PERKEMBANGAN MASYARAKAT INDONESIA PADA MASA ORDE BARU Berbagai Kebijakan Awal Pemerintah Orde Baru
BAB I ,,, PERKEMBANGAN MASYARAKAT INDONESIA PADA MASA
ORDE BARU
Berbagai Kebijakan Awal Pemerintah Orde Baru
- Melaksanakan
Pemilu
q Pemilu
dilaksanakan pada tahun 1971, 1977,
1982, 1987, 1992, 1997.
q Dilakukan
penyederhanaan sistem kepartaian dengan melakukan tekanan politik yang besar .
Hanya ada tiga partai, yaitu Partai Persatuan Pembangunan, Golongan Karya, dan
Partai Perjuangan Indonesia.
q Tidak
ada kekuatan oposisi dalam pemerintahan.
q Pancasila
dijadikan satu-satunya asas bagi seluruh organisasi politik, sosial, dan
kemasyarakatan.
2. Repelita
q Pola Dasar Pembangunan Nasional,
artinya pembangunan nasional pada hakikatnya adalah pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945.
q Pola
Umum Pembangunan Jangka Panjang merupakan arah dan strategi pembangunan
jangka panjang, dengan jangka waktu 25-30 tahun dan disusun berdasarkan Pola
Dasar Pembangunan Nasional.
q Pola Umum Pembangunan Lima Tahun
menggariskan arah kebijaksanaan pembangunan dalam lima tahun.
Trilogi
Pembangunan
- Pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi.
- Pemerataan
pembangunan dan hasil-hasilnya agar tercapai keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.
- Stabilitas
nasional yang sehat dan dinamis.
Perkembangan Penduduk Indonesia
- Pertumbuhan
Penduduk dan Program KB
Ø Penerapan
program Keluarga Berencana (KB) untuk mengatasi ledakan penduduk.
- Mobilitas
Sosial Penduduk
Ø Urbanisasi
terjadi karena perkembangan daerah perkotaan yang sangat cepat.
Dampak
postif : terpenuhinya tenaga kerja di berbagai sektor industri dan bahan
baku industri, serta terjadi akulturasi kebudayaan dari penduduk di berbagai
daerah.
Dampak
negatif : timbulnya kriminalitas,
pengangguran, perkampungan kumuh, gelandangan, prostitusi, penetrasi kebudayaan
dari kota ke desa, serta keluarnya sumber daya produktif dari desa ke kota.
Ø Emigrasi
yang biasa dilakukan para TKI. Di satu sisi TKI memberi devisa tinggi bagi
negara, tetapi di sisi lain membawa masalah sosial.
Ø Transmigrasi
yang dilakukan sebagai upaya pemerataan penduduk di luar Pulau Jawa.
- Pendidikan
dan Pertumbuhan Elit Intelektual
bidang
ini mengalami kemajuan pesat dengan dibangunnya sekolah-sekolah,
dipekerjakannya guru, dan bertambahnya jumlah anak yang bersekolah.
- Revolusi
Hijau
Ø Merupakan
revolusi produksi biji-bijian dari berbagai hasil penelitian ilmiah untuk
menemukan benih unggul baru.
Ø Intensifikasi
adalah penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi pertanian untuk
memanfaatkan lahan yang ada guna memperoleh hasil yang optimal.
Ø Ekstensifikasi
artinya perluasan lahan pertanian untuk memperoleh hasil pertanian yang lebih
optimal. Program ini terutama dilakukan di luar pulau Jawa yang masih sangat
luas wilayahnya.
2. Peningkatan
Ekspor
Ø Indonesia mempunyai komoditas andalan pada tahun
1980-an, yaitu minyak dan gas bumi.
Ø Komoditas
lain yang mempunyai nilai ekspor sangat besar adalah kayu, tekstil, plastik dan
karet, produk nabati, dan logam tidak mulia.
Ø Tingginya
nilai ekspor tidak membuat devisa meningkat. Ekspor kayu membuat gundul hutan
karena reboisasi tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Hasil pengusahaan hutan
yang masuk ke dalam kas negara hanya sekitar
10 %. Sisanya dinikmati para pemegang HPT dan pengusaha asing.
Perlawanan dan Gerakan Integrasi
- Peristiwa
Malari (Malapetaka Januari 1974)
Ø Dilatarbelakangi
ketidakadilan sistem ekonomi di Indonesia. Merupakan aksi para mahasiswa yang
tidak senang dengan dominasi ekonomi Jepang di Indonesia. Ketidaksenangan
terjadi pada waktu kunjungan PM Jepang, Kakuei Tanaka di Jakarta (14-17 JAnuari
1974).
- Kerusuhan
Berlatar Belakang Sara
Ø Keberagaman
penduduk Indonesia merupakan kekayaan budaya nasional, tetapi juga titik lemah
bagi persatuan bangsa. Misalnya adalah peristiwa 5 Agustus 1973 di Bandung dan peristiwa Solo 17 September 1992.
- Integrasi
Timor-Timur 17 Juli 1976
Ø Proses
dekolonisasi Timor-Timur ke dalam NKRI yang sebelumnya merupakan jajahan
Portugal.
Politik Luar Negeri
Politik luar negeri yang dianut Republik Indonesia adalah
bebas aktif. Bebas berarti tidak terikat oleh suatu ideologi atau politik
negara asing atau blok negara-negara tertentu. Aktif artinya dengan sumbangan
nyata giat mengembangkan kebebasan, persahabatan, dan kerja sama internasional.
Pelaksanaannya
- Aktif
kembali sebagai anggota PBB pada tahun 1966.
- Menyehatkan
hubungan dengan negara dan organisasi internasional lain.
- Memperkuat
kerja sama regional dan internasional.
Kebijakan meningkatkan peran dan kerja sama regional dan
internasional
v Turut serta dalam keanggotaan ASEAN.
v Mengirimkan
kontingen Garuda Indonesia.
v Berperanan dalam KTT Nonblok.
v Berperanan
dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI).
v Aktif
dalam PBB, misal Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik menjadi ketua Sidang
Umum PBB (1974).
Kegagalan Orde baru
- Kegagalan
Pembangunan
q Keberhasilan
pembangunan itu dalam pelaksanaannya dinodai oleh praktik-praktik KKN yang
menguntungkan keluarga Presiden Soeharto dan kroninya.
q Banyaknya
hutan gundul yang diekploitasi demi keuntungan dari ekspor kayu.
q Banyaknya
beban hutang akibat pembangunan.
- Kesenjangan
Sosial
q Transformasi
sosial masyarakat berjalan lamban yang disebabkan kuatnya katup yang menutup
akses masyarakat dalam lapangan sosial.
q Terjadi
diskriminasi antara kaya dan miskin serta
pusat dan daerah dalam pemerataan hasil pembangunan
3. Kondisi
Politik dan Pemerintahan
q Pemerintahan cenderung
sentralistik, represif, dan otoriter karena mengedepankan pendekatan keamanan
dan stabilitas.
q Pemerintah
mensiptakan mayoritas tungga dengan adanya Golkar.
q Pemerintah
anti oposisi.
q Dilaksanakannya
dwifungsi ABRI.
q Banyak
terjadi gerakan penentangan dan disintegrasi, misalnya GAM, OPM, dan integrasi
Tim-Tim.
BAB II Perkembangan Masyarakat
Indonesia pada Masa Reformasi
Reformasi didefinisikan sebagai perubahan secara
drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik, dan agama) dalam suatu
masyarakat atau negara. Dalam bahasa Inggris reformasi atau reformation
senada dengan hal di atas. ”Reformation is a great change for the better in
social, religious or political affairs”
Revolusi dijalankan untuk melakukan perubahan ketatanegaraan
(baik pemerintah maupun keadaan sosial) yang dijalankan dengan kekerasan
(kekuatan fisik).
Antara reformasi dan
revolusi dapat dibedakan berdasarkan media dan cara yang ditempuh.
Kondisi Pemerintahan Masa Orde Baru
1. Bidang Ekonomi
Ø Program-program
pembangunan ekonomi berhasil.
Ø Harga
minyak melonjak.
Ø Muncul
gedung-gedung pencakar langit yang megah, jalan layang dan jalan tol yang
saling bertautan, mobil-mobil mewah baik dinas maupun pribadi di kota-kota
besar.
Ø Sampai
tahun 1980-an Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat.
Ø Pada
tahun 1971-1981 tingkat pertumbuhan tahunan Produksi Domestik Bruto (PDB)
berkisar sekitar 7,7%.
Ø Pada
tahun 1981 Indonesia merupakan penghasil gas alam cair terbesar di dunia.
Ø Perusahaan
asing dituntut melatih penduduk lokal agar terjadi tranfer teknologi.
Ø Indonesia
berhasil mengembangkan industri pesawat terbang, yaitu Industri Pesawat Terbang
Nusantara (IPTN).
Ø Terjadi
praktik KKN yang menyebabkan berbagai bidang dikuasai oleh sekelompok orang.
Ø Pada
tahun 1986 terjadi penurunan harga minyak dunia yang mengakibatkan devisa
ekspor minyak Indonesia menurun.
Ø Terjadi
utang luar negeri yang cukup tinggi.
Sebagian besar hutang tersebut berbentuk Yen Jepang dan Dollar Amerika
Serikat. Saat nilai rupiah melemah,
utang luar negeri mencapai 51.415 dolar Amerika Serikat.
Penyebab Munculnya Reformasi
1. Kekuasaan
Soeharto terlalu lama (1966-1998) sehingga terjadi penyelewengan.
2. Nilai-nilai
Pancasila dan UUD 1945 selalu disalahgunakan untuk kepentingan golongan. Salah
satunya dilakukan dengan money politics dan KKN.
3. Politik
sentralistik mengakibatkan kepentingan daerah terabaikan.
4. Adanya
pengekangan kehidupan politik sehingga kedaulatan rakyat hanya berada di
golongan tertentu.
Agenda Reformasi
1 Adili
Suharto dan kroninya
2. Amandemen
UUD 1945
3. Penghapusan
Dwifungsi ABRI
4. Otonomi
daerah yang seluas-luasnya
5. Supremasi
hukum
6. Pemerintahan
yang bersih dari KKN
Jatuhnya Pemerintahan Orde Baru
TUNTUTAN REFORMASI DAN JATUHNYA PEMERINTAHAN ORDE BARU
Reformasi merupakan perubahan yang radikal dan menyeluruh untuk perbaikan. Indonesia merupakan salah satu negara yang pernah melakukan refomasi tahun 1998. Reformasi yang dilakukan Indonesia bertujuan untuk menciptakan negara yang makmur, adil dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Tuntutan reformasi yang dilakukan oleh rakyat Indonesia pada dasarnya dikarenakan oleh krisis dalam tubuh negara yang tidak kunjung reda. Tuntutan reformasi dalam bentuk unjuk rasa dan berbagai kerusuhan tidak mampu lagi dikendalkan oleh pemerintah Orde Lama, sehingga membuat jatunhya pemerintahan ini.
A. Pengertian Reformasi
Sebelum anda mengenal reformasi, pastinya anda telah mengenal bagaimana pemerintahan Orde Baru. Pada Masa Orde Baru pembangunan nasional yang digaungkan oleh pemerintah ternyata menyimpan banyak penyimpangan. Orientasi pembangunan hanya ditekankan secara fisik semata, tetapi gagal dalam membangun karakter dan mental bangsa. Semua penyimpangan ini terakumulasi dalam banyak penyimpangan. Wacana reformasi menyeruak. Indonesia mulai menjajaki fase baru perubahan dalam sebuah masa yang dinamakan Orde Reformasi.
Perubahan yang dasar atas paradigm baru atau kerangka berpikir baru yang dijiwai oleh suatu pandangan keterbukaan dan transparansi merupakan tuntutan dalam era reformasi. Reformasi menghendaki adanya perubahan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kea rah yang lebih baik secara konstitusional dalam berbagai bidang kehidupan. Ketika terjadi krisis ekonomi, politik, dan hukum maka seluruh rakyat yang mendukung adanya reformasi dan menghendaki adanya pergantian pemimpin yang diharapkan dapat membawa perubahan Indonesia di segala bidang kea rah yang lebih baik.
B. Tujuan Reformasi
Melihat situasi politik dan kondisi ekonomi Indonesia yang semakin tidak terkendali, rakyat Indonesia menjadi semakin kritis, bahwa Indonesia di bawah pemerintah Orde Baru tidak berhasil menciptakan negara yang makmur, adil dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Atas kesadaran itu, rakyat secara bersama-sama dengan dipelopori oleh para mahasiswa dan para cendikiawan mengadakan suatu gerakan yang dikenal sebagai Gerakan Reformasi. Tujuan Gerakan Reformasi adalah memperbarui tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, agar sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945, baik dalam bidang ekonomi, politik dan hukum.
1. Reformasi di bidang politik
Inti reformasi politik adalah demokrasi, mengembalikan dan melaksanakan kedaulatan rakyat. Satu di antara tuntutan demokratisasi adalah dihapuskannya Paket Lima Undang-Undang Politik, yang meliputi :
a. UU Kepartaian yang harus mengenal dua partai politik dan satu Golkar
b. UU Pemilu (yang tidak luber dan jurdil)
c. UU tentang asas tunggal bagi partai politik dan organisasi masa
d. UU tentang susunan kedudukan MPR, DPR, dan DPRD
e. UU tentang referendum bila akan diadakan perubahan UUD 1945
Dalam upayanya reformasi di bidang politik ini termasuk dihapuskannya Dwifungsi ABRI dan terjaminnya kebebasan berbicara serta mengeluarkan pendapat bagi rakyat termasuk kebebasan pers.
2. Reformasi bidang ekonomi
Reformasi ekonomi meliputi penurunan harga, stabilitas rupiah, restrukturisasi perbankan, penghapusan monopoli dan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi krisis ekonomi
3. Reformasi bidang hukum
Supremasi hukum harus ditegakkan, karena semua warga negara berkedudukan sama di dalam hukum dan pemerintahan.
C. Faktor-faktor yang mendorong reformasi
Faktor-faktor kuat yang mendorong masyarakat dala mengeluarkan tuntutan reformasi adalah krisis yang terjadi secara besar-besaran sehingga mempengaruhi stabilitas di segala bidang kehidupan di Indonesia.
· Krisis ekonomi
ü Sejak bulan Juli 1997, nilai tujar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat jatuh merosot dengan cepat.
ü Dunia perbankan dilanda kredit macet yang parah. Hal ini justru dialami bank milik pemerintah (Bank BUMN). Banyak bank di Indonesia menerima dana Bantuan Likuiditas dari Bank Indonesia tidak mampu mengelola dengan baik
ü Pelaku ekonomi panic dan berjalan tanpa arah. Keadaan ekonomi terutama di sector riil seperti usaha produksi, distribusi dan perdagangan banyak yang macet. Laju penurunan ekpor menurun tajam.
ü Kinerja dunia usaha mengalami ketidakpastian. Berbagai agenda politik dan ekonomi tidak ada kepastian. Bahkan berbagai kerusuhan semakin marak dan meluas. Akibatnya krisis, banyak perusahaan yang mengurangi jumlah karyawannya dan hal ini menimbulkan pengangguran.
ü Laju inflasi meningkat. Laju ini pada tahun 1996 tercatat meningkat sebesar 6,4 %. Kaum penerima upah atau gaji pada setiap bulannya, tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
· Krisis politik
ü Kebijaksanaan pemerintah di dalam bidang politik selalu menguntungkan Golkar dan merugikan partai politik, mayoritas tunggal dengan kemenangan Golkar adalah demi kelangsungan pembangunan nasional
ü Pelaksaan demokrasi tidak berjalan semestinya. Pemilu yang sering dilaksanakan tidak terlaksana secara jujur dan adil.
ü Kedaulatan rakyat hanya ditangani oleh sekelompok tertentu bahkan leboh banyak dipegang oleh para penguasa.
ü Penyimpangan ini menimbulkan ketidakpercayaan terhadap petinggi-petinggi negara
ü Ketidakpercayaan diperparah dengan semakin berkembangnya korupsi, kolusi dan nepotimse yang dilaksanakan secara terselubung.
D. Jatunya Pemerintaha Orde Baru
Menjelang siding umum MPR, tuntutan agar Presiden Soeharto tidak lagi dicalonkan atau mencalonkan diri sebagai presiden kian marak. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa suara-suara kritis yang menuntut perubahan tersebut tidak mendapat jawaban seperti yang diharapkan. Golkar sebagai pemenang pemilu 1997 mencalonkan kembali Soeharto sebagai presiden periode 1998—2003. Terpilihnya kembali Soeharto sebagai presiden melalui Sidang MPR (1—11 Maret 1998) ternyata tidak menimbulkan dampak positif yang berarti bagi upaya pemulihan kondisi ekonomi Indonesia. Bahkan, memperparah gejolak krisis. Gelombang aksi mahasiswa silih berganti menyuarakan tuntutan gerakan reformasi. Tuntutan itu adalah
1. Bubarkan Orde Baru dan Golkar
2. Hapuskan Dwifungsi ABRI
3. Hapuskan KKN
4. Tegakkan supremasi hukum, hak asasi manusia (HAM)dan demokrasi
Tuntutan gerakkan reformasi oleh mahasiswa mencapai puncaknya pada tanggal 12 Mei 1998, ketika aksi mereka menimbulkan bentrok dengan pihak aparat keamanan hingga terjadi peristiwa tragis yaitu Tragedi Trisakti. Dalam peristiwa itu, 4 orang mahasiswa Trisakti tewas dan puluhan orang lainnya luka parah. Keempat mahasiswa yang terbunuh adalah Elang Mulya Lesmana, Hery Hartanto, Hendriawan Sie dan Hafidhin Royan. Keempat mahasiswa ini patut menjadi tokoh dan pantas dicatat sebagai bagian dari sejarah reformasi seperti halnya Arief Rachman Hakim yang tewas pada peristiwa aksi tahun 1966.
Pada tanggal 13—14 Mei 1998 terjadi kerusuhan selama dua hari berturut-turut, sebagai buntut dari peristiwa berdarah Tragedi Trisakti. Kerusuhan yang menelan ratusan korban jiwa dan harta benda terjadi dengan sasaran amuk massa berupa pembakaran dan penjarahan pertokoan milik warga Cina keturunan beserta gedung-gedung pusat perbelanjaan lainnya. Amuk masa ini menyebabkan kerugian triliunan rupiah, hilangya nyawa dan luka traumatic bagi warga keturunan Cina.
Pasca peristiwa Trisakti dan kerusuhan masa tersebut, kemudian memicu gerakan mahasiswa yang berpusat di Jakarta untuk mulau melancarkan aksi yang lebih besar. Mereka mengarahkan perhatian utama kepada wakil-wakil rakyat di DPR/MPR RI. Mahasiswa pun beratangan ke gedung DPR/MPR RI dengan tuntutan utama, yaitu segera dilakukan Sidang Istimewa(SI) MPR dan pencabutan mandate MPR kepada Presiden Soeharto. Sejak 18 Mei, kelompok-kelompok mahasiswa dari berbagai universitas berdatangan untuk menduduki gedung DPR/MPR RI. Dengan semakin kuatnya tuntutan mahasiswa tersebut, maka pada tanggal 20 Mei 1998 pimpinan DPR berdasarkan hasil konsultasi memutuskan akan menggelar Sidang Istimewa (SI) MPR jika presiden tidak mengundurkan diri. Keputusan untuk menggelar SI MPR ini merupakan puncak aspirasi mahasiswa yang juga mewakili rakyat Indonesia untuk menurunkan Soeharto dari kursi kepresidenan yang telah dijabatnya selama 32 tahun.
Menanggapi hal tersebut Presiden Soeharto berupaya membentuk komite reformasi, perubahan cabinet, tetapi tidak mendapat tanggapan yang positif. Oleh karena itu, pada tanggal 21 Mei 1998, pukul 09.05 pagi, di Istana Merdeka Jakarta, Presiden Soeharto menyatakan berhenti, setelah 32 tahun, 7 bulan, dan 3 minggu massa kekuasaannya sebagai presiden RI. Kedudukan presiden selanjutnya digantikan oleh wakilnya yaitu B.J. Habibie.
1. Krisis Politik
Ø Diawali
dengan kemenangn Golkar kesekian kalinya pada Pemilu 1997.
Ø Diangkatnya
kembali Soeharto sebagai Presiden RI masa bakti 1998-2003.
Ø Formasi
kabinet menteri terdiri dari orang-orang yang dianggap tidak cukup kompeten dalam bidangnya.
2. Krisis Ekonomi
Ø Diawali
adanya krisi Asia pada bulan Juli 1997.
Ø Melemahnya
nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
Ø Banyak
perusahaan melakukan PHK dan banyak bank yang dilikuidasi.
Ø Angka
penganguran meningkat tajam.
Ø Harga
barang-barang melambung tinggi.
3. Krisis Sosial
Ø Terjadi
rekayasa dalam bidang peradilan.
Ø Angka
kriminalitas meningkat, bahkan terjadi penjarahan di kota-kota besar dan
perkebunan-perkebunan.
Ø Beban
rakyat semakin tinggi dengan naiknya TDL dan BBM.
Ø 1. 5 Mei 1998 : Senat
mahasiswa datang ke gedung DPR/MPR RI.
Ø 2. 12 Mei 1998 : Terjadi
peristiwa Trisakti.
Ø 3. 13 – 14 Mei : Terjadi
kerusuhan di jakarta dan beberapa kota lainnya.
Ø 4. 15 Mei : Presiden
Soeharto kembali dari KTT G-15 di Kairo.
Ø 5. 17 Mei : Muncul ide mempercepat pemilu dari Nurcholis Majid dan Sekretaris Negara
Saadilah Mursyid
Ø 6. 18 Mei : Mahasiswa
memutuskan tinggal di Gedung DPR/MPR RI.
: Pimpinan DPR/MPR, Harmoko, menghimbau Presiden
Soeharto mundur
: Panglima ABRI Jenderal Wiranto memberi tanggapan bahwa
himbauan Harmoko merupakan pendapat individu yang disampaikan secara kolektif.
Ø 7. 19 Mei : Presiden
Soeharto membentuk Komite Reformasi, mempercepat pemilu, dan tidak akan
mencalonkan diri lagi sebagai presiden.
Ø 8. 20 Mei : Peringatan
Hari Kebangkitan Nasional dengan melakukan aksi damai (Yogakarta) dan
demonstrasi besar-besaran di kota-kota besar.
Ø 9. 21 Mei : pada sekitar
pukul 10.00 WIB, Presiden Soeharto menyatakan mundur dari jabatan presiden dan
digantikan oleh B.J. Habibie.
Masa Pemerintahan B.J. Habibie
q Membuka
ruang bagi kebebasan termasuk kemerdekaan berserikat dan kebebasan pers.
q Membebaskan
para tahanan politik (tapol) Orde Baru.
q Memberi
peluang berlangsungnya pemilu yang demokratis pada tahun 1999.
q Lembaga
kepresidenan lebih longgar menerima kritik .
q Dikeluarkannya
UU No 9 tahun 1998 tentang unjuk rasa.
q Dilakukan
reformasi di dalam tubuh ABRI dan munculnya pendapat tentang penghapusan
dwifungsi ABRI.
q Lepasnya
Timor-Timur dari NKRI.
q Lambannya
proses peradilan Soeharto.
q Munculnya
3 UU tentang partai politik yang mendorong munculnya berbagai partai politik
hingga 48 partai.
q Menguatknya
nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hingga Rp. 7.000;
q Ditolaknya
pertanggungjawaban B.J. Habibie oleh MPR.
Kebijakan Pemerintahan Habibie
1. Merekapitulasi
perbankan.
2. Merekonstruksi
pemerintahan Indonesia.
3. Merekapitulasi
beberapa bank bermasalah.
4. Menaikkan
nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat hingga dibawah Rp.10.000.
5. Mengimplementasikan reformasi
ekonomi yang disyaratkan oleh IMF.
Masa Pemerintahan Abdurrahman Wahid
q Dibukanya
hubungan dagang dengan Israel.
q Dilakukan
pemecatan terhadap beberapa anggota kbinet persatuan.
q Adanya
memorandum dari DPR berkaitan dengan kasus Buloggate dan Bruneigate.
q MPR
meminta sidang istimewa untuk meminta pertanggungjawaban sebagai presiden.
q Kebijakan
yang kontroversial dan sikap mengganti anggota kabinet membuat pasar valas dan
saham fluktuatif.
q Presiden
mengeluarkan Dekret Presiden untuk membubarkan MPR-DPR.
q Kekuasaan
Abdurrahman Wahid dicabut oleh Sidang Umum MPR dan digantikan oleh Megawati
Soekarno Putri.
Masa Pemerintahan Megawati
Soekarno Putri
q Berdasarkan
survei CESDA LP3ES, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Megawati
rata-rata dibawah 50%.
q Dalam
penanganan masalah Aceh dan jaminan kebebasan pemerintahan cukup berhasil.
q Pemerintah
berhasil menarik investor luar negeri .
q Pemerintah
dinilai tidak optimal dalam pemberantasan KKN dan pengadilan HAM.
q Pada
akhir pemerintahannya, popularitas Megawati semakin menurun.
q Pada
pemilu presiden tahun 2004, Megawati gagal melaju menjadi presiden pada periode
kedua.
Masa Pemerintahan Susilo
Bambang Yudhoyono
q SBY
menjadi Presiden RI didampingi oleh Yusuf Kalla.
q Kinerja
SBY-JK dinilai kurang optimal sehingga reformasi seakan berjalan di tempat.
q Prioritas
pembangunan ekonomi:
ü Revitalisasi
sektor pertanian, pedesaan dan Usaha Kecil Menengah (UKM).
ü Penguatan daya saing nasional.
ü Percepatan iklim investasi yang sehat.
q Pada
tahun 2009, SBY kembali menjabat Presiden RI dengan Budiono sebagai wapres.
Lima Sektor Kebijakan Masa
Reformasi
1. Perluasan lapangan kerja secara terus
menerus melalui investasi dalam dan luar negeri.
2. Penyediaan kebutuhan barang-barang
pokok sehari-hari.
3. Penyediaan fasilitas umum seperti
rumah, air minum, listrik dan bahan bakar, komunikasi, dan angkutan dengan
harga terjangkau.
4. Penyediaan ruang sekolah, guru dan buku-buku untuk pendidikan umum dengan
harga yang terjangkau.
5. Penyediaan klinik, dokter, dan
obat-obatan untuk kesehatan umum dengan harga yang terjangkau.
Perkembangan Sektor Sosial
- Timbul kerusuhan antaretnis, misalnya antara
penduduk etnis Cina dengan pribumi atau pendatang Madura dan penduduk asli
di Sambas.
- Kerusuhan
agama, misalnya di Ambon dan poso.
- Kejahatan
sosial, misalnya di Jawa Timur dan Malang, yaitu rumor tentang gerombolan berbahaya, berpakaian
hitam ala ninja dan memiliki kekuatan supra natural.
- Rumor
dukun santet di Ciamis, Jawa Barat.
- Gerakan
separtais di Aceh, Timor-Timur, dan Papua (Irian Jaya).
- Maraknya
gerakan terorisme dan pemboman di Indonesia, mulai tahun 1998 di Plaza
Atrium Senen.
Komentar
Posting Komentar