Proposal PTK pendidikan sejarah

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan di sekolah dapat menghasilkan manusia yang cerdas, kreatif dan bertanggung jawab. Kualitas sumber daya manusia sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan yang diperolehnya. Semakin tinggi kualitas pendidikan yang diperolehnya, semakin tinggi pula kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan.
Peningkatan kualitas pendidikan tidak lepas dari upaya peningkatan komponen-komponen yang terdapat didalamnya. Komponen tersebut saling terikat erat satu dengan yang lainnya dalam satu sistem. Komponen yang dimaksud meliputi: guru, metode pengajaran, kurikulum, siswa, sarana dan prasarana sekolah.
Sebagai bangsa yang baik kita tidak bisa lepas dari sejarah, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah bangsanya. Namun dewasa ini banyak orang beranggapan bahwa pelajaran sejarah itu hanya merupakan pelajaran hafalan, yang hanya mempelajari masa lalu. Sejarah hanyalah sebuah novel, cerpen, roman atau mungkin dongeng pengantar tidur. Sehingga dalam mempelajari mata pelajaran sejarah menjadi tidak menarik dan membosankan. Oleh sebab itu perlu adanya pemikiran bagaimana mata pelajaran sejarah menjadi menarik, berbobot, disukai dan mendapat tempat dihati setiap orang, khususnya para siswa.
Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan, mata pelajaran sejarah adalah sebuah mata pelajaran yang kurang menarik sehingga berakibat pada menurunya minat siswa untuk mempelajari sejarah. Hal ini sangat berpengaruh dalam pendapatan nilai mata pelajaran sejah bagi siswa, khususnya di kelas XI SMA Dwi Abdi kota Malang. Agar belajar sejarah menjadi menyenangkan bagi para siswa, perlu adanya penggunaan media yang tepat. Dengan banyaknya media pembelajran yang ada pada saat ini, guru diharapkan selektif untuk menerapkan media pembelajaran yang tepat untuk digunakan.
Ada beberapa media pembelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran sejarah antara lain, media wall chart, media gambar seri, media poster, media iklan, media brosur dan masih banyak yang lainnya. Akan tetapi, dalam penelitian ini peneliti memilih menggunakan media wall chart untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa. Peranan pokok dari wall chart dalam pembelajaran adalah untuk melatih meningkatkan memory otak dan mempermudah pemahaman siswa dalam sebuah periodesasi sejarah. Melalui bimbingan dari guru, wallchart dapat berfungsi sebagai jembatan untuk membantu siswa dalam belajar.
Berangkat dari permasalahan di atas maka peneliti ingin mengangkat sebuah judul, “PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN WALLCHART DI KELAS XI IPS SMA DWI ABDI, UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN SEJARAH”. Alasan peneliti mengangkat tema ini agar pembelajaran sejarah yang selama ini oleh siswa dianggap sebagai pembelajaran yang tidak menarik akan menjadi pembelajaran yang menyenangkan dengan media wallchart sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI IPS di SMA Dwi Abdi kota Malang.

B.   Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana penerapan penggunaan media wallchart pada mata pelajaran sejarah kelas XI IPS SMA Dwi Abdi Kota Malang?
2.      Bagaimana hasil belajar siswa kelas XI IPS SMA Dwi Abdi Malang setelah menggunakan media pembelajaran wallchart dalam mata pelajaran sejarah?
C.   Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah, adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1.      Mendeskripsikan penerapan penggunaan media wallchart pada mata pelajaran sejarah kelas XI IPS SMA Dwi Abdi Kota Malang.
2.      Mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas XI IPS SMA Dwi Abdi Malang setelah menggunakan media pembelajaran wallchart dalam mata pelajaran sejarah.


D.   Definisi Istilah atau Definisi Operasional
           1. Wallchart
Wallchart adalah bahan cetak, biasanya berupa bagan siklus/proses atau grafik yang bermakna menunjukkan posisi tertentu.  Misalnya tentang siklus makhluk hidup binatang antara ular, tikus dan lingkungannya atau proses dari suatu kegiatan laboraturium. Jika dalam sejarah dapat diaplikasikan dalam sebuah periodesasi sejarah atau silsilah sebuah kerajaan. Dalam mempersiapkannya wallchart paling tidak berisi tentang:
        i.            Judul diturunkan dari KD atau materi pokok sesuai dengan besar kecilnya materi.
      ii.            Petunjuk penggunaan wallchart, dimaksudkan agar wallchart tidak terlalu banyak tulisan.
    iii.            Informasi pendukung dijelaskan secara jelas, padat, menarik dalam bentuk gambar, bagan atau siklus.
    iv.            Tugas-tugas ditulis dalam lembar kertas lain, misalnya berupa tugas membaca buku tertentu yang terkait dengan materi belajar dan membuat resumenya. Tugas lain misalnya menugaskan siswa untuk menggambar atau membuat bagan ulang. Tugas dapat diberikan secara individu atau kelompok.
      v.            Penilaian dapat dilakukan terhadap hasil karya dari tugas yang diberikan.
    vi.             Gunakan berbagai sumber belajar yang dapat memperkaya materi  misalnya buku, majalah, internet, jurnal hasil penelitian.
2. Instrumen penelitian
            Instrumen penelitian adalah semua alat yang digunakan untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah, atau mengumpulkan, mengolah, menganalisa dan menyajikan data-data secara sistematis serta objektif dengan tujuan memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis. Jadi semua alat yang bisa mendukung suatu penelitian bisa disebut instrumen penelitian.
3. Siklus
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indoneisa online, siklus adalah putaran waktu yang didalamnyaterdapat rangkainan kejadianyang berulang-ulangsecara tetap dan teratur.
4. Bagan
            Bagan biasa juga disebut dengan gambar rancangan, gambar denah atau skema. Bagan ialah alat berupa gambaran secara analisis dan statistik tentang proses yg terjadi dalam alam, teknologi dan masyarakat.
5. Grafis
            Grafis(Grafik) adalah presentasi visual pada sebuah permukaan seperti dinding, kanvas, layar komputer, kertas, atau batu bertujuan utk memberi tanda informasi, ilustrasi/hiburan.













BAB II
KAJIAN PUSTAKA

1.  Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medius yang secara harfiah berarti “tengah”, “perantara”, atau “pengantar”. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara () atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Menurut Gerlach dan Ely (1971), media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Sehingga guru, buku teks dan lingkungan sekolah marupakan media.

Fleming (1987: 234) menyatakan media berfungsi untuk mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak yaitu siswa dan isi pelajaran. Hainich dan kawan-kawan (1982) mengemukakan istilah media sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima.
Kesimpulannya, media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima. Sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

2.  Pengertian tentang Media Wallchart

Wallchart merupakan suatu media pembelajaran yang dapat berupa gambar, denah, bagan, atau skema yang biasanya digantungkan pada dinding kelas. Kegunaan media ini adalah untuk melatih penguasaan kosakata dan penyusunan kalimat. Media wall chart sering disebut dengan bagan dinding karena media ini dapat digantungkan di papan tulis atau di dinding kelas. Salah satu bentuk dari media wall chart yang berupa gambar yaitu carta gambar. Carta gambar merupakan gambar semantis yang hampir mirip dengan gambar seri (Soeparno, 1988: 19). Bedanya gambar seri merupakan gambar yang merupakan rangkaian cerita, sedangkan carta gambar merupakan gambar-gambar yang tidak menggambarkan suatu rangkaian cerita. Misalnya gambar yang dikelompokkan menurut jenisnya, seperti kelompok gambar benda bernyawa, kelompok benda tak bernyawa, kelompok gambar perbuatan, dan sebagainya (Soeparno, 1988:19).
Menurut (Saadie, 2007: 5.10-5.15) wallchart dapat juga berbentuk bagan, bentuk bagan tersebut dapat digambarkan dalam bentuk yang lebih bervariasi seperti: (a) bagan organisasi (aliran) yaitu bagan yang menjelaskan hubungan fungsional antara bagian-bagian dalam suatu organisasi, (b) bagan bergambar (bagan lukis) yaitu bagan yang disampikan dengan gambar atau lukisan, misalnya dalam suatu peta dicantumkan gambar hasil-hasil yang dihasilkan dari daerah tersebut, (c) bagan perbandingan atau perbedaan yaitu bagan yang menunjukkan perbandingan atau perbedaan suatu yang ditujukan dengan lukisan dan kata-kata, (d) bagan pandang tembus, yaitu bagan yang menerangkan keadaan di dalam suatu benda, (e) bagan keadaan yaitu bagan yang menerangkan keadaan suatu benda dengan bermacam-macam ukuran, (f) bagan terurai, yaitu bagan yang memberikan gambaran seandainya sesuatu diuraikan, tetapi tetap dalam posisi semula.
3. Fungsi Media Wallchart

Proses pembelajaran yang menggunakan media wallchart dapat memberikan nilai didik yang positif bagi siswa. Hal tersebut dikarenakan media wallchart merupakan media yang sederhana, mudah dalam pembuatannya maupun penggunaannya, dan praktis. Wallchart termasuk dalam media visual yang tidak diproyeksikan. Media visual yang tidak diproyeksikan merupakan media yang sederhana, tidak membutuhkan proyektor dan layar untuk memproyeksikan perangkat lunak. Media ini tidak tembus cahaya (nontransparan) maka tidak dapat dipantulkan pada layar. Namun, media ini paling banyak digunakan oleh guru karena lebih mudah pembuatannya maupun penggunaannya. Adanya beberapa faktor seperti, tidak adanya listrik, daerah terpencil, tidak cukup tersedianya dana maupun peralatan, kelompok kelas kecil, menyebabkan guru memilih media yang dirasa praktis dan sederhana. Salah satunya yaitu media wallchart (Saadie, 2007: 5.5).

4.         Pembelajaran
            Pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Definisi sebelumnya menyatakan bahwa seorang manusia dapat melihat perubahan terjadi tetapi tidak pembelajaran itu sendiri. Konsep tersebut adalah teoretis, dan dengan demikian tidak secara langsung dapat diamati (Robbins:69). Anda telah melihat individu mengalami pembelajaran, melihat individu berperilaku dalam cara tertentu sebagai hasil dari pembelajaran, dan beberapa dari Anda (bahkan saya rasa mayoritas dari Anda) telah "belajar" dalam suatu tahap dalam hidup Anda. Dengan perkataan lain, kita dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran telah terjadi ketika seorang individu berperilaku, bereaksi, dan merespon sebagai hasil dari pengalaman dengan satu cara yang berbeda dari caranya berperilaku sebelumnya (McGehee:2).

1.      Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dapat dianggap sebagai suatu prosedur atau prses yang teratur, suatu jalan atau cara yang teratur untuk melakukan pembelajaran. Contoh metode pembelajaran konvensional antara lain yaitu metode ceramah, metode Tanya jawab, metode diskusi, metode pemberian tugas, metode proyek, dan berbagai variasinya. Metode mengajar sesuai perkembangannya kadang-kadang juga terjabarkan dalam struktur tertentu. Strutur dimaksudkan sebagai pola-pola interaksi siswa agar tujuan pembelajaran tercapai. Setara dengan istilah metode pembelajaran, yaitu istilah model mengajar atau model pembelajaran. Model adalah suatu deskripsi dalam lingkungan belajar yang menggambarkan perencanaan kurikulum, kursus-kursus, desain unit-unit pelajaran dan pembelajaran, perlengkapan belajar, buku-buku pelajaran, buku-buku kerja, program multimedia, dan bantuan belajar melalui program computer.

2.      Stategi Pembelajaran
      Strategi pembelajaran adalah rangkaian kegiatan dalam proses pembelajaran yang terkait dengan pengelolaan siswa, pengelolaan guru, pengelolaan kegiatan pembelajaran, pengelolaan lingkungan belajar, pengelolaan sumber belajar dan penilaian agar pembelajaran lebih efektif dan efisien sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Strategi pembelajaran erat hubungannya dengan teknik pembelajaran. Teknik pembelajaran adalah implementasi dari metode pembelajaran yang secara nyata berlangsung di dalam kelas, tempat terjadinya proses pembelajaran. Teknik pembelajaran merupakan sesuatu yang  menyangkut pengertian yang lebih sempit. Hubungan antara metode dengan teknik dapat diumpamakan sebagai hubungan anata strategi dan taktik. Colin Marsh membedakan strategi pembelajaran dengan teknik pembelajaran secara sederhana.strategi pembelajaran adalah suatu cara untuk meningkatkan pembelajaran yang optimal bagi siswa termasuk bagaimana mengelola displin kelas dan organisasi pembelajaran. Akan tetapi, teknik pembelajaran adalah upaya untuk menjamin agar seluruh siswa didalam kelas diberikan berbagai peluang belajar sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka. Dalam stategi pembelajaran, ada dua strategi pembelajaran yang pokok. Yaitu pembelajaran berpusat pada guru dan pembelajaran perpusat pada siswa. Dalam dua strategi pembelajaran tersebut terdapat sejumblah teknik pembelajaran
BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
            Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Secara definitif action research is the way groups of people can organize the conditions under which they can learn from their own experiences and make their experiences accessible to others (Kemmis dan Mc Taggart, dalam Sukardi, 2006:2). Atau penelitian tindakan adalah cara sekelompok orang dalam hal ini guru, dapat mengorganisasi kondisi dimana mereka dapat belajar dari pengalaman mereka sendiri dan membuat pengalaman tersebut diakses oleh yang lain.
            Sejalan dengan pendapat tersebut, Sumarno (2006: 1) mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas, pada khususnya, menawarkan pendekatan perubahan yang langsung dapat dilihat tingkat keberhasilannya, dapat besar, dapat kecil, dan dapat pula kurang berhasil. Kelebihan lain jika dibandingkan dengan pendekatan lainnya adalah bahwa di dalam penelitian tindakan kelas ada fleksibilitas, implementasi sebuah rancangan selalu diikuti dengan pencermatan sedini mungkin apakah mampu memberikan perubahan yang diharapkan, dimana kelemahannya, dan setelah itu sangat mungkin segera dilakukan perbaikan atau penyempurnaan.  
            Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh praktisi (dalam hal ini guru) untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja.
  1. Kehadiran Peneliti
Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai guru, dengan perencanaan kegiatan sebagai berikut.
·         Penelitik bertindak sebagai guru dalm proses pembelajaran sejarah kelas XI di SMA Dwi Abdi.
·         Peneliti menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran.
·         Mengumpulkan data dari hasil proses pembelajarn di kelas.
·         Menganalisis data dari hasil proses pembelajaran di kelas.
·         Melakukan observasi terkait dengan masalah yang akan dipecahkan.
C.    Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Dwi Abdi, Jalan Raya Lembah Dieng nomor 4, Sukun Jawa Timur, kota Malang Indonesia
D.   Data

1.  Data Berdasarkan Sumbernya

Berdasarkan sumbernya, data penelitian dapat dikelompokkan dalam dua jenis yaitu data primer dan data sekunder.
  1. Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga sebagai data asli atau data baru yang memiliki sifat up to date. Untuk mendapatkan data primer, peneliti harus mengumpulkannya secara langsung. Teknik yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data primer antara lain observasi, wawancara, diskusi terfokus (focus grup discussion – FGD) dan penyebaran kuesioner.
  2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada (peneliti sebagai tangan kedua). Data sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti Biro Pusat Statistik (BPS), buku, laporan, jurnal, dan lain-lain.
Pemahaman terhadap kedua jenis data di atas diperlukan sebagai landasan dalam menentukan teknik serta langkah-langkah pengumpulan data penelitian.

2. Data Berdasarkan Sifatnya

Berdasarkan bentuk dan sifatnya, data penelitian dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu data kualitatif (yang berbentuk kata-kata/kalimat) dan data kuantitatif (yang berbentuk angka). Data kuantitatif dapat dikelompokkan berdasarkan cara mendapatkannya yaitu data diskrit dan data kontinum. Berdasarkan sifatnya, data kuantitatif terdiri atas data nominal, data ordinal, data interval dan data rasio.

a.      Data Kualitatif

Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka. Data kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data misalnya wawancara, analisis dokumen, diskusi terfokus, atau observasi yang telah dituangkan dalam catatan lapangan (transkrip). Bentuk lain data kualitatif adalah gambar yang diperoleh melalui pemotretan atau rekaman video.

b.       Data Kuantitatif

Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan. Sesuai dengan bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis menggunakan teknik perhitungan matematika atau statistika.
E. Instrumen penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2000:134), instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Ibnu Hadjar (1996:160) berpendapat bahwa instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif tentang variasi karakteristik variabel secara objektif.
Instrumen pengumpul data menurut Sumadi Suryabrata (2008:52) adalah alat yang digunakan untuk merekam-pada umumnya secara kuantitatif-keadaan dan aktivitas atribut-atribut psikologis. Atibut-atribut psikologis itu secara teknis biasanya digolongkan menjadi atribut kognitif dan atribut non kognitif. Sumadi mengemukakan bahwa untuk atribut kognitif, perangsangnya adalah pertanyaan. Sedangkan untuk atribut non-kognitif, perangsangnya adalah pernyataan. Dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan informasi kuantitatif tentang variabel yang sedang diteliti.

      F. Jenis-jenis Instrumen Penelitian
            1. Tes
Tes adalah sederetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengukuran, inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
2. Angket atau kuesioner.
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atu hal-hal yang ia ketahui.
3. Interviu (interview).
Interviu digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variabel latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap terhadap sesuatu.
4. Observasi.
Di dalam artian penelitian observasi adalah mengadakan pengamatan secara langsung, observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, ragam gambar, dan rekaman suara. Pedoman observasi berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati.
5. Skala bertingkat (ratings).
Rating atau skala bertingkat adalah suatu ukuran subyektif yang dibuat berskala.Walaupun skala bertingkat ini menghasilkan data yang kasar, tetapi cukup memberikan informasi tertentu tentang program atau orang. Instrumen ini dapat dengan mudah memberikan gambaran penampilan, terutama penampilan di dalam orang menjalankan tugas, yang menunjukan frekuensi munculnya sifat-sifat. Di dalam menyusun skala, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menentukan variabel skala. Apa yang ditanyakan harus apa yang dapat diamati responden.
6. Dokumentasi.
Dokumentasi, dari asal kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Didalam melaksanakan metode dokumentasi, penelitian menyelidiki benda-benda tertulis seperti bukubuku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, dan sebagainya.
G.        Tahap-tahap Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan dalam 2 kegiatan. Setiap kegiatan terdiri dari perencanaan tindakan, penerapan tindakan, observasi, dan refleksi.
1.      Kegiatan Pra Penelitian
Sebelum penelitian tindakan dilaksanakan, terlebih dahulu perlu diadakan observasi awal sebagaimana penelitian-penelitian yang biasa dilakukan. Observasi awal bermaksud menjaring data untuk menemukan permasalah pembelajaran. Hasil penelitian pendahuluan bermanfaat untuk merencanakan segala kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan penelitian tindakan. Sebelum melakukan penelitian, dilaksanakan wawancara terhadap guru mata pelajaran sejarah mengenai kondisi kelas XI IPS SMA Dwi Abdi dan bagaimana proses belajar sebelumnya.
2.   Kegiatan Penelitian
Kegiatan 1
Kegiatan ini direncakan 2 kali pertemuan. Pada pertemuan pertama  dan kedua ini berlangsung selama 2 x 45.
a.       Perencanaa Tindakan
1.      Penyusunan desain pembelajaran tentang materi ajar yang akan digunakan.
2.      Mempersiapkan alat yang akan digunakan, yaitu sebuah media periodesasi sejarah masa kerjaaan Hindu-Buddha dalam bentuk wallchart.
3.      Penyiapan instrumen penelitian yaitu lembar observasi dan pedoman wawancara serta format catatan lapangan.
b.      Pelaksanaan Tindakan
1.      Pertemuan 1
Ø  Pada pertemuan awal ini guru menjelaskan media wallchart yang akan digunakan dalam proses pembelajaran sejarah.
Ø  Guru memberikan materi dengan menggunakan media pembelajaran wallchart.
2.      Pertemuan 2
Ø  Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
Ø  Meberikan test kepada siswa terhadap materi yang diajarkan.
Ø  mengadakan evaluasi selama proses pembelajaran menggunakan media wallchart.
c.       Pengamatan (Observasi)
Observasi dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung untuk menganalisis pengaruh penggunaan media wallchart dalam proses pembelajaran sejarah untuk menigkatkan prestasi belajar mata pelajaran sejarah. Observasi tersebut dilakukan dengan bantuan format penilaian, lembar observasi kegiatan guru, dan catatan lapangan.
d.      Analisis dan Refleksi
Analisis dan refleksi bertujuan untuk mengevaluasi apa yang sudah terjadi pada kegiatan 1 dan untuk menentukan apa yang harus dilakukan pada kegiatan 2.
Kegiatan 2
Seperti halnya pada kegiatan 1, kegiatan ini direncanakan selama 4 jam pelajan dalam 2 kali pertemuan, pertemuan pertama dan kedua dilakukan selama 2 x 45 menit. Pada dasarnya kegiatan 2 tidak jauh berbeda dengan kegiatan 1, hanya saja kegiatan 2 terdapat perbaikan yang beracuan pada hasil evaluasi kegiatan 1. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil maksimal seperti yang diharapkan dalam penggunakaan media Wallchart untuk meningkatkan prestasi belajar sejarah di SMA Dwi Abdi kota Malang.
            H. Analisis Data
Menurut Ardhana (dalam Lexy J. Moleong 2002: 103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikanya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Taylor mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan dan tema pada hipotesis. Jika dikaji, pada dasarnya definisi pertama lebih menitikberatkan pengorganisasian data sedangkan yang ke dua lebih menekankan maksud dan tujuan analisis data. Dengan demikian definisi tersebut dapat disintesiskan bahwa analisis data merupakan  proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang didasarkan oleh data.
Data bermuatan kualitatif disebut juga dengan data lunak. Data semacam ini diperoleh melalui penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, atau penilaian kualitatif. Keberadaan data bermuatan kualitatif adalah catatan lapangan yang berupa catatan atau rekaman kata-kata, kalimat, atau paragraf yang diperoleh dari wawancara menggunakan pertanyaan terbuka, observasi partisipatoris, atau pemaknaan peneliti terhadap dokumen atau peninggalan.
       1. Teknik Analisis data kualitatif
Teknik analisis data kualitatif dilakukan dari sebelum penelitian, selama penelitian, dan sesudah penelitian.
a.    Teknik analisis sebelum di lapangan
   Penelitian kualitatif telah melakukan analisis data sebelum peneliti memasuki lapangan. Focus penelitian ini masih bersifat sementara dan berkembang setelah memasuki dan selama di lapangan.
b.   Teknik analisis selama di lapangan model Miles dan Huberman
        Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Analisis data ini dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas hingga datanya sudah jenuh.
Analisis data dilakukan melalui 3 tahap, yaitu :
1)   Data Reduction (Reduksi Data)
   Reduksi data berarti merangkum, memilih hal yang pokok, memfokuskan pada hal yang penting, dicari pola dan temanya.
Misal pada bidang pendidikan, setelah peneliti memasuki setting sekolah sebagai tempat penelitian, maka dalam meraduksi data peneliti akan memfokuskan pada murid yang memiliki kecerdasan tinggi dengan mengkatagorikan pada aspek gaya belajar, perilaku social, interalsi dengan keluarga dan lingkungan.
2)   Data Display (penyajian data)
Data display berarti mendisplay data yaitu menyajikan data dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar katagori, dsb. Menyajikan data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah bersifat naratif. Ini dimaksudkan untuk memahami apa yangterjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang dipahami.
3)   Conclusion Drawing / Verification
   Langkah terakhir dari model ini adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan dalam penelitian mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal namun juga tidak, karena masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan berkembang setelah peneliti ada di lapangan. Kesimpulan penelitian kualitatif merupakan temuan baru yang sebelumnya belum ada yang berupa deskripsi atau gambaran yang sebelumnya belum jelas menjadi jelas dapat berupa hubungan kausal / interaktif dan hipotesis / teori.

c.    Teknik analisis data
Spradley membagi analisis data penelitian kualitatif berdasarkan tahapan dalam penelitian kualitatif.
Tahapan penelitian ini adalah :
1)        Memilih situasi sosial
2)        Melaksanakan observasi partisipan
3)        Mencatat hasil observasi dan wawancara
4)        Melakukan onbservasi deskriptif
5)        Melakukan analisis domain
6)        Melakukan observasi terfokus
7)        Melaksanakan analisis taksonomi
8)        Melakukan observasi terseleksi
9)        Melakukan analisis komponensial
10)    Melakukan analisis tema
11)    Temuan budaya
12)    Menulis laporan penelitian kualitatif

        Tahapan dalam analisis data penelitian kualitatif ini berangkat dari luas, memfokus dan meluas lagi. Analisis domain adalah langkah pertama yaitu memperoleh gambaran umum dan menyeluruh dari objek penelitian / situasi social. Analisis taksonomi adalah mencari bagaimana domain yang dipilih itu dijabarkan menjadi rinci. Selanjutnya analisis komponensial adalah mencari perbedaan yang spesifik setiap rincian yang dihasilkan dari analisis taksonomi. Dan terakhir adalah analisis tema, yaitu mencari hubungan anatara domain dan bagaimana hubungannya dengan keseluruhan selanjutnya dirumuskan dalam tema / judul penelitian.

            2. Langkah-langkah analisis data
Secara garis besar, analisis data meliputi 3 langkah, yaitu :
1)   Persiapan
Kegiatan dalam langkah persiapan ini antara lain :
a.      Mengecek nama dan kelengkapan identitas pengisi.
b.     Mengecek kelengkapan data, artinya memeriksa isi instrument pengumpulan data (termasuk pula kelengkapan lembarann instrument barangkali ada yang terlepas ataupun sobek)
c.      Mengecek macam isian data. Jika didalam instrument termuat atau beberapa item yang diisi “tidak tahu” atau isian lain bukan yang dikehendaki peneliti, padahal isian yang diharapkan tersebut merupakan variabel pokok, maka item perlu didrop.
Apa yang dilakukan dalam langkah persiapan ini adalah memilih data sedemikian rupa sehingga data yang terpakai saja yang ditinggal. Langkah persiapan ini dimaksudkan untuk merapikan data agar bersih, rapi dan tinggal mengadakan pengolahan lanjutan atau menganalisis.

2)    Tabulasi
Tabulasi merupakan kegiatan menggambarkan jawaban responden dengan cara tertentu. Tabulasi juga dapat digunakan untuk menciptakan statistik deskriptif variabel-variabel yang diteliti.
G.E.R. Burroughas mengemukakan  klasifikasi analisis data sebagai berikut :
a.      Tabulasi data (the tabulation of the data).
b.     Penyimpulan data (the summarizing of the data).
c.      Analisis data untuk tujuan testing hipotesis.
d.     Analisis data untuk tujuan data penarikan kesimpulan.
Termasuk kedalam kegiatan tabulasi ini antara lain :
v  Memberikan  skor (scoring)terhadap item-item yang perlu diberi skor.
Misalnya : tes, angket bentuk pilihan ganda, rating scale, dsb.
v  Memberikan kode terhadap item-item yang tidak diberi skor.
Misalnya :
1.     Jenis kelamin:
Ø  laki-laki diberi kode 1
Ø  Perempuan diberi kode 0
2.    Tingkat pendidikan:
Ø  Sekolah Dasar diberi kode 1
Ø  Sekolah Menengah Pertama diberi kode 2
Ø  Sekolah Menengah Atas diberi kode 3
Ø  Perguruan Tinggi diberi kode 4
v  Banyaknya penataran yang pernah diikuti dikelompokkan dan diberi kode atas :
1)    Mengikuti lebih dari 10 kali, diberi kode 1
2)    Mengikuti antara 1 s.d. 9 kali, diberi kode 2
3)    Tidak pernah mengikuti penataran diberi kode 0

Mengubah jenis data, disesuaikan atau dimodifikasikan dengan teknik analisis yang akan digunakan yaitu, Memberikan kode (coding) dalam hubungan dengan pengelolaan data jika akan menggunakan computer. Dalam hal ini pengolahan data memberikan kode pada semua variabel, kemudian mencoba menentukan tempatnya di dalam coding sheet (coding form), dalam kolom beberapa baris ke berapa. Apabila akan dilanjutkan, sampai kepada petunjuk penempatan setiap variabel pada kartu kolom (punc cord).  Contoh pedoman pengkodean untuk penelitian tentang buku catatan murid adalah sebagai berikut :
X1. Kepandaian Murid
Pandai 1.= nilai rata-rata (kolom 02)
Pandai 2.= nilaiSejarah (kolom 03)
Pandai 3.= frekuensi tidak naik kelas
X2. Latar belakang orang tua
Pendidikan orang tua = pendidikan orang tua (kolom 06 + 07)
Pekerjaan orang tua = pekerjaan orang tua (kolom 07 +08)
Dukungan = pemberian buku dengan segera (kolom 09)
X3. Kepedulian guru terhadap catatan
X4. Kepedulian  orang tua trhadap catatan































DAFTAR PUSTAKA

Ibnu Hadjar.1996.Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif dalam Pendidikan.
Jakarta:RajaGrafindo Persada.
McGehee, W.1958.Are We Using All We Know About Training? Learning Theory and Training.Inggris: Personnel Psychology.
Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda
Robbins, Stephen P.2007. Perilaku Organisasi, Buku 1.Jakarta: Salemba Empat.
S. Sadiman, Arief, dkk. 2003. Media Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers
Saadie, Ma’mur. 2007. Strategi Pambelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta:Unversitas terbuka.
Soeparno, 1988. Media Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: PT. Intan Pariwara.
Suharsimi Arikunto. 2000. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukardi. 2006. Prinsip Kolaboratif dan Partisipatif dalam Penelitian Tindakan Kelas.
                 Makalah Pelatihan Metodologi PTK Bagi Dosen Muda PTN Se-Jateng – DIY.
              Kerjasama UNY - Dirjen Dikti Depdiknas Jakarta.
Sumadi Suryabrata. 2008. Metodologi Penelitian. Jakarta: RajaGrafindo Persada.


Komentar

Postingan Populer