Materi kelas XI Sejarah Indonesia Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indoenesia
1.Perjuangan Bangsa Indonesia dalam Mempertahankan Kemerdekaan dg Peperangan
Setelah
Jepang menyerah pada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, sekutu kemudian
memerintahkan Jepang untuk melaksanakan status quo, yaitu menjaga situasi dan
kondisi sebagaimana adanya pada saat itu sampai kedatangan tentara sekutu ke
Indonesia. Sekutu merupakan berbagai perkumpulan negara yang menentang politik
fasisme yang dilakukan oleh Blok Axis/Fasis/Sentral pada Perang Dunia II.
Perang berakhir dengan kemenangan blok Sekutu terhadap blok Fasis.
Pihak
sekutu memutuskan bahwa pasukan – pasukan Amerika Serikat akan memusatkan
perhatian pada pulau – pulau di Jepang, sedangkan tanggung jawab terhadap
Indonesia dipindahkan dari SWPC (South West Pasific Command) dibawah komando
Amerika Serikat kepada SEAC (South East Asia Command) di bawah komando Inggris
yang dipimpin Laksamana Lord Louis Mountbatten. Sebelum kedatangan tentara
sekutu ke Indonesia, pada tanggal 8 September Laksamana L. L. Mountbatten
mengutus tujuh perwira Inggris di bawah pimpinan Mayor A. G. Greenhalgh ke
Indonesia. Tugasnya adalah mempelajari serta melaporkan keadaan di Indonesia
menjelang pendaratan pasukan sekutu.
Pada
tanggal 16 September 1945 rombongan perwakilan sekutu berlabuh di Tanjung
Priok. Rombongan ini dipimpin oleh Laksamana Muda W. R. Patterson. Dalam
rombongan ini ikut pula C. H. O. Van der Plas yang mewakili pimpinan NICA yaitu
Dr. H. J. Van Mook. Setelah itu pada tanggal 29 September 1945 tibalah pasukan
SEAC di Tanjung Priok, Jakarta di bawah pimpinan Letjend Sir Philip Chistison.
Pasukan ini bernaung di bawah bendera AFNEI (Allied Forces Netherlands East
Indies). Pasukan AFNEI terbagi menjadi 3 divisi yaitu :
Divisi
India ke-23, di pimpin oleh Mayor Jendral D.C. Hawthorn bertugas di Jawa Barat
Divisi
India ke-5, di pimpin oleh Mayor J E.C Marsergh bertugas di Jawa Timur
Divisi
India ke-26, di pimpin oleh Mayor Jendral H.M. Chambers bertugas di Sumatra
Pasukan
AFNEI di pusatkan di Barat Indonesia terutama wilayah Sumatera dan Jawa,
sedangkan daerah Indonesia lainnya, terutama wilayah Timur diserahkan kepada
angkatan perang Australia. AFNEI diserahi beberapa tugas menerima penyerahan
kekuasaan dari tangan Indonesia.
Kedatangan
sekutu ke Indonesia semula mendapatkan sambutan hangat dari rakyat Indonesia,
seperti kedatangan Jepang dulu. Akan tetapi setelah diketahui mereka datang
disertai orang-orang NICA (Netherlands Indies Civil Administration), sikap
rakyat Indonesia berubah menjadi penuh kecurigaan dan bahkan akhirnya
bermusuhan. Bangsa Indonesia mengetahui bahwa NICA berniat menegakkan kembali
kekuasaannya. Situasi berubah memburuk tatkala NICA mempersenjatai kembali
bekas anggota KNIL (Koninklijk Nederlands Indies Leger). Satuan – satuan
KNIL yang telah dibebaskan Jepang kemudian bergabung dengan tentara NICA.
Diberbagai daerah, NICA dan KNIL yang didukung Inggris/Sekutu melancarkan
provokasi dan melakukan teror terhadap para pemimpin nasional.
Untuk
meredakan ketegangan tersebut, pada tanggal 1 Oktober 1945 panglima AFNEI
menyatakan pemberlakuan pemerintahan Republik Indonesia yang ada di daerah –
daerah sebagai kekuasaan de facto. Kerena pernyataan tersebut pemerintah RI
menerima pasukan AFNEI dengan tangan terbuka, bahkan pemerintah RI
memerintahkan pejabat daerah untuk membantu tugas – tugas AFNEI.
Pada
kenyataannya kedatangan pihak sekutu selalu menimbulkan insiden di beberapa
daerah. Tentara sekutu sering menunjukkan sikap tidak menghormati kedaulatan
bangsa Indonesia. Lebih dari itu, tampak jelas bahwa NICA ingin mengambil alih
kembali kekuasaan di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa AFNEI telah
menyimpang dari misi awalnya. Kenyataan tersebut memicu pertempuran di beberapa
daerah seperti Surabaya, Bandung, Medan, Ambarawa, Manado, dan
Bali.
a. Pertempuran Lima Hari di Semarang ( 15 Oktober 1945 ).
400 Veteran Jepang yg bekerja di pabrik gula cepiring melarikan diri ketika akan dipindahkan ke semarang dan minta perlindungan batalyon “Kido Butai di Jatingaleh”.
Pertempuran pecah di Semarang ketika 2000 pasukan Kido Butai dan tawanan memasuki Kota Semarang. Pertempuran berakhir setelah ada perundingan antara TKR dan Jepang, usaha perdamaian berlangsung cepat setelah Sekutu (Inggris) mendarat di Semarang 20 Okt 1945.
b. Pertempuran Surabaya 10 November 1945.
Pertempuran terjadi karena sekutu yang tergabung dalam AFNEI ( Allied Forces Netherland East Indies ) yg dipimpin Brigjen Mallaby melanggar perjanjian yang telah disepakati dg tidak membawa pasukan Belanda; tetapi kenyataannya dimanfaatkan oleh tentara Belanda (NICA); selain itu sekutu juga melakukan serangan ke penjara kalisosok dan membebaskan AL Belanda “Kol. Huijer”, Pangkalan Udara, Pelabuhan Tj. Perak, Kantor Pos Besar dan Gedung Bank Internito.
Rakyat Surabaya yg bergabung dg TKR melancarkan ke Gedung Bank Internito Brigjen Mallaby tewas.
Pihak sekutu menuntut Indonesia bertanggungjawab atas terbunuh nya Mallaby
Majen E.C. Mansergh mengeluarkan ultimatum (Ultimatum Mansergh)
Isinya “agar rakyat surabaya menyerahkan senjata dg tangan diatas
kepala dan menandatangani surat penyerahan dan ditahan sekutu
paling lambat pukul 6 sore tgl 9 Nov 1945”, Ultimatum ditolak oleh
Pejuang Surabaya dan Gubernur (Soerjo) yg dikenal dg nama Soetomo
menyerukan agar segenap warga surabaya melawan sekutu dg sekuat
tenaga. Puncak pertempuran pada 10 November 1945 Hal ini
membuktikan kepada sekutu dan Belanda bahwa bangsa Indonesia
ingin mempertahankan kemerdekaan yg telah diperolehnya. Untuk
mengenang setiap 10 Nov. diperingati sbg Hari Pahlawan.
c.Palagan Ambarawa
Di Ambarawa Magelang Pendaratan sekutu yg ingin membebaskan
tawanannya dipimpin Brigjen Bethel tidak disukai bgs Indonesia
dikarenakan diboncengi oleh NICA.
26 oktober 1945 pecah pertempuran melawan sekutu pertempuran
berhenti ketika Pres. Soekarno berunding berunding dengan jendral
Bethel 2 Nov 1945 yg berisi :
Pihak sekutu menuntut Indonesia bertanggungjawab atas terbunuh nya Mallaby
Majen E.C. Mansergh mengeluarkan ultimatum (Ultimatum Mansergh)
Isinya “agar rakyat surabaya menyerahkan senjata dg tangan diatas
kepala dan menandatangani surat penyerahan dan ditahan sekutu
paling lambat pukul 6 sore tgl 9 Nov 1945”, Ultimatum ditolak oleh
Pejuang Surabaya dan Gubernur (Soerjo) yg dikenal dg nama Soetomo
menyerukan agar segenap warga surabaya melawan sekutu dg sekuat
tenaga. Puncak pertempuran pada 10 November 1945 Hal ini
membuktikan kepada sekutu dan Belanda bahwa bangsa Indonesia
ingin mempertahankan kemerdekaan yg telah diperolehnya. Untuk
mengenang setiap 10 Nov. diperingati sbg Hari Pahlawan.
c.Palagan Ambarawa
Di Ambarawa Magelang Pendaratan sekutu yg ingin membebaskan
tawanannya dipimpin Brigjen Bethel tidak disukai bgs Indonesia
dikarenakan diboncengi oleh NICA.
26 oktober 1945 pecah pertempuran melawan sekutu pertempuran
berhenti ketika Pres. Soekarno berunding berunding dengan jendral
Bethel 2 Nov 1945 yg berisi :
1.Sekutu menempatkan pasukan di Magelang utk melindungi & mengevakuasi dg tentara dibatasi
2.Jalan raya Magelang – Ambarawa terbuka untuk lalulintas Indonesia dan Sekutu
3.Sekutu tidak akan melakukan aktivitas dengan NICA
Namun Kesepakatn tetap dilanggar oleh sekutu; Pasukan TKR di
Magelang dipimpin oleh
Mayor Sumarto menyerang sekutu di Ambarawa; Di Kedu perlawanan
dipimpin oleh Letkol. M. Sarbini; di Purwokerto pimpinan pasukan
Letkol. Isdiman Gugur 26 Nov 1945, perlawanan diteruskan pasukan
lain dipimpin Kol. Soedirman mengepung Ambarawa 15 Desember
1945 sekutu mundur ke semarang.
d.Bandung Lautan Api
Perlawanan melawan sekutu dibandung disebabkan karena kedatangan sekutu 12 Okt. 1945 yg tadinya melucuti senjata tentara jepang merembet pada bgs Indonesia dan memaksa agar Bandung Utara dikosongkan paling lambat 20 Nov. 1945
Karena terjadi perlawanan sekutu mengeluarkan ultimatum 2 yang isinya TRI di Bandung untuk mengosongkan seluruh kota Bandung paling lambat 23 Maret 1946, Akhirnya Bandung dikosongkan namun para pejuang membumihanguskan kota Bandung dari pada jatuh pada sekutu; Peristiwa ini dikenal dengan Bandung Lautan Api.
e.Medan Area.
Perlawanan terjadi di Medan (Sumut) karena beberapa alasan :
1. Sekutu dibawah Brigjen. T.E.D Kelly ingin mengambil alih
pemerintahan di Sumatera Utara.
2. Sekutu membentuk batalyon KNIL di Medan.
3. Sikap interniran (tawanan Belanda) tidak menghormati republik
memancing berbagai insiden.
4. Campur tangan Inggris membuat NICA didukung sekutu
5. 18 Okt 1945 sekutu mengultimatum agar menyerahkan senjatanya
6. 1 Des. 1945 Sekutu menetapkan fixed boundaries Medan Area pada
daerah yg diakuinya.
d.Bandung Lautan Api
Perlawanan melawan sekutu dibandung disebabkan karena kedatangan sekutu 12 Okt. 1945 yg tadinya melucuti senjata tentara jepang merembet pada bgs Indonesia dan memaksa agar Bandung Utara dikosongkan paling lambat 20 Nov. 1945
Karena terjadi perlawanan sekutu mengeluarkan ultimatum 2 yang isinya TRI di Bandung untuk mengosongkan seluruh kota Bandung paling lambat 23 Maret 1946, Akhirnya Bandung dikosongkan namun para pejuang membumihanguskan kota Bandung dari pada jatuh pada sekutu; Peristiwa ini dikenal dengan Bandung Lautan Api.
e.Medan Area.
Perlawanan terjadi di Medan (Sumut) karena beberapa alasan :
1. Sekutu dibawah Brigjen. T.E.D Kelly ingin mengambil alih
pemerintahan di Sumatera Utara.
2. Sekutu membentuk batalyon KNIL di Medan.
3. Sikap interniran (tawanan Belanda) tidak menghormati republik
memancing berbagai insiden.
4. Campur tangan Inggris membuat NICA didukung sekutu
5. 18 Okt 1945 sekutu mengultimatum agar menyerahkan senjatanya
6. 1 Des. 1945 Sekutu menetapkan fixed boundaries Medan Area pada
daerah yg diakuinya.
f.Puputan Margarana.
2 & 3 Maret 1946 tentara Belanda mendarat di Bali mengajak kerja
sama dengan I Gusti Ngurah Rai pimpinan laskar Bali untuk mendirikan negara Indonesia Timur, namun ditolak.
18 Nov. 1946 I Gusti Ngurah Rai menyerang markas Belanda di Tabanan (Belanda Kalah) perlawanan dilanjutkan ke utara di Desa Marga. 20 Nov. 1946 Belanda mengerahkan kekuatan penuh.
Dalam pertempuran itu I Gusti Ngurah Rai menyerukan pasukannya untuk melakukan perang Puputan (habis-habisan); karena kekuatan yang tidak seimbang pasukan I Gusti Ngurah Rai kalah dan seluruh pasukan gugur ( perang tsb dikenal dg Puputan Margarana ).
g.Peristiwa Merah Putih di Biak.
Untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia pada 14 Maret 1948 terjadi serangan rakyat Biak terhadap NICA (tangsi Sorido), namun karena kalah persenjataan perlawanan gagal.
h.Peristiwa Merah Putih di Manado
Pasukan AFNEI dari Australia mendarat di Manado telah di boncengi NICA; mereka mempersenjatai bekas pasukan KNIL (Koniklijk Nederlandsch Indisch Leger) yang ditawan Jepang
Pada akhir 1945 AFNEI menyerahkan kekuasaan pada NICA dan meninggalkan Manado, NICA mulai bertindak sewenang-wenang.
Para pemuda dan bekas KNIL yg mendukung RI membentuk pasukan Pemuda Indonesia (PPI).
14 Februari 1946 PPI menyerbu NICA di Teling membebaskan tokoh PPI yang ditangkap, berhasil menguasai markas NICA di Tomohon dan Tondano.
16 Februari 1946 dibentuk pemerintahan sipil “B.W. Lapian sebagai Residen, dan membentuk TRI dipimpin Ch. Taulu dan J. Kaseger.
2. Perjuangan Bangsa Indonesia dalam Mempertahankan Kemerdekaan dengan
Diplomasi
a. Pertemuan Jakarta ( 10 Februari 1946 ).
Pada pertemuan ini Indonesia diwakili oleh PM. Sutan Syahrir sedang Belanda
oleh H.J. Van Mook dan Inggris sbg perantara Jend. Sir Philip Christison.
pada pertemuan ini Van Mook menyampaikan usulan seperti pidato Ratu
Belanda 7 Desember yg isinya :
1. Indonesia akan dijadikan negara persemakmuran berbentuk federasi yg
memiliki pemerintahan sendiri dalam lingkungan kerajaan Belanda.
2. Masalah dalam negeri diurus oleh Indonesia sendiri, urusan LN Belanda.
3. Sebelum dibentuk persemakmuran, akan dibentuk pemerintahan
peralihan selama 10 Th.
4. Indonesia akan dimasukkan sebagai anggota PBB
27 Maret 1946 Sutan Syahrir memberikan jawaban atas usulan Van Mook :
a. supaya pemerintah Belanda mengakui kedaulatan RI secara de facto atas
Jawa dan Sumatera.
b. supaya RI dan Belanda bekerjasama dalam membentuk negara RIS
c. RIS bersama-sama dg Belanda, Suriname, Curocao menjadi peserta dalam
ikatan kenegaraan Belanda.
b. Pertemuan Hooge Veluwe 14 – 24 April 1946.
Delegasi Indonesia : A.G. Pringgodigdo dan Dr. Sudarsono.
Delegasi Belanda : H.J. Van Mook.
Delegasi Inggris : Sir Archibald Clark.
“ Indonesia menuntut pengakuan Belanda atas seluruh bekas jajahan Belanda, akan tetapi untuk sementara Indonesia meminta Belanda untuk mengakui secara de facto wilayah Indonesia atas Jawa, Sumatera dan Madura; tuntutan itu ditolak oleh Belanda.
pertemuan berakhir dengan kegagalan.
c. Perundingan Jakarta (7 Oktober 1946 ).
Delegasi Indonesia : Sutan Syahrir.
Delegasi Belanda : Prof. Schermerhorn
Perundingan mencapai kesepakatan sebagai berikut :
a. Gencatan senjata Indonesia – Belanda.
b. Dibentuk Komisi bersama gencatan senjata untuk menangani masalah
gencatan senjata & teknis pelaksanaanya
c. Disepakati bahwa Indonesia – Belanda melaksanakan perundingan secepat
mungkin.
d. Perundingan Linggajati (10 November 1946 ).
Perundingan dilaksanakan di Linggajati, Kuningan Jawa Barat.
Delegasi Indonesia : A.G. Pringgodigdo, Dr. Sudarsono, Mr. Susanto
Dr. J. Leimena, dr. A.K. Gani, Moh. Roem,
Mr. Amir Syarifudin, Mr. Ali Budiarjo.
Delegasi Belanda : Mr. Van Pool, F. de Boer dan Van Mook.
Delegasi Inggris : Lord Killearn.
15 November menghasilkan keputusan :
a. Belanda mengakui secara de facto, Indonesia terdiri atas wilayah Jawa
Madura dan Sumatera. Belanda meninggalkan paling lambat 1 Jan. 1946
b. Indonesia – Belanda sepakat bekerjasama membentuk negara serikat/RIS
Yang didalamnya RI
c. RIS dan Belanda membentu Uni Indonesia - Belanda dg Ratu Belanda sbg
Ketua
Agresi Militer Belanda I
Agresi Belanda I 21 Juli 1947, beberapa kota penting di Jawa dan Sumatera jatuh ke pihak Belanda.
Belanda mendapat kecaman dunia Internasional; India & Australia simpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia mengajukan tututan pada PBB untuk menciptakan perdamaian di Indonesia.
31 Juli 1947 DK PBB meminta Indonesia – Belanda untuk melakukan gencatan senjata dan melakukan perundingan.
e. Pembentukan Komisi Tiga Negara (KTN)
14 Agustus 1947 DK PBB bersidang membahas masalah Indonesia – Belanda
Indonesia diwakili : Sutan Syahrir, H. Agus Salim, Dr. Sumitro Djojohadikusumo ,Sudjatmoko dan Charles Tumbun menyampaikan keadaan Indonesia akibat Agresi Belanda.
DK PBB menyepakati dibentuknya badan Arbitrase yg tidak memihak untuk menyelesaikan konflik Indonesia – Belanda; Badan itu bernama Komisi Tiga Negara (KTN).
KTN terdiri dari Australia ( Richard C. Kirby ) wakil Indonesia, Belgia ( Paul Van Zeeland ) wakil Belanda dan Amerika Serikat ( Dr. Frank B. Graham ).
KTN mulai kerja 27 Okt.1947 dibidang politik dan militer hasil KTN perundingan Renville 8 Des.1947.
f. Perundingan Renville 17 Januari 1948
Delegasi Indoneia dipimpin oleh PM. Amir Syarifudin.( terdiri dari Ali
Sastro Amidjojo, H. Agus Salim, Dr. j. Lei
mena, Dr. Latuharhary, TB. Simatupang.
Delegasi Belanda dipimpin oleh R. Abdul Kadir Widjojoatmodjo.
Isi Perundingan Renville :
1. Persetujuan Gencatan senjata antara Indonesia – Belanda.
2. Enam pokok prinsip tambahan untuk perundingan guna mencapai
penyelesaian politik yang meliputi :
a. Belanda tetap memegang kedaulatan atas seluruh wilayah
Indonesia sampai dibentuk RIS.
b. Sebelum RIS dibentuk Belanda dapat menyerahkan sebagian
kekuasaannya pada pemerintah federal sementara.
c. RIS sederajat dengan Belanda dan menjadi bagian Uni-Indonesia
Belanda dengan Ratu Belanda sebagai Ketua.
d. Republik Indonesia bagian dari RIS
e. Akan diadakan penentuan pendapat rakyat (plebisit) di Jawa, Madura dan
Sumatera untuk menentukan apakah rakyat akan bergabung dg RI atau RIS
f. Dalam waktu 6 bl – 1 th akan diadakan Pemilu untuk membentuk Dewan
Konstitusi.
Agresi Belanda II 19 Desember 1948
Walaupun sudah diadakan perundingan Belanda tetap melanggar, melakukan aksi militer ke Ibukota RI di Jogyakarta.
Pres. Soekarno mengungsi ke Prapat (Sumatra), Hatta ke Bangka; pemerintahan dipindahkan ke Sumatra dibawah Menteri Kemakmuran ( Mr. Syafrudin Prawira Negara ).
RI terus melakukan perlawanan secara gerilya oleh Panglima Jend. Soedirman, A.H. Nasution; puncak serangan 1 Maret 1949 berhasil menguasai Jogya selama 6 jam.
Menghadapi tindakan KTN hanya dapat melapor pada DK. PBB.
22 Desember 1948 keluar resolusi yg mendesak agar permusuhan segera dihentikan serta pemimpin yang ditawan agar dibebaskan dan KTN sebagai pengawas pelaksanaan resolusi tersebut.
g.Konferensi Asia New Delhi
Menghadapi agresi Belanda, Indonesia mendapat simpati Internasional terutama dari negara-negara Asia – Afrika.
23 Januari 1949 PM. Jawaharlal Nehru (India) atas nama Konferensi Asia di New Delhi menuntut dipulihkannya RI seperti semula :
r tentara Belanda ditarik mundur
r kedaulatan diserahkan pada RI
r kewenangan KTN diperluas
Konferensi New delhi dihadiri oleh : Afganistan, Australia, Burma, Sri Lanka, Mesir, Ethiopia, India, Iran, Irak, Libanon, Pakistan, Philipina, Saudi Arabia, Suriah, dan Yaman.
Negara peninjau : Cina, Nepal, Selandia Baru dan Thailand.
Atas desakan peserta Konferensi maka DK. PBB menerima hasil resolusi yg berbunyi :
1. segera melakukan gencatan senjata.
2. Pemimpin-pemimpin RI segera dibebaskan dan dikembalikan ke Jogya.
3. Pengembalian pemerintahan RI ke Jogyakarta.
4. KTN diganti menjadi UNCI (United Nations Commisions for Indonesia)
g.Konferensi Asia New Delhi
Menghadapi agresi Belanda, Indonesia mendapat simpati Internasional terutama dari negara-negara Asia – Afrika.
23 Januari 1949 PM. Jawaharlal Nehru (India) atas nama Konferensi Asia di New Delhi menuntut dipulihkannya RI seperti semula :
r tentara Belanda ditarik mundur
r kedaulatan diserahkan pada RI
r kewenangan KTN diperluas
Konferensi New delhi dihadiri oleh : Afganistan, Australia, Burma, Sri Lanka, Mesir, Ethiopia, India, Iran, Irak, Libanon, Pakistan, Philipina, Saudi Arabia, Suriah, dan Yaman.
Negara peninjau : Cina, Nepal, Selandia Baru dan Thailand.
Atas desakan peserta Konferensi maka DK. PBB menerima hasil resolusi yg berbunyi :
1. segera melakukan gencatan senjata.
2. Pemimpin-pemimpin RI segera dibebaskan dan dikembalikan ke Jogya.
3. Pengembalian pemerintahan RI ke Jogyakarta.
4. KTN diganti menjadi UNCI (United Nations Commisions fo
r Indonesia)h.Perundingan Roem – Royen
UNCI mulai melaksanakan tugas yaitu melancarkan perundingan antara Indonesia – Belanda , mengurus pengembalian kekuasaan ketangan Indonesia dan mengadakan Plebisit; salah satu perundingan yang di selenggarakan UNCI adalah Perundingan Roem – Royen ( 17 April 1949 ) yang isinya : “ kedua pihak sepakat menciptakan perdamaian, mengadakan perundingan berikutnya, dan menerima inisiatif dari badan Internasional.”
i.Konferensi Inter Indonesia.
Negara-negara bagian yang dibentuk Belanda merasa bahwa dukungan yang diberikan Belanda adalah upaya untuk menguasai kembali seluruh Indonesia dengan politik devide et impera.
19 – 22 Juli 1949 Negara-negara diluar Ri sepakat mengadakan konferensi dengan RI yang disebut Konferensi Inter – Indonesia.
30 Juli 1949 Konferensi dilanjutkan di Jakarta dipimpin Moh. Hatta menghasilkan kesepakatan untuk menyelenggarakan KMB ( Konferensi Meja Bundar ).
j. Konferensi Meja Bundar ( KMB ).
23 Agustus – 2 November 1949 di Den Haag hasil kesepakatan diajukan ke KNIP untuk di sahkan.
Berdasarkan sidang KNIP 6 Desember 1949 hasil KMB diterima dg suara terbanyak dan disahkan.
15 Desember 1949 diadakan pemilihan Presiden RIS, 17 Desember 1949 Ir. Soekarno dilantik sebagai Presiden.
Kabinet RIS I dipimpin oleh Drs. Moh. Hatta
Pengakuan Kedaulatan
23 Desember 1949 delegasi RIS dipimpin Drs. Moh. Hatta berangkat ke Belanda untuk menandatangani akte Penyerahan Kedaulatan dari pemerintah Belanda.
27 Desember 1949 diadakan upacara naskah “Penyerahan” kedaulatan dari pemerintah Belanda kepada RIS.
Catatan.
Penyerahan kedaulatan dimaksud adalah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda; karena RI telah memiliki kedaulatan sejak 17 Agustus 1945
Komentar
Posting Komentar