Proposal skripsi supeltas

Proposal skripsi supeltas
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Malang adalah sebuah kota yang terletak di Jawa Timur dan dinobatkan sebagai kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya. Memiliki penduduk sedikitnya satu juta jiwa di tambah puluhan ribu atau mungkin ratusan ribu pendatang dari kota lain yang mengadu nasib dan menuntut ilmu di kota ini. Malang yang memiliki sedikitnya 50 universitas, puluhan sekolah bertaraf nasional dan internasional, maupun pusat perbelanjaan besar yang berdiri megah sebagai pusat perbelanjaan membuat Malang sebagai kota Metropolis.
 Sebagai kota besar di Jawa timur, Malang memiliki banyak sekali ruas jalan dan jalan raya di seluruh penjuru kota yang luas. Jalan Raya di buat untuk mempermudak orang dan barang berpindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain (Basundoro, 2013 199). namun pada kenyataannya sehari-hari pada jalan raya tersebut sering terjadi kemacetan atau tesendatnya bahkan terhentinya lalu-lintas adalah suguhan sehari-hari di pagi hari, siang dan menjelang malam. Sangat wajar jika kota Malang yang memiliki kepadatan penduduk rata-rata tujuh ribu orang per kilometer pesegi, di tambah para pendatang yang mengadu nasib di kota metropolis ini, menjadi salah satu kota yang menjadi langganan macet.
Dalam sebuah suasana macet dan mungkin amarah kita mulai memuncak karena memungkinkan kita terlambat untuk sampai pada tujuan kita. Kita sering mememui seseorang yang memakai seragam biru dengan mengenakan rompi berwarna hijau cerah dengan peluit seperti petugas kepolisian namun bukanlah petugas kepolisian, membatu kita untuk menyebrang dan mengatur lalu lintas di pertigaan jalan  atau perempatan jalan yang tidak memiliki lampu lalu-lintas atau di daerah putar balik yang rawan macet. Mereka adalah Supeltas (sukarelawan pengatur lalu-lintas) atau di sering di sebut polisi cepek.
Penelitian-penelitian terdahulu yang berhasil penulis temukan yakni, (1)“ Berbagai Dampak Kemcetan dan Implikasinya Bagi Pendapatan Petani Sayur” oleh Yoga Setiawan Santoso, Mahasiswa Departemen Agronomi dan Holtikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Boor 2009, dalam tulisan tersebut memaparkan bahwa kemacetan yang terjadi juga dapat mempengaruhi para penjual sayur, karena polusi yang dihasilkan dari kendaraan-kendaraan yang bertumpuk tersebut berpindah dan membuat sayur-sayur menjadi layu dan sedikit berubah warna, (2) “ Perancangan Website istem Infromasi Lalu Lintas Kota Depok” oleh Herman Mahasiswa Universitas Gunadarma fakultas Ilmu Komputer. (3) “ Analisis Kebijakan Penanganan Lalu Lintas di Jalan Teuku Umar Kawasan Jatingaleh Semarang Dengan Metode Analisi Hirarki Proses (AHP) “ oleh Feby Anisia Purnama Sari, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro 2011.
      Dibanding dari tiga penelitian terdahulu tersebut yang memberikan keunikan tersendiri dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti, karya ilmiah yang akan ditulis adalah kelanjutan dari karya ilmiah yang pernah ditulis oleh peneliti dan kawan-kawan, yaitu "Supeltas, Membantu atau menghambat? (studi kasus masyarakat Malang : Jl. Soekarno-Hatta- Terusan Borobudur. Dalam bentuk artikel.
Seorang sukarelawan yang membantu masyarakat untuk mengatur jalannya lalu-lintas agar tidak macet. Mereka dengan berpanas-panasan mengatur lalu lintas tanpa mendapatkan imbalan dari pihak lain kecuali mendapat uang recahan dari pengguna jalan yang memberikan tanda terimakasih. Sebuah fenomena sosial yang unik yang terjadi dalam masyarakat Indonesia khususnya kota malang. Melihat fenomena tersebut, peneliti ingin mengangkat judul “Dinamika Supeltas dan peranannya dalam Ketertiban Lalu Lintas Di Kota Malang (2008-2014)”.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah munculnya organisasi supeltas di kota Malang?
2.      Bagaimana dinamika kehidupan sehari-hari Supeltas di kota Malang?
3.      Seperti peranan yang dijalankan Supeltas dalam ketertiban lalu-lintas di kota Malang?
C.     Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hal-hal sebagai berikut:
1.      Mendiskripsikan sejarah munculnya organisasi supeltas di kota Malang.
2.      Mendikripsikan dinamika kehidupan sehari-hari supeltas di kota Malang.
3.      Menjelaskan peranan yang dijalankan Supeltas dalam ketertiban lalu-lintas di kota Malang 2008 hingga 2014.

D.    Manfaat Penelitian
Pada penelitian yang akan dilakukan ini diharapkan akan bermanfaat bagi semua pihak yang terkait. Oleh karena itu penulis berharap nantinya hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi:

1.        Ilmu pengetahuan
Menambah wacana, referensi, dan pengetahuan teoritis mengenai latar belakang munculnya organisasi Supeltas di kota Malang dan konstribusinya dalam ketertiban lalu-lintas di kota Malang, sehingga diharapkan karya tulis ini dapat menyumbangkan manfaat dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya dalam sejarah sosial.

2.        Peneliti
Penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti sebagai acuan untuk menambah ilmu pengetahuan dan peneletian lebih lanjut mengenai Dinamika Supeltas dan peranannya dalam ketertiban lalu-lintas di kota Malang Tahun 2008 hingga 2014.

3.        Jurusan Sejarah
Memberikan sebuah referensi kepada pembaca yang akan memperdalam pengetahuan tentang dinamika Supeltas dan peranannya dalam ketertiban lalu-lintas di kota Malang tahun 2008 hingga 2014.
4.      Masyarakat
Meberikan referensi bagi masyarakat tentang dinamika Supeltas di kota Malang dan peranannya dalam ketertiban lalu-lintas di kota Malang. Sehingga masyarakat sadar akan adanya peranan penting dari Supeltas dalam lalu lintas di kota Malang.
5.      Pemerintah
Untuk pemerintahan, penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan lebih lanjut untuk mengambil kebijakan perihal Supeltas dan kebijakan lalu-lintas di jalan raya.
E.     Ruang linkup Penelitian
Setiap penelitian mempunyai batasan dalam penulisan karya ilmiah, sehingga tidak sampai keluar dari fokus kajian. Ada tiga ruang lingkup yang harus dipenuhi dalam penelitian yaitu ruang lingkup spasial, ruang lingkup temporal, dan ruang lingkup formal. Dalam penelitian ini batasan tersebut antara lain:
1.        Lingkup spasial
Aspek spasial dalam penelitian berda di lingkungan ruasruas jalan kota Malang yang memiliki Supeltas untuk membatu mengatur ketertiban lalu Lintas. Dokumen dan arsip kota malang yang ada di di Arsip kota dan institusi lainnya yang berkaitan dengan Supeltas akan dijadikan sebagai objek kajian dalam penelitian ini.

2.        Lingkup temporal
Aspek temporal dalam penelitian ini diambil antara tahun 2008 hingga 2014. Tahun 2008 merupakan tahun awal berdirinya organisasi Supeltas kota Malang secara legal dan dinaungi oleh badan hukum, yaitu kepolisian dan undang undang, sedangkan tahun 2014 dipilih sebagai batasan akhir penelitian dinamika Supeltas dan peranannya di kota Malang.
3.        Lingkup Kajian
Penelitian ini memfokuskan pada dinamika Supeltas dan konstribusinya dalam lalu lintas kota Malang tahun 2008 hingga 2014 yang akan dikemas dalam historiografi sosial.
F.      Kajian Pustaka
1.      Macat dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memiliki definisi bahwa tidak dapat berfungsi dengan baik
2.      Traffic Jam misalnya, istilah tersebut berasal dari bahasa Inggris yang bermakna macat.
3.      Broom dan Selznick tidak memberikan sebuah definisi tentang lembaga, melainkan hanya proses terjadinya sebuah lembaga , yakni perkembangan susuanan-susunan yang tertib, stabil, berpola tidak tentu.
4.      Acuff, Allen dan Tylor berpendapat bahwa lembaga ialah norma-norma yqng berintegrasi di sekitar suatu fungsi masyarakat yang penting
5.      Unsur-unsur yang terdapat dalam lembaga :
a.       Lembaga memiliki Lambang
b.      Lembaga mengenal pula upacara-upacara dan kode-kode kelakuaan formil, berupa sumpah-sumpah, ikrar-ikrar, pembacaan kewajiban-kewajiban, dan lain sebagaianya.
c.       Tiap lembaga mengenal pula berbagai nilai-nilai beserta rasionalisasi-rasionalisasi atau sublimasi-sublimasi yang membenarkian atau mengagungkan peranan-peranan sosial yang dikehendaki oleh lembaga-lembaga. (Polak, 1985: 261)
6.      Kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan manusia yang terdiri dari dua atau lebih individu yang hidup bersama saling berhubungan, saling mempengaruhi dengan suatu kesadaran untuk saling tolong-menolong
7.      Syarat terbentuknya kelompok sosial
Setiap himpunan manusia belum tentu dapat disebut sebagai kelompok sosial, baru dapat disebut kelompok sosial apabila telah memenuhi beberapa persyaratan tertentu, yaitu:
a.       Setiap anggota kelompok tersebut hams sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan,
b.      Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota yang lainnya, dalam kelompok itu.
c.       Ada suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok itu, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. Faktor tadi dapat merupakan nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama, dan lain sebagainya. Mempunyai musuh yang sama dapat pula menjadi faktor pengingat/pemersatu.
d.      Berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku. (Soerjono Soekanto, 1982: 111)
8.       Klasifikasi kelompok sosial menurut erat longgarnya ikatan antar anggota. Klasifikasi ini menurut Ferdinand Tonnies:
a.       Paguyuban (gemeinschaft)
Paguyuban atau gemeinschaft adalah kelompok sosial yang anggota
anggotanya memiliki ikatan batin yang murni, bersifat alamiah, dan kekal. Ciri-ciri kelompok paguyuban yakni terdapat ikatan batin yang kuat antar anggota dan hubungan antar anggota bersifat informal. Tipe-tipe paguyuban :
1)      Paguyuban karena ikatan darah (gemeinschaft by blood)
Kelompok genealogis adalah kelompok yang terbentuk berdasarkan hubungan sedarah. Kelompok genealogis memiliki tingkat solidaritas yang tinggi karena adanya keyakinan tentang kesamaan nenek moyang. Contoh: keluarga, kelompok kekerabatan.
2)      Paguyuban karena tempat (gemeinschaft of place)
Komunitas adalah kelompok sosial yang terbentuk berdasarkan lokalitas. Contoh: Beberapa keluarga yang berdekatan membentuk RT(Rukun Tetangga), dan selanjutnya sejumlah Rukun Tetangga membentuk RW (Rukun Warga). Contoh: Rukun Tetangga, Rukun Warga.
3)      Paguyuban karena ideologi (gemeinschaft of mind)
Merupakan suatu gemeinschaft yang terdiri dari orang-orang yang walaupun tak mempunyai hubungan darah ataupun tempat tinggal tidak berdekatan ,tetapi mereka mempuyai jiwa dan pikiran yang sama, ideologi yang sama,paguyuban semacam ini biasanya ikatannya tidaklah sekuat paguyuban karena darah dan keturunan. Contoh: partai politik berdasarkan agama (Soerjono, 1990: 98)
a.       Gesselschaft / patembayan
Merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk waktu yang pendek, strukturnya bersifat mekanis dan sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka. Contoh : ikatan antar pedagang, organisasi dalam sebuah pabrik. Ciri-ciri kelompok patembayan ialah hubungan antaranggota bersifat formal, memiliki orientasi ekonomi dan tidak kekal, memperhitungkan nilai guna (utilitarian), dan lebih didasarkan pada kenyataan sosial.
9.      Gerakan Sosial
Gerakan sosial pada umumnya dibedakan dari kegiatan kolektif yang terorganisasikan dalam lembagalembaga yang telah mantap strukturnya, antara lain; partai politik, agama, organisasi golongan  karya, dan lain sebagainya. Strukturisasi masih embrional; jadi, masih ada keluwesan dalam arah dan bentuk pertumbuhannya. Struktur kekuasaanya pun juga belum berhierarki ketat (Purwanto, 2013:3)
G.    Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian sejarah, maka upaya merekontruksi masa lampau dari objek yang diteliti melalui metode sejarah. Metode ilmiah dari suatu ilmu pengetahuan adalah segala jalan atau cara dalam rangka ilmu tersebut, untuk sampai kepada satu kesatuan pengetahuan (Kuntowijyo, 1994:95).
1.      Pemiliahn Topik
Menurut Kuntowijoyo (2005: 92), pemilihan topik sebaiknya berdasarkan kedekatan emosional dan kedekatan intelektual. Kelangkaan terhadap historiografi sosial kota malang khususnya dinamika Supeltas memicu peneliti meneliti tentang dinamika Supeltas di kota Malang dan peranannya dalam ketertiban lalu-lintas kota Malalng menjadi aspek kedekatan intelektual yang melatar belakangi peneliti mengkaji tema historiografi sosial. Kaedekatan emosional yang mempengaruhi adalah adalah banyak masyarakat yang memandang Supeltas dengan sebelah mata, padahal masyarakat sendiri sagat membutuhkan peranan Supeltas sendiri dalam lalu lintas kota Malang yang sangat padat dan ramai dan dapat menimbulkan kemacetan karena kuranggya Lampu lalu-lintas di kota Malanag.
2.      Pengumpulan Sumber
Sumber-sumber yang akan digunakan nantinya adalah berupa arsip-arsip yang berhubungan dengan Dinamika Supeltas, peneliti akan mencoba mencari sumber lisan yang memungkinkan untuk di jadikan sebagai data utama.
3.      Verifikasi
Verifikasi pada sumber sejarah ialah sebuah konsekuensi logis dari penggunaan metode sejarah, yakni harus diuji keasliannya melalui kritik sumber, yang terdiri dari kritik intern dan kritik ekstern. Kritik intern sumber menyangkut isi dari sumber yang akan digunakan. Sedangkan kritik ekstern menyangkut keaslian dari bentuk fisik atau penampilan luar sumber yang digunakan. Dalam melakukan proses verifikasi dengan cara pengujian terhadap sumber dilakukan suatu kritik terhadap sumber tersebut. Dalam proses kritik dibagi dua bagian yaitu kritik ekstern dan kritik intern.
Kritik ekstern merupakan suatu cara yang ditempuh oleh sejarawan ketika bahan sumber berhasil ditemukan, dikumpulkan lalu diuji keaslian dan keakuratannya terhadap suatu dokumen (Jurusan Sejarah FS UM, 2007: 29). Kuntowijoyo (1995: 99) menyatakan bahwa baru menemukan satu dokumen saja adalah prestasi yang luar biasa, rasanya tak sampai hati untuk tidak mempercayainya.
Kritik intern merupakan suatu cara yang ditempuh oleh sejarawan dalam meneliti isi dari sumber sejarah yang telah ditemukan dimana dibutuhkan penguasaan terhadap topik yang diteliti dengan memadai. Hal ini dilakukan karena dengan cara inilah seorang sejarawan akan cepat menentukan apakah sumber yang diperoleh tersebut relevan (Kuntowijoyo, 1995: 99). Penerapan kritik internal ini dilakukan sekurang-kurangnya melalui dua langkah. Pertama, melalui penilaian dari dalam (intrinsik), maksudnya adalah mencari arti sebenarnya dari suatu kesaksisan dalam sumber. Kedua, melalui perbandingan antara sumber yang satu dengan sumber yang lain sehingga dengan langkah ini diharapkan bisa diperoleh gambaran yang lebih mendekati kebenaran.
                                                              i.      Pada langkah pertama, peneliti harus membuat penilaian terhadap sumber-sumber primer yang digunakan. Penilaian ini berkisar pada keadaan pengarang atau pembuat dokumen dan sifat dokumen itu sendiri. Untuk menilai keadaan pengarang atau pembuat, dokumen tersebut sekurang-kurangnya harus lolos dari dua pertanyaan dasar yaitu “siapakah yang membuat atau yang mengeluarkan dokumen tersebut?” dan “apakah si pembuat dokumen jujur ?”.
                                                            ii.      Pada langkah yang kedua, sumber-sumber yang digunakan kemudian saling dibandingkan antara satu sama lain. Perbandingan ini akan menghasilkan persamaan atau perbedaan isi dokumen. Apabila kesaksian antar dokumen tersebut saling bertentangan, maka tingkat kepercayaan salah satu, sebagian atau bahkan seluruh dokumen tersebut patut untuk diragukan. Sebaliknya, jika ternyata didapatkan suatu hasil berupa persamaan isi, maka kesaksian dokumen tersebut dapat diandalkan (reliable).

4.      Interpretasi
Setelah pengujian dan analisis data dilakukan, maka fakta-fakta yang diperoleh disintesiskan melalui eksplanasi sejarah. Melalui tahap ini diajukan penafsiran tentang sumber sejarah yang telah dikumpulkan. Penjelajahan terhadap buku atau sumber yang tersedia menyebabkan munculnya penafsiran-penafsiran baru terhadap sumber tertulis yang menyangkut arti dan suasana yang terdapat di dalamnya. Secara singkat Kuntowijoyo mengatakan bahwa interpretasi merupakan biang dari subjektifitas (Kuntowijoyo, 1995: 100). Penulis mencoba menginterpretasikan melalui proses analisis dan sintesis. Analisis berarti menguraikan (Kuntowijoyo, 1995: 100). Hal ini dilakukan karena sebuah sumber seringkali mengandung beberapa kemungkinan.
5.      Historiografi
Tahap  akhir adalah penulisan sejarah atau historiografi sejarah. Pada bagian ini aspek kronologis sangat penting  yaitu pada masa kolonial dan sesuai dengan tema yang akan disajikan. Ketika sejarawan memasuki tahap menulis, maka ia menggerakkan seluruh daya pikirannya, bukan saja keterampilan teknis penggunaan kutipan-kutipan dan catatan-catatan tetapi yang terutama penggunaan pikiran-pikiran kritis dan analisisnya karena ia pada akhirnya harus menghasilkan suatu sintesis dari seluruh hasil penelitiannya atau penemuannya itu dalam suatu penulisan utuh. Hal inilah yang disebut historiografi. Kebenaran (signifikansi) semua fakta yang dijaring melalui metode kritik baru dapat dipahami hubungannya satu sama lain setelah semuanya ditulis dalam suatu keutuhan bulat historiografi (Sjamsuddin, 2007: 156).
Dalam tataran praktis, tahap historiografi yang dikemukakan dalam pendahuluan pada dasarnya sejajar dengan sistematika penulisan maka prinsip dalam penulisan penelitian sejarah ini harus ditekankan dua hal, yakni kronologis dan sistematis.
                                                              i.      Mengutamakan prinsip kronologis, dimana dalam merangkaikan fakta-fakta dalam sebuah tulisan, aspek urutan waktu menjadi titik tekan utama. Hal ini dilakukan untuk memudahkan penulisan dan menghasilkan kisah yang dapat dipahami berdasarkan urutan peristiwa.
                                                            ii.      Menekankan aspek sistematis dalam penyusunan rangkaian fakta. Prinsip ini juga diterapkan agar memudahkan pemahaman, terutama agar tidak terjadi pengulangan dalam pembahasan.
Penulisan karya skripsi yang berjudul “Dinamika Supeltas dan Peranannya Dalam Ketertiban Lalu-lintas di Kota Malang (2008-20014)”. Terdiri dari beberap bab yang saling memberi relevansi di setiap bab-babnya. Bab I berisi pendahuluan secara umum akan dibahas mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfat penulisan, kajian pustaka, kajian teori  dan metode penelitian. Bab II membahas tentang latar belakang berdirinya organisasi Supeltas di kota Malang. Bab III menguraikan muncul dan berkembangnya Supeltas di kota Malang, sedangkan bab IV membahas tentang konstribusi konstribusi Supeltas dalam ketetiban lalu-lintas kota Malang. Bab yang terakhir yaitu Bab V berisi saran dan kesimpulan.
H.    Daftar Rujukan

Basundoro, Purnawan. 2013. Merebut Ruang Kota Rakuat Miskin Kota Surabaya 1900 1960an :
Margin Kiri Tangerang
Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yoyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
------------- 2005. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Polak, Maijor.1985. Sosiologi suatu buku pengantar ringkas.PT.Ichtiar Baru : Jakarta.
Purwanto, Bambang, dkk.Sejarah sosial:Konseptualisasi, model dan tantangannya.Yogyakarta:
Penerbit Ombak
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar.PT RajaGrafindo Persada: Jakarta.
--------------. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar.  PT RajaGrafindo Persada: Jakarta
Sjamsuddin, H. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
Anonymus . 2014. http://id.wikipedia.org/wiki/Kemacetan  diakses pada tanggal 10/04/2014 pukul 17.00 WIB


Komentar

Postingan Populer