Makalah Revolusi Industri Inggris

Makalah 
Revolusi Industri Inggris

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
        Revolusi biasanya diartikan sebagai suatu perubahan yang terjadi secara cepat, perombakan, pembaharuan yang radikal, mengganti tatanan lama menjadi tatanan baru dari kehidupan masyarakat. Namun revolusi lebih sering diartikan orang sebagai suatu pemberontakan. Revolusi biasanya didahului oleh adanya evolusi melalui proses yang cukup matang. Meskipun antara revolusi dan evolusi memiliki pengertian yang berbeda namun antara keduanya sulit dipisahkan.
        Revolusi sering juga dilukiskan sebagai suatu perubahan mendasar yang dapat berakibat mempengaruhi pola pikir masyarakat atau rakyat, kehidupan, dan cara-cara menata pemerintahan. Revolusi industri memicu tibulnya berbagai peristiwa yang menjadikan manusia mengerti arti human nature dan lingkungan masyarakat.
        Terjadi berbagai perubahan dalam industri barang-barang dan dalam perdagangan selama tahun 1700 yang mengantarkan pada peristiwa revolusi. Revolusi industri menghasilkan cara-cara menggunakan metode-metode produksi dan pola-pola baru dalam kehidupan ekonomi. Pada revulusi industri, perubahan tidak hanya terjadi pada aspek industri, namun juga mengubah kehidupan masyarakat di berbagai aspeknya. Revolusi industri diwarnai oleh berbagai perubahan. Perubahan cara kerja yang radikal dari penggunaan tenaga manusia menjadi cara kerja dengan tenaga mesin yang bekerja secara mekanis.  Dengan ini dimulailah zaman mesin yang memberi sumbangan positif maupun negatif  bagi masyarakat.
1.2    Batasan Masalah
Batasan masalah dari penelitian ini adalah revolusi industri dan segala yang dihasilkan dari revolusi industri ini dari tahun 1700 sampai pada tahun 1900.
         
1.3    Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini sebagai berikut:
1.      Dimana revolusi industri pertama kali dilahirkan?
2.      Bagaimana proses revolusi industri terjadi?
3.      Apa saja akibat yang ditimbulkan oleh revolusi industri?
1.4    Tujuan Penulisan
Penulisan ini memilki tujuan sebagai berikut:
1.      Kita bisa mengetahui tempat pertama kali revolusi industri dilahirkan.
2.      Mengatahui bagaimana proses revolusi industri terjadi.
3.      Mengetahui akibat yang ditimbulkan oleh revolusi  industri.
1.5    Manfaat
        Manfaat dari penulisan makalah revolusi industri 1700-1900 memberi pemahaman yang lebih kapada semua pembaca. Dimulai dari kelahiran revolusi industri, proses terjadinya revolusi industri sampai pada akibat-akibat yang ditimbulkan oleh revolusi industri itu sendiri.
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Sebagai salah satu tugas mata kuliah Geografi Sejarah.
2.      Sebagai salah satu kajian dalam matakuliah Geografi Sejarah.
3.      Menambah pemahaman dan cakrawala berfikir bagi penulis.
4.      Sebagai bahan diskusi bagi para mahasiswa agar dapat lebih memahami tentang pengaruh geografi terhadap perkembangan kebudayaan, politik, agama dan sosial masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Tempat Pertama Kali Revolusi Industri Dilahirkan
Untuk mengetahui mengapa Revolusi Industri terjadi di Inggris dan bukan terjadi di tempat lain, yang perlu kita ketahui adalah syarat-syarat yang dapat menimbulkan revolusi industri itu, pendapatan-pendapatan yang merupakan langkah penting dalam perkembangannya dan akibat pentind dari revolusi itu. Ada beberapa faktor yang mendorong revolusi industri terjadi di Inggris, yakni sebagai berikut:
a)      Faktor Geografis
Letak geografis Inggris yang bersebelahan dengan samudra Atlantik memberikan banyak keuntungan bagi negara ini dan biasanya disebut sebagai “samudra dunia” pada masa itu. Pergeseran pusat kegiatan ekonomi dari Laut Tengah ke daerah pesisir Samudra Atlantik, ke negara Inggris dan Belanda. Pergeseran ini disebabkan karena penemuan jalan menuju benua Amerika dan timbulnya Kerajaan Turki-Islam dibagian timur Laut Tengah. Akibatnya, sejak abad XVIII posisi Inggris yang terletak di Samudra Pasifik memperoleh banyak keuntungan dari segi ekonomi, industri, dan perdagangan yang menyebabkan kemakmuran negara Inggris mulai meningkat karena keuntungan yang diperoleh.
b)      Faktor Modal
Kemakmuran yang mulai nampak di Inggris pada abad XVIII mulai nampak dan menempatkan negara tersebut memiliki banyak uang (modal). Selain itu, perolehan modal yang melimpah ini juga didapatkan dari tanah jajahan, yakni: emas dari Benggala dan India. Emas yang mengalir dari tanah jajahan merupakan salah satu syarat yang diperlukan bagi pertumbuhan industri. Investasi modal digunakan untuk memperluas lalulintas jalan-jalan di Inggris yang belum dapat dikatakan baik (jalan berpasir, sempit, pada saat musim panas menjadi jalan yang berdebu dan dalam musim dingin menjadi semacam kubangan). Dan dari pihak swasta ada yang berinisiatif memperbaiki jalan-jalan namun dengan memungut cukai jika orang memakai jalan tersebut.
Tampilnya kaum borjuis merupakan kesempatan yang baik untuk mendapatkan banyak keuntungan. Dengan cara harus meninggalkan cara-cara lama yang tidak memadai maka dicarilah cara-cara baru sebagai uapaya untuk meningkatkan usahanya. Misalnya ketika para pemilik pengecor besi mengetahui bahwa mereka tidak dapat melayani permintaan barang yang meningkat karena kekurangan bahan bakan pada masa itu karena masih mengguanakan bahan bakar kayu maka dicobalah pemakainan batu bara yang ternyata memiliki hasil lebih baik.
c)      Faktor Sumber Daya Manusia
Inggris memiliki ilmuwan terkenal yang berhasil mendorong banyaknya penemuan dalam bidang fisika dan teknologi terapan seperti yang ditemukan oleh Thomas Newcomen (1663-1792), ia disebut sebagai penemu pertama mesin uap yang dapat dipakai. Mesin tertua ini hanya dapat dipakai naik turun saja dan dapat digunakan untuk pompa tambang. James Watt orang yang berjasa sebagai pembuka jalan bagi modernisasi pertambangan (1736-1819), penemuan mesin yang ditemukan oleh Thomas Newcomen kemudian disempurnakan oleh James Watt ketika orang mulai tertarik untuk menggali tambang dengan arang batu dan besi, gerak turun naik dijadikan gerak putar hingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan. James Hargreaves dikenal sebagai penemu mesin pintal (...-1778), Richard Arkwright dikenal sebagai penemu mesin tenun(1732-1792), Elie Whitney penemu cotton gin yakni alat yang dapat mengeluarkan biji dari serabut kapas (1765-1825), dan George Stephenson dikenal sebagai pemnbuat lokomotif dan pada tahun1830, ia berhasil mengendarai besi pertama antara Liverpool dan Manchester dengan kecepatan antara 19-46 km/jam(1781-1840).
Sumber daya manusia ini merupakan salah satu komponen yang penting didalam revolusi industri.
d)     Faktor Sumber Daya Alam
Inggris memiliki sejumlah potensi daya alam yang menunjang, seperti: besi dan batu bara yang jumlahnya sangat melimpah, disamping tersedianya bahan mentah. Tersedianya sumber bahan mentah ini sebagian didapatkan dari tanah-tanah jajahan yang kemudian diolah menjadi barang jadi oleh mesin-mesin itu. Inggris memiliki armada laut yang sangat tangguh dan armada niaganya sangat besar yang menjamin pengangkutan bahan-bahan mentah dan barang-barang jadi ke dan dari pelabuhan-pelabuhan Inggris dengan lancar dan aman. Para buruhpun tersedia dalam jumlah besar diperuntukkan guna melayani mesin-mesin baru. Tenaga-tenaga buruh itu didapat dari bekas petani kecil korban revolusi Agraria dan banyak juga yang diperoleh dari orang-orang pencari kerja yang dahulu mendapat nafkah dari industri rumah tangga yang tidak mampu bersaing dengan industri-industri besar yang mulai bermunculan.
2.2  Proses Revolusi Industri Terjadi
Revolusi industri ini ditandai dengan adanya perubahan ekonomi dan teknik yang terjadi di Inggris pada abad XVIII dan XIX. Untuk membahas terjadinya revolusi industri kita terlebih dahulu membahas berbagai masalah yang medahului terjadinya revolusi, seperti Revolusi Agraria, Pertekstilan, Transportasi, dan Industri Besi dan Baja.
1)   Revolusi Agraria
Faktor penting dalam revolusi industri adalah terjadinya perubahan-perubahan dalam bidang pertanian yang kemudian disebut sebagai revolusi agraria. Sitem pembagian tanah untuk tujuan penggrapan yang berlangsung dan merupakan warisan feodal abad pertengahan  tidak dapat dipertahankan  lagi, lebih-lebih pada awal abad XVIII mulai terasa terjadinya pertambahan penduduk. Sistem manor yang menempatkan kedudukan lord dan petani, corak ekonomi rumah tangga alam yang harus memenuhi kebutuhan sendiri secara lambat laun mulai berubah kearah perdagangan pertanian menuju pada sasaran hasil panen untuk kepentingan pasar.
Pada pertengahan abad XVIII terjadi gerakan pemagaran yang dianggap sebagai gerkan revolusi Agraria di Inggris. Pera pemilik tanah memiliki keinginan untuk meningkatkan hasil pertanian dan pertenakan dengan metode-metode baru yang ditemukan oleh Jethro Tull, Lord Charles Townshend, dan Robert Bakewell.
Sistem pemagaran dan ladang tertutup ini sangat menguntungkan bagi pemilik tanah yang sebagai petani besar mengelola ladangnya sendiri namun sangat tidak menguntungkan bagi golongan petani kecil yang pada akhirnya mereka terpaksa menjual tanahnya kepada petani besar. Dengan demikian mereka menjadi orang-orang yang tidak memiliki tanah dan untuk mencari nafkah mereka menjadi buruh di usaha-usaha pertanian besar ataupun pabrik-pabrik yang sudah banyak mulai bermunculan. Meskipun sistem pemagaran dan ladang tertutup ini memberikan dampak negatif pada para petani kecil, tetapi dilihat dari kepentingan bangsa Inggris secara keseluruhan, sistem ini merupakan suatu keharusan. Berkat sistem ini produksi pertanian dan peternakan dapat ditingkatkan. Peningkatan ini sangat perlu mengingat terjadinya peningkatan jumlah penduduk di Inggris. Dari pertengahan hingga akhir abad XVIII penduduk Inggris dan Wales meningkat dari 6 juta menjadi 9 juta, dan seabad kemudian bahkan meningkat menjadi 36 juta jiwa.
Revolusi Agraria telah menempatkan metode baru di bidang pertanian sehingga mendorong lebih cepatnya hasil-hasil pertanian seiring dengan laju pertambahan penduduk pada masa itu. Akibat Revolusi Agraria telah ditemukan tehnik unsur kimia untuk pertanian yang diciptakan oleh Von Liebig, seorang sarjana kimia bangsa Jerman (1840) yaitu melalui pemupukan yang mengandung unsur-unsur kimia, tanah bisa menjadi lebih subur dan banyak menghasilkan tanaman-tanaman pangan.
2)   Revolusi Pertekstilan
Setelah tahun 1500 beberapa penemu alat pintal berhasil. Pemakaian cara kerja mesin pintal dan tenun mendorong terjadinya Revolusi Pertekstilan. Dapat kita katakan bahwa Revolusi Pertekstilan merupakan awal Revolusi Industri. Alat untuk memisahkan biji-biji kapas yang masih terbuat dari kayu membutuhkan banyak tenaga manusia dan hal ini dinilai tidak efisien mengingat kebutuhan sandang sejak Abad XVIII di Eropa mulai meningkat. Seperti kita ketahui bahwa pada masa itu sumber bahan mentah kapas (tree wool) diimpor dari dunia timur dan proses pembuatan bahan sandang masih manual termasuk pembuatan kain wool. John Kay of Bury (d.1764) telah menemukan pengganti perkakas tenun manual dengan menggunakan mesin yang pertama. Penemuan alat ini mendorong percepatan cara kerja alat itu dalam memproses pembuatan kain.  Dalam tahun 1700, produksi tekstil terbesar dan terkenal adalah Inggris. Akibat uang melimpah, orang-orang dapat menanam modalnya dalam pemakaian mesin baru. Penemuan masin-mesin baru ini mendorong banyak didirikan pabrik-pabrik tekstil yang didirikan di tepi sungai-sungai deras karena daya pengeraknya adalah air bukan lagi manusia. Namun setelah menggunakan tenaga uap, pabrik-pabrik dapat didirikan dimanapun.
Penggatian dari tenaga manusia ke tenaga mesin yang bersifat mekanis, tidak terlepas dari pertumbuhan penduduk Eropa yang meningkat. Daerah-daerah koloni Inggris khususnya di Amerika Utara sangat membutuhkan sandang dan untuk mencukupi hal tersebut, jumlah produksi harus ditingkatkan secara cepat melalui penggunaan mesin. James Hargreave, Richard Arkwright, dan Elie Whitney merupakan para penemu mesin baru dan berjasa menemukan cotton gin yaitu mesin pemisah biji kapas dan memudahkan kapas tampak lebih putih. Sejak digunakan cotton gin dalam waktu sehari menghasilkan ratusan pound kapas bersih dan produksi kapas di Amerika Serikat melonjak tajam dari 189.000 pound pada tahun1791 menjadi 2.000.000 pound dalam tahun 1860, dan patahun 1900 menjadi 5.000.000 pound.
Persaingan tekstil dari dunia Timur mendorong para pengusaha tekstil Inggris untuk merebut kembali pasarannya di dalam negeri maupun di Eropa dan harus dilakukan perubahan peningkatan produksi maupun kualias barang. Untuk memenuhi hal tersebut perlu diciptakan mesin-mesin alat produksi baru.
3)   Revolusi Transportasi
Pertengahan Abad XVIII, pengangkutan barang dari satu tempat ke tampat lain sangat lamban dari pada zaman pemerintahan Roma 15 abad sebelumnya dikarenakan buruknya kondisi jalan-jalan. Jalan-jalan hampir tidak dapat dilalui pada musim dingin, dan kuda-kuda beban serta sapi-sapi penarik merupakan satu-satunya alat pengangkut yang dapat digunakan. Sebagian besar kehidupan ekonomi di Inggris terpusat di daerah-daerah bagian timur, selatan, dan disekitar kota London, dan pengangkutan barang lewat sungai-sungai dirasa sudah mencukupi mengakibatkan belum adanya penanganan yang serius untuk memperbaiki jalur perhubungan sampai pada pertengahan abad ini.
Sarana transportasi berupa jalan-jalan, jembatan-jembatan, dan alat angkutan harus disiapkan dengan baik baru disadari oleh Inggris sejak digunakannya batu bara sebagai bahan bakar pengecor besi dan pengerak mesin-mesin uap. Kehidupan ekonomi sebagian besar berubah ke utara karena pabrik-pabrik baru hampir semuanya berlokasi di utara agar dekat dengan tambang-tambang batu bara. Prasarana jalan amat penting untuk mengangkut bahan-bahan mentah serta keperluan-keperluan lainya ke pabrik-pabrik dan perkampungan-perkampungan industri. Hal ini mempermudah dan memperlancar pengangkutan barang-barang jadi dari daerah-daerah industri ke segala penjuru negeri bahkan kesegala penjuru dunia. Kaum industrialis mendesak pemerintahan agar jalan-jalan segera diperbaiki dan Parlemen memberikan respon positif dengan perusahaan dengan apa yang dinamakan Turnpike Acts yaitu undang-undang yang memberi wewenang kepada para tuan tanah dan usahawan yang berniat untuk membangun dan memelihara jalan-jalan serta memungut bayaran dari orang-orang yang menggunakan jalan tersebut. Dengan adanya undang-undang itu maka, dalam waktu yang tidak lama jaringan jalan-jalan yang agak bermutu telah dibangun di Inggris dibawah kekuasaan para pemegang Turnpike namun jalan-jalan itu masih sukar ditemui apalagi saat musim dingin.
Baru pada awal Abad XIX dapat dibagun jalan-jalan yang tahan terhadap segala cuaca setelah Telford dan John Mac Adam menemukan cara-cara ilmiah untuk membangun jalan. Sementara itu, jalan-jalan yang masih kurang baik dan pungutan yang dirasa memberatkan bagi pengguna mendorong Duke of Brigewater untuk mengali saluran-saluran yang dapat digunakan sebagai sarana angkutan air. Hal ini segera diikuti oleh pengusaha lain sehingga dalam waktu yang relatif singkatjaringan saluran yang silang menyilang didaratan Inggris telah meliputi ratusan mil.
 Awal abad XIX dilakukan percobaan-percobaan dengan kapal-kapal yang digerakkan oleh tenaga mesin uap dengan hasil yang cukup memuaskan. Pada tahun 1820-an, kereta api pertama dicobakan dengan hasil yang memuaskan pula. George Stephenson (1781-1848) berhasil menemukan lokomotif yang digerakkan oleh tenaga uap dengan kecepatan 29 mil/jam dari daerah Liverpool ke Manchester mengalahkan kecepatan kereta uap sebelumnya yang memiliki kecepatan 5 mil/jam. Pemakaian transportasi dengan menggunakan lokomotif temuan Stepehenson ini mendorong para usahawan untuk memperluas jaringan kereta api di Inggris. Kereta api memiliki fungsi penting sebagai sarana darat karena tidak hanya untuk membawa para penumpang tetapi dapat juga digunakan untuk mengangkut barang. Maka, dibuatlah jalan-jalan kereta api di pusat-pusat industri seperti yang terdapat di Birmingham, Manchester, Leeds, dan Shaeffied, dan kemudian dihubungkan dengan setiap pelabuhan di London, Southampton, Plymouth, Bristol, dan Liverpool.
Penggunaan mesin uap pada transportasi berkembang dengan cepat dan membantu perkembangan industri di Inggris. Lebih banyak bahan mentah, bahan bakar, dan bahan keperluan lainnya dapat diangkut ke daerah-daerah industri, dan sebaliknya, banyak barang-barang jadi diangkut dan dipasarkan kemanapun di dunia dengan lebih cepat dan murah.
4)   Revolusi Pengolahan Besi dan Batubara
Kebutuhan besi yang meningkat mempenggaruhi industri logam menjadi keperluan pokok sebab perdagangan dan industri yang semakin luas. Sebelum tahun 1760an, penambangan besi dilakukan secara manual melalui tungku-tungku sederhana dengan menggunakan arang kayu yang dinilai kurang efisien dan hasilnya juga kurang maksimal dikarenakan pembuatan barang dari besi belum melalui pemrosesan besi dalam tanur-tanur yang bersuhu tinggi. Sementara itu, batubara menjadi menjadi barang tambang penting selama abad XVIII. Orang pertama yang berhasil menemukan batu bara untuk bahan melebur besi adalah Abraham Darby (sekitar tahun1700) dipicu penggunaan kayu hutan sebagai bahan bakar sangat merugikan hutan di Inggris dan menjadi gundul. Melalui percobaan itu, Darby membandingkan bahwa penggunaan arang kayu tidaklah efisien dan menguntungkan jika dibanding dengan pemakaian biji batubara. Penggunaan biji batubara ini juga lebih murah serta dapat menghasilkan barang-barang yang terbuat dari besi dalam jumlah besar.
Penemuan Darby ini kemudian diperbaiki dan disempurnakan oleh dua insinyur mesin, yakni John Smeaton (1724-1792) dan Henry Cort (1740-1800). Dalam peleburan biji besi Darby menggunakan sumber tenaga air dengan komponen isi empat silinder dilengkapi dengan piston dan katup untuk mengerakkan roda air namun kedua insinyur itu menggunakan proses baru yaitu puddling (genangan air). Png-iron (besi tuang) ditempatkan kedalam reverberatory furnace (tungku yang bergema) kemudian dipanaskan dalam suhu tinggi sampai berubah menjadi tidak lagi mempunyai unsur karbon (decarbonized) yang berarti oksigennya terdapat dalam sirkulasi udara dalam tanur tersebut. Berkat penemuan ini produksi besi meningkat dari 48.000 ton pada tahun 1740 menjadi 8.000.000 pada tahun 1884 dan 7,517 puddling dioperasikan. Inggris dikenal sebagai negara penghasil besi dan baja yang berlimpah dan berkualitas tinggi dan mendapat julukan workshop of the world yaitu bengkel Eropa karena melimpahnya hasil industri besi dan juga menguasai pasar-pasar industri dunia di samping menjadi anutan dalam teknologi metal. Industrialisasi ini juga meluas ke kontinen, bahkan sampai Amerika Utara.
2.3  Dampak Yang Ditimbulkan oleh Revolusi Industri
Revolusi Industri tidak hanya memacu meningkatnya barang-barang produksi di Inggris namun juga dapat mengubah struktur sosial kemasyarakatan. Perubahan ini menyentuh berbagai aspek kehidupan sosial ekonomi, sistem politik, dan sistem kekuasaan.
Dampak yang pertama adalah dalam masalah ekonomi yang membawa akibat sosial yang mendalam. Yaitu terjadi perpindahan penduduk dari desa-desa ke daerah-daerah industri yang sebagian besar terletak di Inggris barat laut. Ditinjau dari aspek sosial, terjadinya perubahan struktur masyarakat. Sebelum lahirnya revolusi industrio masyarakat Inggris merupakan masyarakat feodal, raja beserta kaum bangsawan menempati strata teratas, sedangkan rakyat jelata yang terdiri dari petani kecil, buruh, pengrajin, dan sebagainya merupakan lapisan bawah. Setelah revolusi Industri muncul golongan baru, yaitu: 1. Golongan Aristokrat, kaum bangsawan yang meskipun masih terhormat namun peran mereka dalam bidang ekonomi telah berkurang dan tersisih; 2. Golongan Borjuis atau kapitalis, kelompok baru yang muncul. Mereka sebelumnya merupakan para tuan tanah yang mengalihkan usahanya ke bidang industri, sebagian lagi menjadi kaum pedagang yang memiliki modal besar dan para bankir. Golongan ini tidak menguasai sebagian besar ekonomi negara namun menguasai bidang politik melalui Majelis Rendah; 3. Golongan Menengah ini terdiri dari para pegawai, pedagang kecil yang hidupnnya tidak tergantung pada pertanian; 4. Kaum Buruh Pabrik, jumlahnya semakin hari semakin besar. Mereka bernasib tidak baik, upah mereka sangat ditentukan oleh para majikan; 5. Petani Kecil, hidupnya semakin sulit karena peranan pertanian semakin merosot.
Dampak Revolusi Industri di bidang ekonomi. Berbagai pendirian pabrik sangat membutuhkan kapital. Hal ini memunculkan para pembisnis yang bertindak sebagai pengusaha. Para kapitalis membentuk usaha bersama, membentuk organisasi perdagangan (koporasi). Mereka menganut ekonomi liberal jadi menolak segala campur tangan negara dalam perusahaan, sebab dianggap sebagai paksaan gilda yang mereka anggap telah menjadi usang.
Muncul sistem kerja pabrik dan timbul apa yang dinamakan buruh pabrik. Kaum borjuis yang sebagian menjadi kaum industrialis semata-mata mencari dan memupuk kekayaan, mereka hanya memperhatikan hal-hal yang menurut mereka dapat memperbesar keuntungan. Dalam hal ini yang menjadi korban adalah kaum buruh karena mereka kawatir kehilangan sebagian keuntungannya jika memperhatikan dan mengusahakan kesejahteraan kaum pekerja. Tenaga murah sengaja dieksploitasi, para buruh dipaksa bekerja 10-18 jam sehari sesuai keinginan majikan. Para majikan yang telah menjadi kaya dan melihat negaranya menjadi kuat dan disegani berkat usaha mereka, tidak mengalami kesulitan dalam menemukan alasan-alasan mengapa kaum buruh sedemikian keadaanya. Mereka menentang usaha-usaha pemerintah untuk mencampuri dalam urusan-urusan ekonomi yang dapat dianggap merugikan kepentingan mereka. Kaum borjuis atau kapitalis memiliki slogan laissez faire  (biarkan saja) keadaan ini bukan kesalahan siapapun, melainkan sudah merupakan akibat alamiah berlakunya hukum-hukum ekonomi, demikian pandangan kaum kapitalis.
Dampak dalam bidang ketenagaaan menjadikan posisi tenaga kerja buruh sebagai kelas yang tertindas. Mereka dikenal sebagai kelompok proletariat, bekerja di pabrik dan menerima upah yang terlalu murah, bekerja sangat lama, tidak ada jaminan sosial, serta hidupnya semakin sulit.
Revolusi industri juga menghasilkan kaum tehnokrat atau tehnisi yang memegang peranan penting dalam dunia industri. Karena tanpa kemahiran yang mereka miliki tentunya tidak ada pabrik yang dapat berjalan atau bahkan didirikan. Kaum tehnisi memperoleh penghargaan tinggi baik dalam arti materiil maupun status sosial namun mereka tidak ikut memainkan peran penting dalam gerakan sosial dan politik yang sedang dan akan terjadi.
Produksi mekanis juga menunjukkan dampak segi negatif. Selain menghasilkan kemakmuran, zaman mesin ini juga telah membawa bencana yang tidak terelakkan. Meskipun orang mencegah peraturan sosial mengenai upah rendah, kerja bagi wanita dan kanak-kanak, kerja malam dan perumahan yang buruk, tetapi disitu masih terdapat problem sosial, seperti berjejalnya penduduk di kota-kota, berkuasanya motif mencari untung, kerangnya hubungan kewargakotaan dan keagamaan. Selama periode industrialisasi, telah menunjjukkan kemajuan hasil industri yang sangat pesat di antara tahun1750-1850, produksi perkapita bertambah dua setengah kali. Kelas Atas dan kelas Menengah memperoleh keuntungan di antara kehidupan kaum pekerja yang miskin.
Proletariat industri tergantung dari perekonomian dunia dan mereka sangat dieksploitasi. Organisasi pabrik, kehidupan di pabrik, dan efisiensi tehnis tidak memperhitungkan kemanusiaan dan nilai-nilai pekerja sebagai manusia, maka akibatnya sebagai reaksi keras kerap kali timbul agitasi yang berkobar-kobar. Hubungan antara kapital dengan pekerja menimbulkan masalah sosial yang tidak dapat dipecahkan hanya dengan philantropy. Pekerja mulai sadar akan kedudukannya dan menjadi semakin peka terhadap aturan perbaikan masyarakat.
Damapak negatif lain yang ditimbulkan adalah hancurnya tata nilai lama. Bagi mereka yang dulu terbiasa bekerja di desa kemudian tinggal dan bekerja di kota, tidak saja sistem kerja yang dirombak tetapi juga seluruhsusunan kehidupan sosialnya berubah. Mereka dicampakkan seorang diri ditengah-tengah kebisingan mesin dan pabrik, dimana hanya ada oersaingan dan setiap orang hanya bisa menolong dirinya sendiri. Kehidupan keluarga hilang karena kemiskinan, jerih payah dan jam-jam kerja yang panjang. Sistem kekerabatan hilang karena tidak ada waktu untuk bersantai dan tidak ada tempat berteduh untuk bercengkrama. Para buruh dari desa datang tanpa ketrampilan, tidak hanya kehilangan hak-hak dan harga diri namun juga kehilangan tradisi dan sistem nilai yang pernah ada.  Alam industri membuat manusia bekerja bukan menurut keinginannya sendiri tetapi diatur oleh kepentingan pihak lain dan terkadang pekerja diperlakukan seperti mesin. Awal industrialisasi menunjukkan gejala-gejala pelanggaran hak azasi manusia.
Selama awal abad XIX, telah terjadi beberapa pemberontakan kaum buruh di Inggris pada tahun 1816, 1822, dan 1830. Mereka tidak hanya menghancurkan pabrik-pabrik besar di Inggris tetapi juga menuntut agar Parlemen melindungi hak-hak mereka namun dalam prakteknya Parlemen tidak dapat membelaka kepentingan kaum miskin. Ikatan sekerja buruh Inggris pada Abad XIX terus berjuang agar hak-hak mereka dapat terjamin dan terpenuhi. Tahun 1809, pemerintahan Inggris mendirikan gedung khusus untuk perusahaan asuransi dan diberi nama Room of Lloyd of London. Pada akhir Abad XIX, Lloyd sebagai perusahaan asuransi disebut-sebut sebagai perusahaan terbesar di dunia. Perusahaan ini memberikan banyak manfaat bagi para pekerja yang ikut terdaftar demi memperbaiki nasib dan pekerjaan mereka di masa depan. Tahun 1833, Parlemen telah membuat undang-undang untuk melindungi para tenaga kerja. Para pengusaha pabrik dilarang memperkerjakan anak dibawah umur (kurang dari 9 tahun), anak-anak yang berusia 9-13 tahun dapat dipekerjakan tidak lebih dari 48 jam per minggu atau 9 jam perhari. Undang-undang ini khusus diterapkan pada industri pertekstilan. Meskipun undang-undang ini telah dibuat namun undang-undang ini masih berpihak pada para pemilik pabrik.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Revolusi industri telah memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan kehidupan masyarakat Inggris maupun masyarakat di dunia. Revolusi industri menghasilkan cara-cara menggunakan metode-metode produksi dan pola-pola baru dalam kehiduoan ekonomi dan memberikan beberapa peruabahan dalam industri barang dan dalam perdagangan.
Hal ini memberikan dampak positif dan negatif bagi masyarakat. Berbagai perusahaan yang dihasilkan oleh proses industrialisasi berpengaruh bagi perkembangan transportasi, komunikasi dan perdagangan. Meskipun kekayaan yang besar telah dihasilkan namun distribusi kekayaan tidak dapat dicapai secara merata dan terjadi kesenjangan sosial. Masyarakat yang hidup di kawasan industri menghadapi berbagai problem seperti polusi, kemacetan, kebisingan, dan perkampungan kumuh. Dengan revolusi industri maka zaman mesin telah dimulai. Irama mesin telah mengubah corak kehidupan dunia kita sampai saat ini.
 
Daftar Pustaka
Sundoro, Mohammad Hadi.2007.Dari Renaisans sampai Imperialisme Modern.Jember:University Press.








Revolusi Industri merupakan periode antara tahun 1750-1850 di mana terjadinya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Revolusi Industri dimulai dari Britania Raya dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang, dan akhirnya ke seluruh dunia.
Revolusi Industri menandai terjadinya titik balik besar dalam sejarah dunia, hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh Revolusi Industri, khususnya dalam hal peningkatan pertumbuhan penduduk dan pendapatan rata-rata yang berkelanjutan dan belum pernah terjadi sebelumnya. Selama dua abad setelah Revolusi Industri, rata-rata pendapatan perkapita negara-negara di dunia meningkat lebih dari enam kali lipat. Seperti yang dinyatakan oleh pemenang Hadiah Nobel, Robert Emerson Lucas, bahwa: "Untuk pertama kalinya dalam sejarah, standar hidup rakyat biasa mengalami pertumbuhan yang berkelanjutan. Perilaku ekonomi yang seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya".[1]
Inggris memberikan landasan hukum dan budaya yang memungkinkan para pengusaha untuk merintis terjadinya Revolusi Industri.[2] Faktor kunci yang turut mendukung terjadinya Revolusi Industri antara lain: (1) Masa perdamaian dan stabilitas yang diikuti dengan penyatuan Inggris dan Skotlandia, (2) tidak ada hambatan dalam perdagangan antara Inggris dan Skotlandia, (3) aturan hukum (menghormati kesucian kontrak), (4) sistem hukum yang sederhana yang memungkinkan pembentukan saham gabungan perusahaan (korporasi), dan (4) adanya pasar bebas (kapitalisme).[3]
Revolusi Industri dimulai pada akhir abad ke-18, dimana terjadinya peralihan dalam penggunaan tenaga kerja di Inggris yang sebelumnya menggunakan tenaga hewan dan manusia, yang kemudian digantikan oleh penggunaan mesin yang berbasis menufaktur. Periode awal dimulai dengan dilakukannya mekanisasi terhadap industri tekstil, pengembangan teknik pembuatan besi dan peningkatan penggunaan batubara. Ekspansi perdagangan turut dikembangkan dengan dibangunnya terusan, perbaikan jalan raya dan rel kereta api.[4] Adanya peralihan dari perekonomian yang berbasis pertanian ke perekonomian yang berbasis manufaktur menyebabkan terjadinya perpindahan penduduk besar-besaran dari desa ke kota, dan pada akhirnya menyebabkan membengkaknya populasi di kota-kota besar di Inggris.[5]
Awal mula Revolusi Industri tidak jelas tetapi T.S. Ashton menulisnya kira-kira 1760-1830. Tidak ada titik pemisah dengan Revolusi Industri II pada sekitar tahun 1850, ketika kemajuan teknologi dan ekonomi mendapatkan momentum dengan perkembangan kapal tenaga-uap, rel, dan kemudian di akhir abad tersebut perkembangan mesin pembakaran dalam dan perkembangan pembangkit tenaga listrik
Faktor yang melatarbelakangi terjadinya Revolusi Industri adalah terjadinya revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke 16 dengan munculnya para ilmuwan seperti Francis Bacon, René Descartes, Galileo Galilei serta adanya pengembangan riset dan penelitian dengan pendirian lembaga riset seperti The Royal Improving Knowledge, The Royal Society of England, dan The French Academy of Science. Adapula faktor dari dalam seperti ketahanan politik dalam negeri, perkembangan kegiatan wiraswasta, jajahan Inggris yang luas dan kaya akan sumber daya alam.
Istilah "Revolusi Industri" sendiri diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19. Beberapa sejarawan abad ke-20 seperti John Clapham dan Nicholas Crafts berpendapat bahwa proses perubahan ekonomi dan sosial yang terjadi secara bertahap dan revolusi jangka panjang adalah sebuah ironi.[6][7] Produk domestik bruto (PDB) per kapita negara-negara di dunia meningkat setelah Revolusi Industri dan memunculkan sistem ekonomi kapitalis modern.[8] Revolusi Industri menandai dimulainya era pertumbuhan pendapatan per kapita dan pertumbuhan ekonomi kapitalis.[9] Revolusi Industri dianggap sebagai peristiwa paling penting yang pernah terjadi dalam sejarah kemanusiaan sejak domestikasi hewan dan tumbuhan pada masa Neolitikum.[10]

Etimologi
Awal mula penggunaan istilah "Revolusi Industri" ditemukan dalam surat oleh seorang utusan Perancis bernama Louis-Guillaume Otto pada tanggal 6 Juli 1799, dimana dia menuliskan bahwa Perancis telah memasuki era industrialise..[11] Dalam buku terbitan tahun 1976 yang berjudul : Keywords: A Vocabulary of Culture and Society, Raymond Williams menyatakan bahwa kata itu sebagai sebutan untuk istilah "industri".
Revolusi Industri adalah perubahan besar, secara cepat, dan radikal yang mempengaruhi kehidupan corak manusia sering disebut revolusi. Istilah revolusi biasanya digunakan dalam melihat perubahan politik atau sistem pemerintahan. Namun, Revolusi Industri di Inggris pada hakikatnya adalah perubahan dalam cara pembuatan barang-barang yang semula dikerjakan dengan tangan (tenaga manusia) kemudian digantikan dengan tenaga mesin. Dengan demikian, barang-barang dapat dihasilkan dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif singkat.
Sebab-sebab timbulnya Revolusi Industri
Revolusi Industri untuk kali pertamanya muncul di Inggris. Adapun faktor-faktornya yang menyebabkannya adalah sebagai berikut:
  • Situasi politik yang stabil. Adanya Revolusi Agung tahun 1688 yang mengharuskan raja bersumpah setia kepada Bill of Right sehingga raja tunduk kepada undang-undang dan hanya menarik pajak berdasarkan atas persejutuan parlemen.
  • Inggris kaya bahan tambang, seperti batu bara, biji besi, timah, dan kaolin. Di samping itu, wol juga yang sangat menunjang industri tekstil.
  • Adanya penemuan baru di bidang teknologi yang dapat mempermudah cara kerja dan meningkatkan hasil produksi, misalnya alat-alat pemintal, mesin tenun, mesin uap, dan sebagainya.
  • Kemakmuran Inggris akibat majunya pelayaran dan perdagangan sehingga dapat menyediakan modal yang besar untuk bidang usaha. Di samping itu, di Inggris juga tersedia bahan mentah yang cukup karena Inggris mempunyai banyak daerah jajahan yang menghasilkan bahan mentah tersebut.
  • Pemerintah memberikan perlindungan hukum terhadap hasil-hasil penemuan baru (hak paten) sehingga mendorong kegiatan penelitian ilmiah. Lebih-lebih setelah dibentuknya lembaga ilmiah Royal Society for Improving Natural Knowledge maka perkembangan teknologi dan industri bertambah maju.
  • Arus urbanisasi yang besar akibat Revolusi Agraria di pedesaan mendorong pemerintah Inggris untuk membuka industri yang lebih banyak agar dapat menampung mereka.
Tahap Perkembangan Industri
Pada akhir abad Pertengahan kota-kota di Eropa berkembang sebagai pusat kerajinan dan perdagangan. Warga kota (kaum Borjuis) yang merupakan warga berjiwa bebas menjadi tulang punggung perekonomian kota. Mereka bersaing secara bebas untuk kemajuan dalam perekonomian. Pertumbuhan kerajinan menjadi industri melalui beberapa tahapan, seperti berikut.
Sistem Domestik
Tahap ini dapat disebut sebagai tahap kerajinan rumah (home industri). Para pekerja bekerja di rumah masing-masing dengan alat yang mereka miliki sendiri. Bahkan, kerajinan diperoleh dari pengusaha yang setelah selesai dikerjakan disetorkan kepadanya. Upah diperoleh berdasarkan jumlah barang yang dikerjakan. Dengan cara kerja yang demikian, majikan yang memiliki usaha hanya membayar tenaga kerja atas dasar prestasi atau hasil. Para majikan tidak direpotkan soal tempat kerja dan gaji.
Manufaktur
Setelah kerajinan industri makin berkembang diperlukan tempat khusus untuk bekerja agar majikan dapat mengawasi dengan baik cara mengerjakan dan mutu produksinya. Sebuah manufaktur (pabrik) dengan puluhan tenaga kerja didirikan dan biasanya berada di bagian belakang rumah majikan. Rumah bagian tengah untuk tempat tinggal dan bagian depan sebagai toko untuk menjual produknya. Hubungan majikan dengan pekerja (buruh) lebih akrab karena tempat kerjanya jadi satu dan jumlah buruhnya masih sedikit. Barang-barang yang dibuat kadang-kadang juga masih berdasarkan pesanan.
Sistem pabrik
Tahap sistem pabrik sudah merupakan industri yang menggunakan mesin. Tempatnya di daerah industri yang telah ditentukan, bisa di dalam atau di luar kota. Tempat tersebut untuk untuk tempat kerja, sedangkan majikan tinggal di tempat lain. Demikian juga toko tempat pemasaran hasil industri diadakah di tempat lain. Jumlah tenaganya kerjanya (buruhnya) sudah puluhan, bahkan ratusan. Barang-barang produksinya dibuat untuk dipasarkan.
Berbagai jenis penemuan
Adanya penemuan teknologi baru, besar peranannya dalam proses industrialisasi sebab teknologi baru dapat mempermudah dan mempercepat kerja industri, melipatgandakan hasil, dan menghemat biaya. Penemuan-penemuan yang penting, antara lain sebagai berikut.
  • Kumparan terbang (flying shuttle) ciptaan John Kay (1733). Dengan alat ini proses pemintalan dapat berjalan secara cepat.
  • Mesin pemintal benang (spinning jenny) ciptaan James Hargreves (1767) dan Richard Arkwright (1769). Dengan alat ini hasilnya berlipat ganda.
  • Mesin tenun (merupakan penyempurnaan dari kumparan terbang) ciptaan Edmund Cartwight (1785). Dengan alat ini hasilnya berlipat ganda.
  • Cottongin, alat pemisah biji kapas dari serabutnya ciptaan Whitney (1794). Dengan alat ini maka kebutuhan kapas bersih dalam jumlah yang besar dapat tercukupi.
  • Cap selinder ciptaan Thomas Bell (1785). Dengan alat ini kain putih dapat dilukisi pola kembang 200 kali lebih cepat jika dibandingkan dengan pola cap balok dengan tenaga manusia.
  • Mesin uap, ciptaan James Watt (1769). Dari mesin uap ini dapat diciptakan berbagai peralatan besar yang menakjubkan, seperti lokomotif ciptaan Richard Trevethiek (1804) yang kemudian disempurnakan oleh George Stepenson menjadi kereta api penumpang. Kapal perang yang digerakkan dengan mesin uap diciptakan olehRobert Fulton (1814). Mesin uap merupakan inti dari Revolusi Industri sehingga James Watt sering dianggap sebagai Bapak Revolusi Industri I'. Penemuan-penemuan baru selanjutnya, semakin lengkap dan menyempurnakan. Hal ini merupakan hasil Revolusi Industri II dan III, seperti mobil, pesawat terbang, industri kimia dan sebagainya.
Selain itu, Revolusi Industri merupakan masa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menimbulkan penemuan-penemuan baru, seperti berikut :
  • Tahun 1750 : Abraham Darby menggunakan batu bara (cokes) untuk melelehkan besi untuk mendapatkan nilai besi yang lebih sempurna.
  • Tahun 1800 : Alessandro Volta penemu pertama baterai
  • Tahun 1802 : Symington menemukan kapal kincir.
  • Tahun 1807 : Robert Fulton membuat kapal api yang telah menggunakan baling-baling yang dapat menggerakkan kapal. Kapal itu diberi nama Clermont yang mengarungi Lautan Atlantik pertama kali. Kapal ini berangkat dari Paris dan berlabuh di New York. Selanjutnya, Robert Fulton berhasil membuat kapal perang pertama (1814) yang telah digerakkan oleh mesin uap.
  • Tahun 1804 : Richard Trevethick membuat kapal uap.
  • Tahun 1832 : Samuel Morse membuat telegraf.
  • Tahun 1872 : Alexander Graham Bell membuat pesawat telepon.
  • Tahun 1887 : Daimler membuat mobil.
  • Tahun 1903 : Wilbur Wright dan Orville Wright membuat pesawat terbang
Akibat Revolusi Industri
Revolusi Industri mengubah Inggris menjadi negara industri yang maju dan modern. Di Inggris muncul pusat-pusat industri, seperti Lancashire, Manchester, Liverpool, dan Birmingham. Seperti halnya revolusi yang lain, Revolusi Industri juga membawa akibat yang lebih luas dalam bidang ekonomi, sosial dan politik, baik di negeri Inggris sendiri maupun di negara-negara lain.
Akibat di bidang ekonomi
Barang melimpah dan harga murah
Revolusi Industri telah menimbulkan peningkatan usaha industri dan pabrik secara besar-besaran melalui proses mekanisasi. Dengan demikian, dalam waktu singkat dapat menghasilkan barang-barang yang melimpah. Produksi barang menjadi berlipat ganda sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih luas. Akibat pembuatan barang menjadi cepat, mudah, serta dalam jumlah yang banyak sehingga harga menjadi lebih murah.
Perusahaan kecil gulung tikar
Dengan penggunaan mesin-mesin maka biaya produksi menjadi relatif kecil sehingga harga barang-barang pun relatif lebih murah. Hal ini membawa akibat perusahaan tradisional terancam dan gulung tikar karena tidak mampu bersaing.
Perdagangan makin berkembang
Berkat peralatan komunikasi yang modern, cepat dan murah, produksi lokal berubah menjadi produksi internasional. Pelayaran dan perdagangan internasional makin berkembang pesat.
Transportasi semakin lancar
Adanya penemuan di berbagai sarana dan prasarana transportasi yang makin sempurna dan lancar. Dengan demikian, dinamika kehidupan masyarakat makin meningkat.
Akibat di bidang sosial
Berkembangnya urbanisasi
Berkembangnya industrialisasi telah memunculkan kota-kota dan pusat-pusat keramaian yang baru. Karena kota dengan kegiatan industrinya menjanjikan kehidupan yang lebih layak maka banyak petani desa pergi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini mengakibatkan terabaikannya usaha kegiatan pertanian.
Upah buruh rendah
Akibat makin meningkatnya arus urbanisasi ke kota-kota industri maka jumlah tenaga kerja makin melimpah. Sementara itu, pabrik-pabrik banyak yang menggunakan tenaga mesin. Dengan demikian, upah tenaga kerja menjadi murah. Selain itu, jaminan sosial pun berkurang sehingga kehidupan mereka menjadi susah. Bahkan para pengusaha banyak memilih tenaga buruh wanita dan anak-anak yang upahnya lebih murah.
Munculnya golongan pengusaha dan golongan buruh
Di dalam kegiatan industrialisasi dikenal adanya kelompok pekerja (buruh) dan kelompok pengusaha (majikan) yang memiliki industri atau pabrik. Dengan demikian, dalam masyarakat timbul golongan baru, yakni golongan pengusaha (kaum kapitalis) yang hidup penuh kemewahan dan golongan buruh yang hidup dalam kemiskinan.
Adanya kesenjangan antara majikan dan buruh
Dengan munculnya golongan pengusaha yang hidup mewah di satu pihak, sementara terdapat golongan buruh yang hidup menderita di pihak lain, maka hal itu menimbulkan kesenjangan antara pengusaha dan buruh. Kondisi seperti itu sering menimbulkan ketegangan-ketegangan yang diikuti dengan pemogokan kerja untuk menuntut perbaikan nasib. Hal ini menimbulkan kebencian terhadap sistem ekonomi kapitalis, sehingga kaum buruh condong kepada paham sosialis.
Munculnya revolusi sosial
Pada tahun 1820-an terjadi huru hara yang ditimbulkan oleh penduduk kota yang miskin dengan didukung oleh kaum buruh. Gerakan sosial ini menuntut adanya perbaikan nasib rakyat dan buruh. Akibatnya, pemerintah mengeluarkan undang-undang yang menjamin perbaikan nasib kaum buruh dan orang miskin. Undang-undang tersebut, antara lain sebagai berikut:
  1. Tahun 1832 dikeluarkan Reform Bill atau Undang-Undang Pembaharuan Pemilihan. Menurut undang-undang ini, kaum buruh mendapatkan hak-hak perwakilan di dalam parlemen.
  2. Tahun 1833 dikeluarkan Factory Act atau Undang-Undang Pabrik. Menurut undang-undang ini, kaum buruh mendapatkan jaminan sosial. Di samping itu, undang-undang juga berisi larangan pengunaan tenaga kerja anak-anak dan wanita di daerah tambang di bawah tanah.
  3. Tahun 1834 dikeluarkan Poor Law Act atau Undang-Undang Fakir Miskin. Oleh karena itu, didirikan pusat-pusat penampungan dan perawatan para fakir miskin sehingga tidak berkeliaran.
  4. Makin kuatnya sifat individualisme dan menipisnya rasa solidaritas. Dengan adanya Revolusi Industri sifat individualitas makin kuat karena terpengaruh oleh sistem ekonomi industri yang serba uang. Sebaliknya, makin menipisnya rasa solidaritas dan kekeluargaan.
Akibat di bidang politik
Munculnya gerakan sosialis
Kaum buruh yang diperlakukan tidak adil oleh kaum pengusaha mulai bergerak menyusun kekuatan untuk memperbaiki nasib mereka. Mereka kemudian membentuk organisasi yang lazim disebut gerakan sosialis. Gerakan sosialis dimotivasi oleh pemikiran Thomas Marus yang menulis buku Otopia. Tokoh yang paling populer di dalam pemikiran dan penggerak paham sosialis adalah Karl Marx dengan bukunya Das Kapital.
Munculnya partai politik
Dalam upaya memperjuangkan nasibnya maka kaum buruh terus menggalang persatuan. Apalagi dengan makin kuatnya kedudukan kaum buruh di parlemen mendorong dibentuknya suatu wadah perjuangan politik, yakni Partai Buruh. Partai ini berhaluan sosialis. Di pihak pengusaha mengabungkan diri ke dalam Partai Liberal.
Munculnya imperialisme modern
Kaum pengusaha/kapitalis umumnya mempunyai pengaruh yang kuat dalam pemerintahan untuk melakukan imperialisme demi kelangsungan industrialisasinya. Dengan demikian, lahirlah imperialisme modern, yaitu perluasan daerah-daerah sebagai tempat pemasaran hasil industri, mencari bahan mentah, penanaman modal yang surplus, dan tempat mendapatkan tenaga buruh yang murah. Dalam hal ini, Inggris yang menjadi pelopornya.
Pengaruh Revolusi Industri terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia
Revolusi Industri yang terjadi di Eropa dan Inggris khususnya membawa dampak di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Di bidang sosial munculnya golongan buruh yang hidup menderita dan berusaha berjuang untuk memperbaiki nasib. Gerakan kaum buruh inilah yang kemudian melahirkan gerakan sosialis yang menjadi lawan dari kapitalis. Bahkan kaum buruh akhirnya bersatu dalam suatu wadah organisasi, yakni Partai Buruh. Di bidang ekonomi, perdagangan makin berkembang. Perdagangan lokal berubah menjadi perdagangan regional dan internasional. Sebaliknya, di bidang politik, Revolusi Industri melahirkan imperialisme modern.
Perubahan di bidang politik
Sejak VOC dibubarkan pada tahun 1799, Indonesia diserahkan kembali kepada pemerintahan Kerajaan Belanda. Pindahnya kekuasaan pemerintahan dari VOC ke tangan pemerintah Belanda tidak berarti dengan sendirinya membawa perbaikan. Kemerosotan moral di kalangan para penguasa dan penderitaan penduduk jajahan tidak berubah. Usaha perbaikan bagi penduduk tanah jajahan tidak dapat dilaksanakan karena Negeri Belanda sendiri terseret dalam perang dengan negara-negara besar tetangganya. Hal ini terjadi karena Negeri Belanda pada waktu itu diperintah oleh pemerintah boneka dari Kerajaan Prancis di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte. Dalam situasi yang demikian, Inggris dapat memperluas daerah kekuasaannya dengan merebut jajahan Belanda, yaitu Indonesia.
Hindia Belanda di bawah Daendels (1808–1811)
Dalam usaha mengadakan pembaharuan pemerintahan di tanah jajahan, di Negeri Belanda ada dua golongan yang mengusulkannya.
  • Golongan Konservatif dengan tokohnya Nenenberg yang menginginkan untuk mempertahankan sistem politik dan ekonomi seperti yang dilakukan oleh VOC.
  • Golongan Liberal dengan tokohnya Dirk van Hogendorp yang menghendaki agar pemerintah Hindia Belanda menjalankan sistem pemerintahan langsung dan menggunakan sistem pajak. Sistem penyerahan paksa yang dilakukan oleh VOC agar digantikan dengan sistem penyerahan pajak.
Di satu pihak pemerintah condong kepada pemikiran kaum konservatif karena kebijaksanaannya akan mendatangkan keuntungan yang cepat dan mudah dilaksanakan. Di pihak lain, pemerintah juga ingin menjalankan pembaharuan yang dikemukakan oleh kaum Liberal. Gagasan pembaharuan pemerintahan kolonial dimulai semenjak pemerintahan Daendels. Sebagai gubernur jenderal pemerintahan Belanda di Indonesia, Daendels banyak melakukan langkah-langkah baru dalam pemerintahan. Daendels mengadakan perombakan pemerintahan secara radikal, yakni meletakkan dasar-dasar pemerintahan menurut sistem Barat. Langkah- langkah tersebut, antara lain:
  • Pemerintahan kolonial dipusatkan di Batavia dan berada di tangan gubernur jenderal.
  • Pulau Jawa dibagi menjadi sembilan prefecture. Hal ini untuk mempermudah administrasi pemerintahan.
  • Para bupati dijadikan pegawai pemerintah Belanda di bawah pemerintahan prefect.
  • Mengadakan pemberantasan korupsi dan penyelewengan dalam pungutan (contingenten) dan kerja paksa.
  • Kesultanan Banten dan Cirebon dijadikan daerah pemerintah Belanda yang disebut pemerintah gubernemen.
  • Berbagai upacara di istana Surakarta dan Yogyakarta disederhanakan.
Pada awal pemerintahannya, Daendels menentang sistem kerja paksa dan merombak sistem feodal. Akan tetapi, tugas untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris menyebabkan Daendels terpaksa harus mengadakan penyerahan kerja paksa secara besar-besaran (dengan menggunakan pengaruh penguasa pribumi) untuk membangun jalan-jalan dan benteng-benteng pertahanan. Demikian juga karena kas negara kosong menyebabkan ditempuhnya cara-cara lama untuk mengisi kas negara. Dengan demikian, kehidupan rakyat pribumi tetap menderita. Ketika akhirnya Inggris menyerbu Pulau Jawa, Daendels sudah dipanggil kembali ke Eropa. Penggantinya tidak mampu menahan serangan Inggris dan terpaksa menyerah. Dengan demikian, Indonesia berada di bawah kekuasaan Inggris.
Masa pemerintahan Raffles (1811–1816)
Setelah Indonesia (khususnya Pulau Jawa) jatuh ke tangan Inggris, oleh pemerintah Inggris dijadikan bagian dari jajahannya di India. Gubernur Jenderal East India Company (EIC), Lord Minto yang berkedudukan di Calcuta (India) kemudian mengangkat Thomas Stamford Raffles sebagai letnan gubernur (wakil gubernur) untuk Indonesia (Jawa). Raffles didampingi oleh suatu badan panasihat yang disebut Advisory Council. Tugas yang utama adalah mengatur pemerintahan dan meningkatkan perdagangan, serta keuangan. Sebagai seorang yang beraliran liberal, Raffles menginginkan adanya perubahan-perubahan dalam pemerintahan di Indonesia (Jawa). Selain bidang pemerintahan, ia juga melakukan perubahan di bidang ekonomi. Ia hendak melaksanakan kebijaksaaan ekonomi yang didasarkan pada dasar-dasar kebebasan sesuai dengan ajaran liberal. Langkah-langkah yang diambil oleh Raffles dalam bidang pemerintahan dan ekonomi adalah sebagai berikut.
  • Mengadakan penggantian sistem pemerintahan yang semula dilakukan oleh penguasa pribumi dengan sistem pemerintahan kolonial ala barat. Untuk memudahkan sistem administrasi pemerintahan, Pulau Jawa dibagi menjadi delapan belas karesidenan.
  • Para bupati dijadikan pegawai pemerintah sehingga mereka mendapat gaji dan bukan lagi memiliki tanah dengan segala hasilnya. Dengan demikian, mereka bukan lagi sebagai penguasa daerah, melainkan sebagai pegawai yang menjalankan tugas atas perintah dari atasannya.
  • Menghapus segala bentuk penyerahan wajib dan kerja paksa atau rodi. Rakyat diberi kebebasan untuk menanam tanaman yang dianggap menguntungkan.
  • Raffles menganggap bahwa pemerintah kolonial adalah pemilik semua tanah yang ada di daerah tanah jajahan dan para penggarap sawah adalah penyewa tanah pemerintah. Oleh karena itu, para petani mempunyai kewajiban membayar sewa tanah kepada pemerintah. Sewa tanah atau landrente ini harus diserahkan sebagai suatu pajak atas pemakaian tanah pemerintah oleh penduduk. Sistem sewa tanah semacam itu oleh pemerintah Inggris dijadikan pegangan dalam menjalankan kebijaksanaan ekonominya selama berkuasa di Indonesia. Sistem ini kemudian juga diteruskan oleh pemerintah Hindia Belanda setelah Indonesia diserahkan kembali kepada Belanda.
Perubahan di Bidang Sosial Ekonomi
Sejak awal abad ke-19, pemerintah Belanda mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk membiayai peperangan baik di Negeri Belanda sendiri (pemberontakan rakyat Belgia), maupun di Indonesia (terutama perlawanan Diponegoro) sehingga Negeri Belanda harus menanggung hutang yang sangat besar. Untuk menyelamatkan Negeri Belanda dari bahaya kebrangkrutan maka Johanes van den Bosch diangkat sebagai gubernur jenderal di Indonesia dengan tugas pokok menggali dana semaksimal mungkin untuk mengisi kekosongan kas negara, membayar hutang, dan membiayai perang. Untuk melaksanakan tugas berat itu, van den Bosch memusatkan kebijaksanaannya pada peningkatan produksi tanaman ekspor. Untuk itu, yang perlu dilakukan ialah mengerahkan tenaga rakyat tanah jajahan untuk melakukan penanaman tanaman yang hasilnya laku di pasaran dunia dan dilakukan dengan sistem paksa. Setelah tiba di Indonesia (1830) van den Bosch menyusun program kerja sebagai berikut.
  • Sistem sewa tanah dengan uang harus dihapus karena pemasukannya tidak banyak dan pelaksanaannya sulit.
  • Sistem tanam bebas harus diganti dengan tanam wajib dengan jenis-jenis tanaman yang sudah ditentukan oleh pemerintah.
  • Pajak atas tanah harus dibayar dengan penyerahan sebagian dari hasil tanamannya kepada pemerintah Belanda.
Apa yang dilakukan oleh van den Bosch itulah yang kemudian dikenal dengan nama sistem tanam paksa atau cultuur stelsel. Sistem tanam paksa yang diajukan oleh van den Bosch pada dasarnya merupakan gabungan dari sistem tanam wajib (VOC) dan sistem pajak tanah (Raffles). Pelaksanaan sistem tanam paksa banyak menyimpang dari aturan pokoknya dan cenderung untuk mengadakan eskploitasi agraria semaksimal mungkin.
Akibat Tanam Paksa Bagi Indonesia (Khususnya Jawa)
  1. Sawah ladang menjadi terbengkelai karena diwajibkan kerja rodi yang berkepanjangan sehingga penghasilan menurun drastis.
  2. Beban rakyat semakin berat karena harus menyerahkan sebagian tanah dan hasil panennya, membayar pajak, mengikuti kerja rodi, dan menanggung risiko apabila gagal panen.
  3. Akibat bermacam-macam beban menimbulkan tekanan fisik dan mental yang berkepanjangan.
  4. Timbulnya bahaya kemiskinan yang makin berat.
  5. Timbulnya bahaya kelaparan dan wabah penyakit di mana-mana sehingga angka kematian meningkat drastis.
Bahaya kelaparan menimbulkan korban jiwa yang sangat mengerikan di daerah Cirebon (1843), Demak (1849) dan Grobogan (1850). Kejadian ini mengakibatkan jumlah penduduk menurun drastis. Penyakit busung lapar (hongorudim) juga berkembang di mana-mana.
Akibat Tanam Paksa Bagi Belanda
Apabila sistem tanam paksa telah menimbulkan malapetaka bagi bangsa Indonesia, sebaliknya bagi bangsa Belanda berdampak sebagai berikut.
  1. Mendatangkan keuntungan dan kemakmuran rakyat Belanda.
  2. Hutang-hutang Belanda dapat terlunasi.
  3. Penerimaan pendapatan melebihi anggaran belanja.
  4. Kas Negeri Belanda yang semula kosong, dapat terpenuhi.
  5. Berhasil membangun Amsterdam menjadi kota pusat perdagangan dunia.
  6. Perdagangan berkembang pesat.
Sistem tanam paksa yang mengakibatkan kemelaratan bagi bangsa Indonesia, khusunya Jawa, menimbulkan reaksi dari berbagai pihak, seperti golongan pengusaha, Baron Van Hoevel, dan Edward Douwes Dekker. Akibat adanya reaksi tersebut, pemerintah Belanda secara berangsur-angsur menghapuskan sistem tanam paksa. Sesudah tahun 1850, kaum Liberal memperoleh kemenangan politik di Negeri Belanda. Mereka juga ingin menerapkan asas-asas liberalisme di tanah jajahan. Dalam hal ini kaum Liberal berpendapat bahwa pemerintah semestinya tidak ikut campur tangan dalam masalah ekonomi, tugas ekonomi haruslah diserahkan kepada orang-orang swasta, dan agar kaum swasta dapat menjalankan tugasnya maka harus diberi kebebasan berusaha. Sesuai dengan tuntutan kaum Liberal maka pemerintah kolonial segera memberikan peluang kepada usaha dan modal swasta untuk menanamkan modal mereka dalam berbagai usaha di Indonesia, terutama perkebunan-pekebunan di Jawa dan di luar Jawa. Selama periode tahun 1870–1900 Indonesia terbuka bagi modal swasta Barat. Oleh karena itu masa ini sering disebut zaman Liberal. Selama masa ini kaum swasta Barat membuka perkebunan-perkebunan seperti, kopi, teh, gula dan kina yang cukup besar di Jawa dan Sumatera Timur. Selama zaman Liberal (1870–1900), usaha-usaha perkebunan swasta Barat mengalami kemajuan pesat dan mendatangkan keuntungan yang besar bagi pengusaha. Kekayaan alam Indonesia mengalir ke Negeri Belanda. Akan tetapi, bagi penduduk pribumi, khususnya di Jawa telah membawa kemerosotan kehidupan, dan kemunduran tingkat kesejahteraan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti berikut.
  1. Adanya pertumbuhan penduduk yang meningkat pada abad ke-19, sementara itu jumlah produksi pertanian menurun.
  2. Adanya sistem tanam paksa dan kerja rodi yang banyak menimbulkan penyelewengan dan penyalahgunaan dari pihak pengusaha sehingga membawa korban bagi penduduk.
  3. Dalam mengurusi pemerintahan di daerah luar Jawa, pemerintah Belanda mengerahkan beban keuangan dari daerah Jawa sehingga secara tidak langsung Jawa harus menanggung beban keuangan.
  4. Adanya sistem perpajakan yang sangat memberatkan penduduk.
Adanya krisis perkebunan pada tahun 1885 yang mengakibatkan perusahaan- perusahaan mengadakan penghematan, seperti menekan uang sewa tanah dan upah kerja baik di pabrik maupun perkebunan. Pada akhir abad ke-19 muncullah kritik-kritik tajam yang ditujukan kepada pemerintah Hindia Belanda dan praktik liberalisme yang gagal memperbaiki nasib kehidupan rakyat Indonesia. Para pengkritik itu menganjurkan untuk memperbaiki rakyat Indonesia. Kebijaksanaan ini didasarkan atas anjuran Mr. C. Th. van Deventer yang menuliskan buah pikirannya dalam majalah De Gids (Perinstis/Pelopor) dengan judul Een Ereschuld (Berhutang Budi) sehingga dikenal politik etis atau politik balas budi. Gagasan van Deventer terkenal dengan nama Trilogi van Deventer.
Referensi
1.      ^ Lucas, Robert E., Jr. 2002. Lectures on Economic Growth. Cambridge: Harvard University Press.
2.      ^ Julian Hoppit, "The Nation, the State, and the First Industrial Revolution," Journal of British Studies (April 2011) 50#2 pp p307-331
3.      ^ "Industrial Revolution," New World Encyclopedia, (http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Industrial_Revolution)
4.      ^ Joseph E Inikori. Africans and the Industrial Revolution in England, Cambridge University Press.
5.      ^ Redford, Arthur (1976), "Labour migration in England, 1800-1850", p. 6. Manchester University Press, Manchester.
6.      ^ Berg, Maxine; Hudson, Pat. 1992. "Rehabilitating the Industrial Revolution". The Economic History Review Vol. 45, No. 1.
7.      ^ Rehabilitating the Industrial Revolution Julie Lorenzen. Central Michigan University.
8.      ^ The Industrial Revolution. Robert Lucas Jr. 2003.
9.      ^ The Industrial Revolution: Past and Future. Robert Lucas. 2003.
10.  ^ McCloskey, Deidre. 2004. Review of the Cambridge. Times Higher Education Supplement.
11.  ^ Crouzet, François .1996. "France". In Teich, Mikuláš; Porter, Roy. The industrial revolution in national context: Europe and the USA. Cambridge University Press.


Komentar

Postingan Populer