RPP Sejarah Kelas X Historiografi Sejarah
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Satuan Pendidikan : SMA
Advent Dwi Abdi
Mata Pelajaran : Sejarah (Peminatan)
Kelas/Semester : X/ Semester 1
Materi Pokok : Historiografi Sejarah
Alokasi Waktu : 1 x 3 JP @ 45 menit (1 x Pertemuan)
Mata Pelajaran : Sejarah (Peminatan)
Kelas/Semester : X/ Semester 1
Materi Pokok : Historiografi Sejarah
Alokasi Waktu : 1 x 3 JP @ 45 menit (1 x Pertemuan)
A.
KOMPETENSI
INTI
1. Menghayati
dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
2. Mengembangkan
perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan,
gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukan
sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3. Memahami
dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta
menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah,
menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu
menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
B. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
1.1
Menghayati proses kelahiran manusia Indonesia dengan rasa
bersyukur.
1.2
Menghayati keteladanan para pemimpin dalam mengamalkan ajaran
agamanya.
2.2
Meneladani sikap dan tindakan cinta damai, responsif dan pro aktif
yang ditunjukkan oleh tokoh sejarah dalam mengatasi masalah sosial dan
lingkungannya.
2.3
Berlaku jujur dan bertanggungjawab dalam mengerjakan tugas-tugas
dari
pembelajaran sejarah
pembelajaran sejarah
3.8
Menganalisis keterkaitan perbedaan ciri-ciri dari historiografi
tradisional, kolonial dan modern.
Indikator:
3.8.1
Membaca buku teks tentang pengertian historiografi
3.8.2
Mengumpulkan informasi mengenai historiografi tradisional, kolonial
dan modern dari sumber belajar lain selain buku teks.
3.8.3
Menjelaskan historiografi tradisional
3.8.4
Menjelaskan historiografi kolonial
3.8.5
Menjelaskan historiografi modern
3.8.6
Membandingkan perbedaan historiografi tradisional, kolonial dan
modern.
3.8.7
Menelaah persamaan historiografi tradisional, kolonial dan modern.
3.8.8
Menyimpulkan persamaan dan perbedaan historiografi
tradisional, kolonial dan modern.
tradisional, kolonial dan modern.
4.8
Menyajikan hasil mengklasifikasi ciri-ciri historiografi
tradisional, kolonial dan modern.
Indikator:
4.8.1
Menampilkan laporan sederhana hasil mengklasifikasi tentang historiografi
dan ciri-ciri pembeda historiografi tradisional, kolonial dan modern berikut
contohnya.
4.8.2
Mengkategorikan berbagai informasi yang sudah dikumpulkan
mengenai historiografi tradisional, kolonial dan modern.
mengenai historiografi tradisional, kolonial dan modern.
C. MATERI PEMBELAJARAN
1.
Historiografi
Historiografi
terbentuk dari dua akar kata yaitu history (sejarah) dan graph (tulisan). Jadi
historiografi artinya adalah tulisan sejarah, baik itu yang bersifat ilmiah
(problem oriented) maupun yang tidak bersifat ilmiah (no problem oriented).
Problem oriented artinya karya sejarah ditulis bersifat ilmiah dan berorientasi
kepada pemecahan masalah (problem solving), yang tentu saja penulisannya
menggunakan seperangkat metode penelitian. Sedangkan yang dimaksud dengan no
problem oriented adalah karya tulis sejarah yang ditulis tidak berorientasi
kepada pemecahan masalah dan ditulis secara naratif, juga tidak menggunakan metode
penelitian (Jayusman, 2012).
Secara
lebih luas, Louis Gottschalk dalam (Dasuki, 2003, hal. 338) menyebutkan arti historiografi
sebagai berikut:
a.
Historiografi merupakan
bentuk publikasi, baik dalam bentuk tulisan maupun secara lisan, yang sengaja memberi
pertelaan mengenai suatu peristiwa atau kombinasi peristiwa-peristiwa pada masa
lampau
b.
Historiografi diartikan
sebagai hasil karya berupa tulisan atau bacaan mengenai sejarah yang meliputi
juga sejarah lisan
c.
Historiografi adalah proses
penulisan sejarah sebagai penerapan aspek serba interpretatif dalam metode sejarah
untuk menyusun sintetis sejarah yang dilandasi oleh penelitian yang seksama
melalui heuristik, kritik terhadap sumber-sumber sejarah dan seleksi terhadap
faktafakta sejarah.
d.
Historiografi merupakan
kegiatan dalam kerja keilmuan di bidang sejarah yang menghasilkan
tulisan-tulisan sebagai kategori pemikiran teoritis dan metodologis mengenai masalah-masalah
dalam penelitian dan proses penelitian sejarah.
2.
Historiografi tradisional
Pada masa perkembangan historiografi tradisional, yaitu corak
penulisan sejarah yang banyak ditulis oleh para pujangga kraton, karyakarya
mereka bertujuan untuk melegitimasi kedudukan raja. Dengan demikian,
historiografi pada masa ini mempunyai ciri-ciri magis, religius, bersifat
sakral, menekankan kultus, dewa raja dan mitologi, bersifat anakronisme,
etnosentrisme, dan berfungsi sosial psikologis untuk memberi kohesi pada suatu
masyarakat tentang kebenaran-kebenaran kedudukan suatu dinasti (Indriyanto, 2001,
hal. 2).
Selanjutnya Soedjatmoko (1965) mengemukakan bahwa historiografi tradisional
nusantara, kita kenal dengan sejumlah istilah seperti babad, serat kanda,
sajarah, carita, wawacan, hikayat, sejarah, tutur, salsilah, cerita-cerita
manurung (Sjamsuddin, 2007, hal. 10). Semuanya naratif dalam bentuk prosa
maupun puisi (syair). Kartodirdo (1982) menyebutkan historiografi tradisional
itu berkembang setelah suatu kelompok dalam
masyarakat Indonesia membentuk suatu kesatuan politik. Dengan timbulnya kerajaan atau kehidupan bangsa dalam suatu kesatuan politk, dibina pula historiografi yang menghasilkan naskah sebgai karya sastra sejarah. Pembinaan historiografi diselenggarakan di pusat kerajaan di berbagai daerah di Indonesia. Karya sastra sejarah yang dihasilkan terdiri dari naskah-naskah dalam bahasa-bahasa daerah dan sejarah di dalamnya masih difungsikan sebagai mitos (Dasuki, 2003, hal. 347).
masyarakat Indonesia membentuk suatu kesatuan politik. Dengan timbulnya kerajaan atau kehidupan bangsa dalam suatu kesatuan politk, dibina pula historiografi yang menghasilkan naskah sebgai karya sastra sejarah. Pembinaan historiografi diselenggarakan di pusat kerajaan di berbagai daerah di Indonesia. Karya sastra sejarah yang dihasilkan terdiri dari naskah-naskah dalam bahasa-bahasa daerah dan sejarah di dalamnya masih difungsikan sebagai mitos (Dasuki, 2003, hal. 347).
Karya-karya sejarah yang ditulis oleh para pujangga dari
lingkungan keraton ini hasil karyanya biasa disebut Historigrafi Tradisional.
Contoh karya sejarah yang berbentuk historiografi tradisional yang ditulis oleh
para pujangga keraton dari kerajaan hindu/budha sebagai berikut : 1. Babad Tanah
Pasundan, 2. Babad Parahiangan, 3. Babad Tanah Jawa, 4. Pararaton, 5.
Nagarakertagama, 6. Babad Galuh, 7. Babad Sriwijaya, dan lain-lain. Sedangkan
karya historiografi tradisional yang ditulis para pujangga dari
kerajaan Islam diantaranya : 1. Babad Cirebon yaitu karya dari Kerajaan Islam Cirebon, 2. Babad Banten yaitu karya dari Kerajaan Islam Banten, 3. Babad Dipenogoro yaitu karya yang mengisahkan kehidupan Pangeran Diponegoro, 4. Babad Demak yaitu karya tulis dari Kerajaan Islam Demak, 5. Babad Aceh dan lain-lain (Jayusman, 2012).
kerajaan Islam diantaranya : 1. Babad Cirebon yaitu karya dari Kerajaan Islam Cirebon, 2. Babad Banten yaitu karya dari Kerajaan Islam Banten, 3. Babad Dipenogoro yaitu karya yang mengisahkan kehidupan Pangeran Diponegoro, 4. Babad Demak yaitu karya tulis dari Kerajaan Islam Demak, 5. Babad Aceh dan lain-lain (Jayusman, 2012).
Karakteristik Historiografi Tradisional adalah sebagai berikut (Jayusman,
2012; Dasuki, 2003, hal. 346-347):
a.
Bersifat istana/kraton
sentris, dimana karya-karya didalamnya banyak mengungkapkan sekitar kehidupan
keluarga istana/keraton, dan ironisnya rakyat jelata tidak mendapat tempat
didalamnya, dengan alasan rakyat jelata dianggap a-historis.
b.
Bersifat Religio-magis, ,
artinya dalam historigrafi tradisional seorang raja ditulis sebagai manusia
yang memiliki kelebihan secara batiniah, dianggap memiliki kekuatan gaib.
Tujuannya agar seorang raja mendapat apresiasi yang luar biasa di mata
rakyatnya, sehingga rakyat takut, patuh, dan mau melaksanakan perintahnya.
Rakyat akan memandang, bahwa seorang raja keberadaannya di muka bumi merupakan
sebagai perwujudan atau perwakilan dari Tuhan.
c.
Bersifat regio-sentrisme
dimana cerita sejarah berpusat kepada kedudukan sentral raja, sehingga menimbulkan
raja-sentrisme. Sebagai contoh, ada historiografi tradisional dengan secara
vulgar memakai judul dari nama wilayah kekuasaannya, seperti Babad Cirebon,
Babad Bugis, Babad Banten.
d.
Bersifat etnosentris artinya
dalam historiografi tradisional ditulis dengan penekanan pada penonjolan/egoisme
terhadap suku bangsa dan budaya yang ada dalam wilayah kerajaan.
e.
Bersifat psiko-politis
sentrisme, artinya historiografi tradisional ditulis oleh para pujangga sangat
kental dengan muatan-muatan psikologis seorang raja, sehingga karya
historiografi tradisional dijadikan sebagai alat politik oleh sang raja dalam
rangka mempertahankan kekuasaannya. Tidak perlu terlampau heran kalau karya
historiografi tradisional oleh masyarakat setempat dipandang sebagai kitab suci
yang didalamnya penuh dengan fatwa para pujangga dalam pengabdiannya terhadap sang raja.
yang didalamnya penuh dengan fatwa para pujangga dalam pengabdiannya terhadap sang raja.
Karena banyaknya pengaruh oleh faktor budaya saat naskah penulisan
sejarah budaya dibuat, maka naskah tersebut dapat menjadi suatu hasil kebudayaan
di masyarakat dan banyak dipengaruhi oleh alam pikiran penulis naskah atau
masyarkatnya. Melukiskan kenyaataan jauh dari fakta yang sesungguhnya sehingga
lemah dalam hal ketepatan fakta (Kuntowijoyo, 1995, hal. 8). Namun
historiografi tradisional dalam batasbatas tertentu dapat dijadikan sumber
untuk penulisan sejarah karena masih dapat mengambil nama tokoh, nama
wilayah/daerah dan tahun kejadian (Jayusman, 2012).
3. Historiografi kolonial
Historiogrofi kolonial tidak terlepas dari kepentingan penguasa
kolonial untuk mengokohkan kekuasaan di Indonesia. Kepentingan itu mewarnai
interpretasi mereka tehadap suatu peristiwa sejarah yang tentunya akan berlawanan
dengan historiografi sejarah nasional. Historiografi Kolonial adalah karya
sejarah (tulisan sejarah) yang ditulis pada masa pemerintahan kolonial berkuasa
di Nusantara Indonesia, yaitu sejak zaman
VOC (1600) sampai masa Pemeritahan Hindia Belanda yang berakhir ketika tentara pendudukan Jepang datang di Indonesia (1942). Perlu ditambahkan, pemerintahan Hindia Belanda yang dikendalikan oleh para Gubernur Jenderal (GB) melalui para ahli begitu aktif menulis karya sejarah. Atau dengan kata lain, historiografi kolonial adalah karya tulis sejarah yang ditulis oleh para sejarawan kolonial ketika pemerintahan kolonial berkuasa di Nusantara Indonesia (Jayusman, 2012).
VOC (1600) sampai masa Pemeritahan Hindia Belanda yang berakhir ketika tentara pendudukan Jepang datang di Indonesia (1942). Perlu ditambahkan, pemerintahan Hindia Belanda yang dikendalikan oleh para Gubernur Jenderal (GB) melalui para ahli begitu aktif menulis karya sejarah. Atau dengan kata lain, historiografi kolonial adalah karya tulis sejarah yang ditulis oleh para sejarawan kolonial ketika pemerintahan kolonial berkuasa di Nusantara Indonesia (Jayusman, 2012).
Karakteristik historiografi kolonial adalah sebagai berikut:
a.
Belanda Sentrisme atau
Neerlando Sentrismus artinya sejarah Indonesia di tulis dari sudut pandang kepentingan
orang-orang Belanda yang sedang berkuasa (menjajah) di Nusantara Indonesia saat
itu (Jayusman, 2012).
b.
Eropasentrisme, artinya
selain ditulis dari sudut pandang kepentingan orang Belanda, ditulis juga
sesuai dengan kepentingan bangsa Eropa pada umumnya.
c.
Mitologisasi artinya banyak
kejadian yang tidak didasarkan pada kejadian yang sebenarnya (Dasuki, 2003,
hal. 348). Interpretasi dari jaman kolonial cenderung untuk membuat mitologisasi
dari dominasinya, dengan menyebut perang-perang kolonial sebagai usaha pasifikasi
daerah-daerah, yang sesungguhnya mengadakan perlawanan
untuk pertahanan masyarakat serta kebudayaannya (Rohman, 2013).
untuk pertahanan masyarakat serta kebudayaannya (Rohman, 2013).
d.
ahistoris artinya Orang
Belanda dianggap sebagai manusia paliang sempurna dalam berbagai kehidupan di
Nusantara, peran mereka ditulais dalam historiografi Kolonial sampai
berlembar-lembar sementara peran rakyat pribumi sebagai pemilik sangat
sederhana dan dituangkan dalam halaman yang sangat minim. Sejarawan kolonial
menganggap bahwa rakyat pribumi sebagai non-faktor dalam sejarah. Contoh historiografi Kolonial dalam buku Sejarah Hindia Belanda sebagai berikut: Zaman purbakala dan Hindu (25 Halaman), Penyiaran Islam dan bangsa Portugis di Indonesia (8 halaman), VOC-kongsi dagang Belanda (152 halaman) dan pemerintah Belanda (150 halaman) (Jayusman, 2012).
menganggap bahwa rakyat pribumi sebagai non-faktor dalam sejarah. Contoh historiografi Kolonial dalam buku Sejarah Hindia Belanda sebagai berikut: Zaman purbakala dan Hindu (25 Halaman), Penyiaran Islam dan bangsa Portugis di Indonesia (8 halaman), VOC-kongsi dagang Belanda (152 halaman) dan pemerintah Belanda (150 halaman) (Jayusman, 2012).
Contoh karya historiografi kolonial yang paling popular adalah
sebuah buku yang ditulis oleh Raffles dengan judul History Of Java. Karya
lainnya adalah karya-karya yang ditulis H.J. de Graaf dengan judul:
Geschiedenis van Indonesia (Sejarah Indonesia). Karya B.H.M. Vleke dengan
judul: Geschiedenis van den Indischen Archipel (Sejarah Nusantara). Karya G. Gonggrijp
dengan judul: Schets ener aconomische Geschiedenis van Nederlands-Indie
(Sejarah Ekonomi Hindia Belanda) (Jayusman, 2012).
4. Historiografi modern
Historiografi modern muncul akibat tuntutan ketepatan teknik dalam
mendapatkan fakta sejarah. Fakta sejarah didapatkan melalui penetapan metode
penelitian, memakai ilmu-ilmu bantu, adanya teknik pengarsipan dan rekonstruksi
melalui sejarah lisan. Suatu periode baru dalam perkembangan historiografi
Indonesia dimulai dengan timbulnya studi sejarah kritis. Dalam penulisan
tentang sejarah kritis dipergunakan prinsipprinsip metode sejarah. Studi
sejarah kritis juga memerlukan bantuan dari ilmu lain untuk mempertajam
analisanya. Hal ini merupakan implikasi dari
mulai sedikitnya peran analisa tekstual dengan bantuan filologi terhadap studi sejarah Indonesia modern. Di sini yang harus diperbaiki adalah alatalat analitis serta metodologis.
mulai sedikitnya peran analisa tekstual dengan bantuan filologi terhadap studi sejarah Indonesia modern. Di sini yang harus diperbaiki adalah alatalat analitis serta metodologis.
Bertolak dari hal ini, maka beberapa disiplin dari ilmu-ilmu
sosial mulai dicantumkan dalam studi sejarah. Konsep sejarah nasional sebagai
unit makro merupakan kerangka referensi bagi sejarah lokal/regional yang dapat
dipandang sebagai unit mikro. Sejarah nasional sebagai macro-history mencakup
interaksi antar micro-unit, antara lain melalui pelayaran, perdagangan, perang,
penyiaran agama atau menuntut pelajaran,
hubungan antara lembaga-lembaga nasional, seperti partai-partai politik. Sejarah nasional bukan jumlah dari sejarah lokal, tetapi proses-proses atau kejadian-kejadian pada tingkat sejarah lokal diterangkan dalam hubungannya dengan proses nasional (Rohman, 2013).
hubungan antara lembaga-lembaga nasional, seperti partai-partai politik. Sejarah nasional bukan jumlah dari sejarah lokal, tetapi proses-proses atau kejadian-kejadian pada tingkat sejarah lokal diterangkan dalam hubungannya dengan proses nasional (Rohman, 2013).
Historiografi modern, merupakan suatu periode perkembangan baru
dalam historiografi Indonesia atau nasional. Diawali dengan munculnya karya
Husein Djajadiningrat, Critische Beschouwingen van de Sejarah Banten, kemudian
karyakarya sejarah sejarah selanjutnya banyak dipengaruhi oleh karya ini, yaitu
dengan dipergunakannya aspek pendekatan ilmu lain untuk melengkapi atau menulis
suatu karya sejarah (Indriyanto, 2001, hal. 2). Di Jaman Jepang Sanusi Pane dan
Douwes Dekker
sudah memelopori menulis Sejarah Indonesia dengan semangat nasionalisme. Karya mereka walaupun dari sudut ilmiah tidak mendapat penilaian yang tinggi, namun telah banyak membantu guru yang mengajar sejarah Indonesia pada zaman Jepang dan jaman berikutnya (Dasuki, 2003, hal. 349).
sudah memelopori menulis Sejarah Indonesia dengan semangat nasionalisme. Karya mereka walaupun dari sudut ilmiah tidak mendapat penilaian yang tinggi, namun telah banyak membantu guru yang mengajar sejarah Indonesia pada zaman Jepang dan jaman berikutnya (Dasuki, 2003, hal. 349).
Karakteristik historiografi modern adalah sebagai berikut:
a.
Bersifat Indonesia
sentrisme, penulisan sejarah di Indonesia diinterpretasikan sebagai sejarah
nasional (Dasuki, 2003, hal. 348) dan ditulis dari sudut kepentingan rakyat
Indonesia. Tugas dari historiografi nasional adalah“membongkar dan merevisi”
historiografi kolonial yang gaya penulisannya diselewengkan oleh para sejarawan
kolonial yang sangat merugikan proses pembangunan, khususnya pembangunan sikap
mental bangsa (terutama generasi muda) Indonesia dewasa ini (Jayusman, 2012).
b.
Bersifat metodologis, artinya
penulisan sejarah Indonesia menggunakan pendekatan ilmiah berdasarkan teknik
penulisan ilmiah untuk ilmu sosial.
c.
Bersifat kritis historis,
yang berarti substansi penulisan sejarah Indonesia secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.
D.
METODE
PEMBELAJARAN
Pendekatan :
Sciencetific Learning
Metode : - Ceramah
Metode : - Ceramah
-
Penugasan
E. MEDIA, ALAT, DAN SUMBER PEMBELAJARAN
1.
Media
1. Power
Point yang sudah disediakan.
2. Lembar
kerja teka-teki silang
3. Papan
tulis
2.
Sumber Belajar
1. Buku
Paket Sejarah kelas X
2. Buku
LKS
3. Babad
tanah Jadi
4. Sejarah
Nasional Indonesia
F.
LANGKAH-LANGKAH
PEMBELAJARAN
1. Pendahuluan (15 menit)
a. Siswa
diminta berdoa, sebagai wujud syukur menjadi orang Indonesia.
b. Siswa
diperiksa kehadirannya.
c. Pemusatan
perhatian dan pemotivasian dengan menceritakan hasil diskusi dari pertemuan
berikutnya.
d. Memberikan
pertanyaan kepada siswa tentang pengertian historiografi, historiografi tradisional,
kolonial dan modern.
e. Apersepsi:
meminta tanggapan siswa mengenai materi sebelumnya dan mengkaitkan dengan
materi yang akan dibahas.
2. Kegiatan Inti (100 menit)
a.
Siswa membaca buku teks terlebih dahulu
mengenai Historiografi.
b.
Membimbing siswa untuk melakukan pengamatan
melalui membaca buku teks serta sumber belajar lain tentang historiografi,
historiografi tradisional, kolonial, dan modern.
c.
Membimbing siswa untuk mendapatkan
klarifikasi dan pendalaman mengenai perbedaan historiografi tradisional,
kolonial dan modern
d.
Membimbing siswa untuk merumuskan
pertanyaan, apakah perbedaan antara historiografi tradisional dengan historiografi
kolonial dan modern?
e.
Membimbing siswa untuk mengumpulkan data
dan menemukan perbedaan antara historiografi tradisional, kolonial dan modern
kemudian merumuskan jawaban sementara
f.
Memberikan siswa kesempatan siswa untuk
bertanya tentang hal yang tidak dimengerti tentang Historiografi.
g.
Siswa diminta untuk mengerjakan soal
dalam bentuk teka teki silang.
h.
Pembahasa teka-teki silang
3.
Kegiatan
Penutup (20 menit)
a. Bersama
siswa menyimpulkan hasil pembelajaran hari ini, serta mendorong siswa untuk
selalu bersyukur menjadi orang Indonesia.
b. Meminta
siswa untuk mencari informasi tentang biografi pemimpin Indonesia dari berbagai
sumber, sebagai bahan untuk pertemuan berikutnya. Tokoh-tokoh tersebut bisa
diambil dari historiografi tradisional, kolonial maupun modern dengan
menentukan satu atau dua nama untuk masing-masing historiografi
G.
PENILAIAN HASIL PEMBELAJARAN
1. Teknik dan Bentuk Isntrumen
1. Teknik dan Bentuk Isntrumen
|
Teknik
|
Bentuk Instrumen
|
|
·
Pemngamatan Sikap
|
·
Lembar Pengamatan Sikap dan Rubrik
|
|
·
Tes Tertulis
|
·
Teka-teki silang
|
1. Intrumen
Penilaian
a. Lembar Pengamatan Sikap
a. Lembar Pengamatan Sikap
|
No
|
Aspek yang
dinilai
|
Keterangan
|
|||
|
1
|
Menunjukkan rasa bersyukur atas proses kelahiran manusia
Indonesia |
|
|||
|
2
|
Mengubah perilaku dengan mengikuti keteladanan para pemimpin
dalam mengamalkan ajaran agama. |
|
|||
|
3
|
Menunjukkan sikap dan tindakan cinta damai, responsif dan pro
aktif yang ditunjukkan oleh tokoh sejarah dalam mengatasi masalah sosial dan lingkungannya. |
|
|||
|
4
|
Menunjukkan ketekunan dan tanggungjawab dalam belajar dan
bekerja baik secara individu maupun berkelompok |
|
|||
|
5
|
Menolak mencontek dan memberi contekan kepada teman
|
|
|||
b. Rubrik
Penilaian Sikap
|
No
|
Aspek yang
Dinilai
|
Nilai
|
Rubrik
|
|
|
1
|
Menunjukkan rasa bersyukur atas proses kelahiran manusia
Indonesia
|
|
Menunjukkan ekspresi rasa bersyukur menjadi orang
Indonesia bisa (verbal dan/atau non verbal) |
|
|
|
Belum secara eksplisit menunjukkan ungkapan syukur,
namun menaruh minat terhadap proses kelahiran manusia Indonesia |
|||
|
|
Tidak menunjukkan ungkapan syuku dan tidak berminat
terhadap proses kelahiran manusia Indonesia |
|||
|
2
|
Mengubah perilaku dengan
mengikuti keteladanan para pemimpin dalam mengamalkan ajaran agama. |
|
Menunjukkan perubahan perilaku dalam menjalankan
ibadahnya |
|
|
|
Belum secara langsung menunjukkan perubahan perilaku
dalam menjalankan ibadahnya tetapi sudah mau untuk diminta menjalankan ibadahnya |
|||
|
|
Sama sekali belum ada perubahan perilaku
|
|||
|
3
|
Menunjukkan sikap dan
tindakan cinta damai, responsif dan pro aktif yang ditunjukkan oleh tokoh sejarah dalam mengatasi masalah sosial dan lingkungannya. |
|
Menunjukkan tindakan responsif dan pro aktif pada saat
teman mendapat kesulitan |
|
|
|
Menunjukkan tindakan responsif tetapi belum pro aktif ketika
teman mendapat kesulitan |
|||
|
|
Tidak menunjukkan respon dan tidak pro aktif ketika teman
mendapat kesulitan |
|||
|
4
|
Menunjukkan ketekunan
dan tanggungjawab dalam belajar dan bekerja baik secara individu maupun berkelompok |
|
Tekun dalam menyelesaikan tugas dengan hasil terbaik
yang dapat dilakukan dan berupaya tepat waktu |
|
|
|
Berupaya tepat waktu dalam menyelesaikan tugas, namun
belum menunjukkan upaya terbaiknya |
|||
|
|
Tidak bersungguh-sungguh dalam menyelsaikan tugas dan
tugasnya tidak selesai |
|||
|
5
|
Menolak mencontek dan
memberi contekan kepada teman |
|
Menolak memberi contekan dan tidak mencontek pada saat
ulangan |
|
|
|
Tidak mencontek tapi memberikan contekan pada saat
ulangan |
|||
|
|
Mencontek dan memberikan contekan pada saat ulangan
|
|||
Untuk penilaian sikap mengambil nilai
dari 0-100
0-65 ->
Kurang
65-75 ->
Cukup
75-85 ->
Baik
85-100 ->
Amat Baik
1. Penilaian Hasil
1. Terlampir
(Teka-teki silang)
Cara Penilaian.
1.
Untuk setiap soal teka teki silang yang benar di beri nilai 10
2.
Total skor yang dapat diperoleh siswa adalah 100
3.
Untuk
total skor -> jawaban benar bernilai 10.
4.
Penilaian,
jumlah bernar dikalikan (x) 10.
5.
Jumlah
benar (X) 10 = skor akhir
Mengetahui, Malang,
10 November 2015
Kepala SMA Advent
Dwi Abdi Guru
Mata pelajaran
Bambang Purnomo,
M. Sc Julitio Wanda Pradana
Komentar
Posting Komentar