, yakni: dimensi masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Dari tiga dimensi tersebut hanya masa sekarang (kini) yang sungguh-sungguh real, berarti masa lampau terangkum dalam masa sekarang, dan masa depan menjadi proyeksi masa kini (Munir, 1997: 139).
Pandangan Confucius tentang waktu menunjukkan adanya interpretasi terhadap sejarah di masa lampau serta bagaimana sejarah dibentuk pada masa depan. Dalam hal ini peninggalan tradisi dan budaya di masa lampau diinterpretasikannya, missal: Li yang semula berarti tata upacara berkorban kemudian diberi arti sebagai etiket atau sopan santun; Tao yang semula berarti jalan kemudian diberi arti sebagai kode etik individu dan pola pemerintahan; Chun Tzu yang semula berarti orang keturunan bangsawan kemudian diberi arti manusia unggul atau gentle man . Jadi terhadap kebudayaan masa lampau, Confucius tidak membuanganya tetapi diambil semangatnya, intinya, yaitu aspek spiritualitasnya.Masa sekarang, bagi Confucius tergambar dalam pendidikan sebagai strategi kebudayaan. Dalam bidang pendidikan ia merasa bahwa fungsi utamanya memberi tafsiran terhadap warisan masa lampau, juga memberikan tafsiran baru terhadapanya yang didasarkan atas konsepsi-konsepsi moral (Lian, 1990: 51). Perkembangan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi masa sekarang tanpa meninggalkan identitas yang sudah dimiliki di masa lampau yang tersimpul dalam Jen sebagai esensi dari setiap kebudayaan. Jen ini juga selalu terkait dengan Yi, Li, dan Chih. Kemudian masa depan tergambar dalam cita-cita manusia ideal Chun Tzu yang akan dapat menciptakan kebudayaan yang unggul pula. Hal lain yang turut memacu terwujudnya masa depan, seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya adalah kebijakan penggunaan bahasa yang tepat, termasuk menyatunya antara perkataan dan perbuatan (Budisutrisna, 1998: 28-29)
b.      Pandangan Confucius tentang Arah Sejarah
Manusia di dalam hidupnya mengejar kebahagiaan spiritual dan kesejahteraan material (Soejadi & Wibisono 1986; 22). Secara implisit sesungguhnya Confucius mempunyai pandangan mengenai arah perkembangan sejarah yang mencakup baik aspek materialitas maupun spiritualitas.Sesudah manusia berusaha, berhasil atau tidaknya diserahkan kepada keputusan Tuhan. Dengan demikian arah perkembangan sejarah tidak hanya mementingkan dimensi horizontal, akan tetapi juga mengutamakan dimensi vertical.
Arah perkembangan sejarah menghendaki keselarasan hubungan antara manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan Tuhannya. Bagi Confucius taraf kebudayaan manusia yang tinggi yang membuahkan kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia, yang dapat terwujud melalui manusia-manusia Chun Tzu bukanlah sesuatu yang statis tetapi dinamis (selalu disesuaikan situasi - kondisi perkembangan jaman, dalam hal ini Confucius selalu menginterpretasikan masa lampau secara baru). Dengan demikian arah sejarah bukanlah bukanlah sesuatu yang sudah selesai, berhenti, tetapi sesuatu yang terus menerus menjadi disesuaikan dengan jamannya (Budisutrisna, 1998: 29-30).
c.       Evaluasi Kritis Tentang Kedudukan Tuhan dalam Filsafat Sejarah Confucius.
Confucius tidak suka membicarakan hal-hal yang bersifat religius. Karena banyak hal yang tidak dapat dibuktikan dengan panca indera, tetapi hanya dapat dipercaya (Lasiyo, 1983; 28).Walaupun demikian bukan berarti Confucius tidak bertuhan. Hal ini terbukti ketika suatu saat dicela dan tidak ada orang yang mampu mengerti dia, Confucius berkata “Akan tetapi Sorga mengerti saya” (Creel, 1954: 49). Menurut Confucius ajaran-ajarannya sesungguhnya ilham dari Tuhan (Tien) dengan maksud membimbing kepada jalan kesempurnaan (Tao).
Dalam pandangan Confucius kedudukan Tuhan memainkan peranan sentral dalam seluruh aspek kehidupan, hanya saja ia tidak membicarakan secara panjang lebar. Bahkan dia pernah berkata kepada muridnya, “Kau belum mengetahui kehidupan bagaimana kau hendak mengetahui kematian”. Keyakinan Confucius pada peranan Tuhan tercemin dalam ajarannya mengenai Ming. Baginya Ming berarti keputusan alam ketuhanan. Hal yang paling baik yang dikerjakan manusia ialah sekedar berusaha untuk melaksanakan apa yang diketahui seharusnya dikerjakan. Manusia seharusnya berusaha sekuat tenaga, tetapi hasilnya terserah kepada Ming (Lian, 1989; 29). Dengan demikian tidak berarti manusia pasrah secara pasif terhadap nasib, karena usaha dipandang penting. Ming menjadi penentu akhir perjalanan historisitas manusia (Budisutrisna,1998: 31).
Konfusius berjuang tanpa kenal lelah sepanjang hidupnya untuk membangun dan memelihara suatu masyarakat yang tertib dan teratur dengan terus menerus menekankan pentingnya hubungan antara manusia atas dasar doktrin ren.
Ren, adalah gagasan sentral dari Konfusianisme yang juga merupakan kelanjutan yang lebih jernih dari gagasan yang hidup sebelum zaman Konfusius. Ren bisa dipahami sebagai: kebaikan hati ataupun kasih antar manusia. Menurut Konfusius ‘ren’ adalah sesuatu di dalam diri yang membuat seseorang sungguh-sungguh manusia. Sedangkan Li  mengandung arti ‘tatacara dan upacara keagamaan’, tetapi Konfusianisme memberi arti lebih luas dari pada sekedar ritus dan ritual, yaitu, segala sesuatu yang terkait pada tindakan tepat manusia, dan Xiao merujuk pada tindakan antar manusia yang menumbuhkan ‘ren’ yang juga berarti “hormat bakti yang muda terhadap yang lebih tua”.
2.      Mencius (371-289 SM)
Mencius merupakan sejarawan Konfusian nomor dua yang hidup sezaman dengan Aristoteles. Dimana pada saat itu terjadi kekacauan dalam negerinya. Mencius berpikir bahwa perubahan dimulai dari batin. Seseorang tidak dapat mengubah persoalan yang ada didunia jika tidak lebih dahulu mengubah dirinya sendiri, sebagaimana yang Mencius katakan “Ketika langit mengirimkan malapetaka, kita masih dapat melarikan diri darinya. Tetapi, jika kita sendiri yang menciptakan bencana itu, tidak mungkin lagi bagi kita untuk hidup” (Legge, 1970: 299 dalam Simpkins & Simpkin, 2006:25). Dari sini kita dapat simpulkan bahwa kajian sejarah, perubahan sejarah menurut Mencius semuanya bertumpu pada manusia.
Mencius dengan tegas mengatakan bahwa sifat alami manusia itu baik. Mencius menjawab bahwa walau sifat alami manusia itu baik, tetapi ada kalanya orang berpaling dari hal positif tanpa menyadarinya. Pengalaman hidup dapat mempengaruhi mereka. Mencius yakin bahwa setiap orang bisa berubah. Meskipun lingkingan memberikan pengaruh negatif tetapi kita selalu dapat mendapatkan kembali kebaikan itu. kita dapat mengolah sifat alami kita yang lebih baik, inilah salah satu aspek yang sangat positif dalam filsafat Confusius. Semua orang dapat berubah. Siapapun dapat menjalani kehidupan yang bahagia dan utuh, tanpa kekhawatiran dengan mengikuti jalur yang benar (Simpkins &Simpkins, 2006:28). Kaum Confusius melihat bahwa masa lalu lebih baik, jika bersedia memulihkan kebijaksanaan yang terdapat dimasa lalu, mereka akan menjadi bijaksana (Sejarah diartikan sebagai suatu hal yang mendatangkan kebijaksanaan). Konfusian klasik menemukan harapan bagi kemanusiaan masa kini dengan mengetahui bahwa orang-orang dimasa lalu adalah orang-orang yang bijaksana dan luhur (Simpkins &Simpkins, 2006:30).
3.      Tung Chung-Shu (179-104 SM)
Tung Chung-Shu adalah seorang Konfusian yang meredam paham otoritarisme Hsun-Tzu dengan pandangan Mencius tentang sifat alami manusia yang positif, sehingga terbentuk integrasi dari kedua teori yang optimistis mengenai potensi manusia dalam hubungan yang realistis. Pandangan Tung tentang sifat manusia merupakan sintesis yang menggabungkan antara Mencius dan Hsun-Tzu. Mencius yang beranggapan bahwa sifat alami manusia itu baik, sedangkan Tung berpendapat bahwa sifat manusia memiliki potensi baik, tetapi tidak secara otomatis menjadi nyata. Tung percaya bahwa dengan pemerintahan yang bermoral dan bijaksana, maka masyarakat dapat membantu orang untuk memenuhi potensi positif menjadi baik (Simpkins &Simpkins, 2006:41).
Tung mencocokkan Konfusianisme dengan dua gagasan penting di zamannya, yaitu teori Yin-Yang dan Lima Unsur. Teori Yin-Yang dan lima unsur merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Taoisme religius, yang kemudian diungkapkan dalam Neo-Konfusianisme pada abad ke-11. Segala sesuatu yang terjadi adalah akibat dari Yin danYangbeserta semua gerakannya. Tidak ada yang tetap, yang tetap hanyalah berubahnya segala sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa Tung Chung-Shu meyakini bahwa sejarah merupakan perubahan itu sendiri.















BAB III
Penutup
1.      Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah :
a)      Filsafat Timur berbeda dengan filsafat Barat. Filsafat Timur lebih kedekatan dengan filsafat agama. Filsafat Timur ini sebenarnya tidak hanya di pandang filsafat agama juga, tetapi termasuk falsafah hidup.
b)      Filsafat Cina adalah salah satu dari filsafat tertua di dunia dan dipercaya menjadi salah satu filsafat dasar dari tiga filsafat dasar yang mempengaruhi sejarah perkembangan filsafat dunia, disamping filsafat India dan filsafat Barat. Filsafat Cina sebagaimana filsafat lainnya dipengaruhi oleh kebudayaan yang berkembang dari masa ke masa
c)      Para filsuf Cina berpendapat bahwa sejarah berguna dalam membuat manusia pada kebijaksanaan (kaumkonfusian) dan sejarah mengacup ada manusia dan perubahan – perubahan yang terjadi

2.      Saran
Adapun saran dalam makalah kami, kami tujukan kepada seluruh masyarakat agar berkenan untuk berfikir atau berfilsafat. Filsafatsejarah akan memberikan kita lebih mendalami makna dari sejarah.






Daftar Rujukan
Bertens, K. 1987. Panorama Filsafat Barat Modern. Jakarta: Gramedia.
Budisutrisna. 1998. Historisitas dalam Pandangan Confucius. Yogyakarta: Fak. Filsafat UGM.
Creel, H.G. 1989. Chinese Thought from Confucius to Mao tse-Tung , Alih bahasa Soejono Soemargono. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana .
Kartodirdjo, Sartono. 1986. Ungkapan Ungkapan Filsafat Sejarah Barat dan Timur , Penjelasan Berdasarkan Kesadaran Sejarah. Jakarta: Gramedia .
Lasiyo. 1983. Confucius . Yogyakarta: Proyek PPPT UGM .
Lian, Fung Yu. 2007. Sejarah Filasafat Cina. Yogyakarta: Balai pelajar.
Meita, Nunung. 2013. Filsafat Sejarah Timur. (Online), (http://meitanun.blogspot.com/2013/06/filsafat-sejarah-timur.html, diakses pada 4 Februari 2014 pukul 10.05 WIB).
Munir, Misnal. 1997. Historisitas Dalam Pandangan Filosof Barat dan Pancasila dalam Jurnal Filsafat . Edisi Khusus Agustus 1997 hal. 125-148.
Santoso, Windar. 2007. Filsafat Cina: Pemahaman Singkat Pemikiran Lao Tzu akan Wu Wei. (Online), (http://winsig-cina.blogspot.com/2007/04/lao-tzu-dan-Confusius-suatu.html, diakses pada 4 Februari 2014 pukul 19.35 WIB).
Soejadi R & Wibisono, Koento. 1986. Aliran-Aliran Filsafat dan Filsafat Pancasila dalam Slamet Sutrisno (ed), Pancasila Sebagai Metode. Yogyakarta: Liberty.
Simpkins, C. Alexander & Simpkins, Annelen. 2006. Simple Confusianism. Jakarta: BIP Kelompok Gramedia.
Takwin, Bagus. 2003. Filsafat Timur: Sebuah Pengantar ke Pemikiran-Pemikiran Timur. Yogyakarta: Jalasutra.


Komentar

Postingan Populer